hut

Cuaca Sebabkan Panen Petani Kopi di Bondowoso Turun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BONDOWOSO – Hasil panen kopi tahun ini tidak terlalu optimal. Beruntung, kondisi harga kopi di tingkat petani tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu.

Setidaknya itulah yang dirasakan petani kopi di Desa Tanah Wulan yang berada di Lereng Pegunungan Argopuro, Kecamatan Maesan, Bondowoso.

“Kalau tahun lalu, satu hektar kita bisa menghasilkan 3 ton. Tapi tahun ini hasil panen agak turun, cuma dapat 1 ton per hektar,” tutur Muhammad Arif Ansori Hadi, Sekretaris Kelompok Tani (Poktan) Sinar Tani, Desa Tanah Wulan kepada Cendana News, Senin (12/8/2019).

Penyebab turunnya hasil panen kopi ini adalah faktor yang tidak bisa dibendung, yakni cuaca tidak menentu.

Ada pun panen kopi berlangsung sekali dalam setahun, yakni sejak awal Juni hingga akhir Agustus nanti. “Ketika musim berbunga, terjadi kemarau, sehingga bunganya kering,  pecah dan gagal menjadi buah,” ujar Arif.

Beruntung harga kopi di tingkat petani tahun ini lebih baik dibanding musim panen tahun lalu. “Kita bisa menjual kopi Arabica dalam bentuk biji merah di kisaran Rp 11 ribu per kilo. Kalau tahun lalu hanya di kisaran Rp 9 ribu per kilo,” jelas Arif.

Faktor cuaca memang sulit untuk diantisipasi. Meski demikian, para petani kopi di Maesan sudah mencoba untuk meningkatkan kemampuan berkebun kopi.

Mereka antara lain telah mendapatkan pembekalan dari Puslit Koka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) dalam hal pencegahan hama dan pemilihan bibit.

“Kalau dulu biasanya kita menghadapi hama penggerek batang, tapi sekarang sudah tidak ada kendala karena ada penanganan yang efektif,” papar Arif.

Berkat penyuluhan dari para pakar, pemberantasan hama oleh petani kopi kini menggunakan cara-cara alami. Selain menekan biaya, hal itu juga bisa meningkatkan nilai jual kopi.

“Kita manfaatkan laba-laba karena hewan ini sebagai pembunuh alami dari hama tersebut. Jadi sekarang kita kalau ada laba-laba di pohon, tidak lagi kita bunuh,” ujar Arif.

Selain itu, petani kini juga dibiasakan untuk memilih bibit kopi yang terbaik. Dengan panduan dari para penyuluh, kini petani kopi bisa menggunakan strategi pemuliaan tanaman.

“Selama ini kita bertani hanya secara tradisional. Tapi secara bertahap mulai mengalami modernisasi,” papar Arif.

Produksi kopi selama lima tahun terakhir kini sedang digencarkan di Bondowoso. Bahkan daerah ini telah mengusung tagline baru, yakni Bondowoso Republik Kopi (BRK).

Selain produksi, kini sedang dirintis proses pendaftaran Indikasi Geografis (IG) agar kopi Bondowoso memiliki  cita rasa paten tersendiri.

“Semoga saja ini bisa semakin meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Bondowoso,” pungkas Arif.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!