hut

DLH Sumsel Sebut Polusi Kendaraan Lebih Parah dari Karhutla

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PALEMBANG – Polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor penyumbang terbesar Indeks Kualitas Udara (IKU) di kota Palembabng buruk dibandingkan dengan faktor Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang saat ini terjadi di beberapa wilayah yang ada di Sumatera Selatan.

Hal ini diungkapkan kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Edward Chandra, Rabu (21/8/2019). Ia mengatakan kualitas udara di Sumsel dipengaruhi oleh aktivitas dari manusia itu sendiri yakni kendaraan bermotor, Karhutla, dan aktivitas pabrik. Namun, dari ketiga faktor itu yang paling besar pengaruhnya adalah aktivitas kendaraan bermotor.

Edward Chandra, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumsel saat ditemui Cendana News, Rabu (21/8/2019) – Foto: Muhammad Chandra

“Penyumbang kualitas udara buruk di Palembang itu bukan dari Karhutla yang terjadi saat ini tetapi penyumbang terbesar itu malah dari kendaraan bermotor yang paling banyak menghasilkan gas CO,” kata Edward.

Apalagi, setiap tahunnya jumlah kendaraan bermotor terus meningkat secara signifikan. Hal itu yang menyebabkan faktor udara buruk di kota-kota besar di Indonesia.

Saat ini, Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) di kota Palembang masih menunjukkan kategori baik. Berdasarkan data dari DLHP Sumsel nilai ISPU mencapai 45.

Itu artinya, jika ISPU masih menunjukkan angka 45  masuk kategori baik. “Kalau di atas 100 itu kategorinya sudah buruk. Tapi sampai sekarang masih masuk kategori baik,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, produksi gas CO dari kendaraan bermotor nantinya harus terus ditekan. Salah satunya dengan memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) di seluruh daerah. Kemudian mengurangi konsumsi bahan bakar yang menghasilkan emisi tinggi seperti premium.

“Konsumsi premiumnya terus dikurangi. Agar pembakarannya sempurna dan gas CO yang dikeluarkan rendah,” pungkasnya.

Lihat juga...