hut

Desa Bubu Atagamu Flotim Dikenal Berkat Menjaga Laut

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Menjaga laut sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup satwa laut dan ekosistemnya. Ikan pun berkumpul kembali hingga ke pesisir pantai dan memudahkan masyarakat menangkapnya.

Kepala desa Bubu Atagamu kecamatan Solor Selatan kabupaten Flores Timur, NTT, Benediktus Basa Djawan. Foto : Ebed de Rosary

“Saat panen perdana rumpon milik kelompok Laskar Bahari, ternyata hasilnya ikan tangkapan meningkat drastis,” sebut Benediktus Basa Djawan, kepala desa Bubu Atagamu kecamatan Solor Selatan, kabupaten Flores Timur, Senin (5/8/2019).

Kejadian ini, kata Benediktus, menyebabkan masyarakat secara pribadi membuat rumpon sendiri. Kini, selain warga desa Bubu Atagamu, masyarakat desa sekitarnya pun mulai memasang.

“Kami senang desa kami menjadi target program dan masyarakat dibekali dengan pengetahuan menjaga eksositem laut. Desa kami pun dikenal di tingkat nasional dan diliput media-media besar sehingga sekaligus mempromosikan desa kami,” tuturnya bangga.

Masyarakat desa Bubu Atagamu kata Benediktus, hanya satu orang yang menjadi nelayan penuh. Sementara 11 orang lainnya merupakan nelayaan sambilan utama karena keterbatasan dana, sehingga tidak bisa membeli alat tangkap.

“Kami ada usulkan kapal ikan dan alat tangkap tapi kendalanya KTP masyarakat petani, bukan KTP nelayan. Kami berharap pemerintah kabupaten hingga pusat bisa memperhatikan nelayan di desa kami,” harapnya.

Benediktus bahkan meminta agar pemerintah membantu anggota kelompok Laskar Bahari dengan alat tangkap. Kelompok ini menurutnya telah berjasa menjaga laut meskipun tidak mendapatkan keuntungan secara pribadi.

“Kasihan mereka telah bekerja secara sukarela menjaga laut dan mencegah terjadinya pengeboman ikan. Awalnya masyarakat mencibir, tapi setelah berhasil banyak yang memujinya,” tuturnya.

Pemilik rumpon Donatus D.Lewuk pun mengakui, dulu saat aksi pengeboman marak masyarakat pun sangat kesulitan mandapatkan ikan. Biasanya saat belum ada bom, memanah atau memancing dengan peralatan sederhana di pesisir pantai selalu mendapatkan banyak ikan.

“Setelah aksi pengeboman marak ikan-ikan pun seolah hilang dan tidak pernah berada di dekat pesisir pantai. Masyarakat pun kesulitan menangkap ikan karena peralatan tangkapnya sederhana sekali, hanya senar dan kail saja atau panah,” sebutnya.

Menurut Donatus, kelompok ini sangat berjasa membuat ikan kembali mudah ditangkap dan memberikan keuntungan bagi banyak orang.

“Pemerintah bisa memberikan bantuan kapal ikan dan alat tangkap. Tetapi sebelumya harus dilatih dahulu penggunaannya termasuk perawatan pukat kalau untuk kapal lampara,” pintanya.

Kalau kapal berukuran kecil dengan daya angkut 5 sampai 6 orang melaut mungkin bisa. Tapi sebut Donatus, semuanya tergantung ketua kelompoknya dalam mengelola bantuan tersebut agar bisa bermanfaat.

“Adanya program ini membuat ikan mulai banyak. Kami pasang rumpon saja dua minggu sudah banyak ikan. Sebulan bisa beberapa kali panen dan menghasilkan uang puluhan juta rupiah,” pungkasnya.

Lihat juga...