hut

Dodol Khas Betawi, Kuliner yang Perlu Dilestarikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Beragam olahan kuliner khas daerah terus dipertahankan melalui berbagai kegiatan semacam festival kuliner, pameran atau perhelatan budaya.

Tak kecuali dodol khas Betawi terus dipertahankan dengan cara membawa serta kenceng atau wajan ukuran tertentu untuk mengenalkan cara mengolah dodol agar memiliki rasa legit dan manis.

“Saya setiap ikut festival atau mengisi stan suatu acara pasti membawa serta wajan. Untuk ukuran tergantung tempat jika memungkinkan saya buat dua untuk mengenalkan cara pengolahan dodol khas Betawi,” kata Sugi (45), pembuat dodol dari Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta, kepada Cendana News, Sabtu (31/8/2019).

Sugi, pembuat dodol dari Kampung Budaya Setu Babakan, saat ikut dalam Lebaran Betawi Pondok Melati, Sabtu (31/8/2019). Foto: Muhammad Amin

Menurutnya dengan membawa serta wajan yang telah diisi dodol pengunjung bisa melihat langsung cara pengolahan dodol khas Betawi. Mereka juga bisa belajar atau praktik mengaduk dodol agar mendapatkan hasil maksimal, kemudian berapa lama proses waktu membuat dodol.

Sugi sudah puluhan tahun melakoni bisnis kuliner khusus dodol khas Betawi. Dia mengaku sudah memiliki pelanggan tetap, terutama untuk acara besanan betawi, lebaran atau kegiatan lainnya.

Dia mengaku jika tidak diperkenalkan maka khawatir makanan dodol khas Betawi akan hilang. Karena dulu setiap rumah selalu membuat dodol setiap lebaran atau pun menghadapi hari besar lainnya. Begitu pun saat acara besanan keluarga berkumpul di waktu khusus untuk membuat dodol.

“Tapi sekarang kebanyakan mereka hanya beli, pesan ke tempat pembuat dodol. Budaya buat sendiri di rumah sudah hilang. Kalau tidak dikenalkan dengan cara begini maka lama-lama bisa hilang,” ujarnya.

Wajan dodol milik Sugi, di acara Lebaran Betawi, dengan kapasitas 10 liter ketan, jadi perhatian banyak ibu. Mampir untuk mengaduk dodol. Mereka terkesan masa lalunya saat kumpul keluarga dan mengolah dodol.

Bahkan sosok anggota DPR RI Mardani Alisera, ikut mampir dan mengaduk-aduk dodol dalam wajan yang tepampang di stan kuliner milik Sugi.

“Ini harus dilestarikan, karena dodol Betawi bagian dari budaya, di setiap acara pernikahan besanan dodol menjadi lambang perekat yang harus dibawa,” ungkapnya.

Kegiatan budaya adalah bagian tidak terpisahkan dari peradaban manusia. Tanpa budaya manusia sama dengan hewan. Budaya itu ada dua, ada budaya lokal dan global. Budaya lokal itu penuh dengan kearifan lokal salah satunya adanya  dodol Betawi.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!