hut

Dukung Lingkungan Sehat, SMPN 1 Rajabasa Pertahankan Sekolah Hijau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penghijauan di lingkungan sekolah menjadi pendukung aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar yang nyaman. Salah satu sekolah yang mempertahankan lingkungan tetap hijau diantaranya SMPN 1 Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel).

Endang Suryani, M.Pd, kepala sekolah setempat menyebut sekolah hijau menjadi upaya membuat sekolah nyaman untuk ditempati.

Penciptaan lingkungan sekolah hijau diakui Endang Suryani cukup penting karena menjadi tempat tinggal kedua. Memiliki sebanyak 12 kelas dengan sebanyak 349 siswa sekolah, Endang Suryani ingin siswa dan guru tetap nyaman karena lingkungan sekolah nyaman.

Endang Suryani, M.Pd, Kepala Sekolah SMPN 1 Rajabasa Lampung Selatan di depan halaman sekolah yang menghijau dengan penataan untuk menjaga berbagai jenis tanaman penghijauan, Rabu (14/8/2019) – Foto: Henk Widi

Sekolah yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tanaman berbunga sudah mulai dipertahankan sejak sekolah tersebut berdiri tahun 1994.

Mempertahankan sekolah yang hijau disebut Endang Suryani bukanlah hal yang mudah. Terlebih saat musim kemarau kebutuhan air berkurang namun dengan adanya Gunung Rajabasa, air untuk menyiram tanaman di lingkungan sekolah terjaga.

Tanaman ketapang laut, asam jawa, kaliandra, mahoni, trembesi, serta berbagai jenis bunga tetap dipertahankan. Tugas merawat dan menjaga tanaman disebutnya dilakukan oleh para siswa yang diajak memiliki kesadaran pentingnya menjaga keasrian sekolah.

“Sekolah dengan ruang dan lingkungan mendukung untuk proses belajar ikut mendukung prestasi siswa sekaligus memberi tanggung jawab siswa melalui kelas melakukan pemeliharaan dan perawatan,” ungkap Endang Suryani saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (14/8/2019).

Lingkungan sekolah di Desa Kunjir, salah satu desa terdampak tsunami 22 Desember 2018 silam sekaligus memberi kesadaran pentingnya menjaga lingkungan. Sebab meski berjarak ratusan meter dari bibir pantai namun sebanyak 85 siswa SMPN 1 Rajabasa ikut terdampak tsunami.

Pentingnya menjaga lingkungan sekolah disebutnya seiring dengan program pemerintah untuk menanam pohon sebagai benteng alami mencegah tsunami.

Langkah konkrit yang dilakukan sekolah diakui Endang Suryani dengan mempercantik sekolah. Fungsi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) disebutnya melakukan penanaman bunga yang dilakukan setiap tahun ajaran baru.

Memasuki tahun ajaran baru 2019/2020 taman-taman sekolah ditanami dengan bibit bunga baru. Sejumlah media tanam berupa pot, polybag disediakan pada teras kelas.

“Tanggungjawab yang saya tekankan agar siswa merasa memiliki sekolah sebagai tempat tinggal yang nyaman untuk belajar,” timpal Endang Suryani.

Sejumlah pohon rindang yang ditanam disebut Endang Suryani bahkan berusia puluhan tahun sebelum sekolah berdiri. Membentuk kanopi sebagai peneduh untuk lingkungan sekolah, sejumlah pohon dilengkapi dengan tempat duduk.

Lahan di sekolah yang berfungsi sebagai media tanam untuk menciptakan sekolah Adiwiyata menjadi tempat bersantai. Saat jam istirahat dengan adanya taman, siswa bisa menenangkan pikiran dan bisa digunakan untuk belajar luar kelas.

Tugas pemeliharaan dan perawatan disebut Endang Suryani ditugaskan pada OSIS, wali kelas dan siswa. Strategi menciptakan lingkungan sekolah yang bersih diakuinya dengan melakukan pemilihan taman kelas terbaik.

Cara tersebut mendorong siswa melakukan pemeliharaan dan perawatan dengan menyiram, memberi pupuk agar tanaman tumbuh subur. Pemilihan waktu saat istirahat, sebelum belajar dan pulang sekolah membuat kegiatan menciptakan taman asri tidak mengganggu jam belajar.

Tujuan besar dari lingkungan sekolah hijau diakui Endang Suryani merupakan cara menciptakan lingkungan sehat. Lingkungan sehat ditandai bebas polusi juga mencegah lingkungan sekolah tercemar.

Program sekolah hijau disebutnya dilakukan dengan membuat apotek hidup, membuat kotak sampah dan menyusun piket kebersihan. Sejumlah kegiatan kepedulian lingkungan sebagai bagian peningkatan pendidikan karakter juga dilakukan melalui kegiatan Pramuka.

Pohon peneduh diantaranya ketapang, kaliandra, asam dan berbagai tanaman bunga menjadikan SMPN 1 Rajabasa terlihat asri, Rabu (14/8/2019) – Foto: Henk Widi

Asih Kurniawati, salah satu guru kelas SMPN 1 Rajabasa menyebut lingkungan hijau mendukung kegiatan belajar. Sejumlah pohon peneduh yang ada di lingkungan sekolah disebutnya bisa dipergunakan untuk membaca buku.

Terlebih guru bidang studi Bahasa Indonesia tersebut memiliki program optimalisasi gerakan literasi di sekolah. Melalui kegiatan membaca buku di perpustakaan, kegiatan membaca buku 15 menit bisa dilakukan di sejumlah taman yang memiliki pohon rindang.

Sejumlah buku dukungan terkait sejumlah tanaman dan cara merawat lingkungan disebutnya terus ditambah. Sebab sebagian tanaman di lingkungan sekolah menjadi sarana untuk belajar.

Sejumlah tanaman dengan nama ilmiah tertentu menjadi tugas bagi siswa untuk mendekatkan diri dengan lingkungan. Selain itu sekolah juga melakukan tata tertib kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah dengan gerakan cinta kebersihan lingkungan sekolah.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!