hut

F1QR Koarmada I, Gagalkan Penyelundupan Bayi Lobster

Danlantamal IV Laksma TNI Arsyad Abdullah memberikan keterangan pers terkait penggagalan upaya penyelundupan bayi lobster di Batam, Senin (12/8/2019) - Foto Ant

BATAM – Tim Satgasgab F1QR Koarmada I, menggagalkan upaya penyelundupan 91.630 ekor bayi lobster jenis mutiara dan pasir. Komoditas yang akan diselundupkan tersebut bernilai Rp13,8 miliar.

“Kami berhasil menangkap speedboat bermesin 200 PK dua unit merk Yamaha, di Perairan utara Pulau Sugi,” kata Danlantamal IV, Laksma TNI Arsyad Abdullah, di Batam, Senin (12/8/2019).

Sebanyak 91.630 ekor baby lobster itu dikemas dalam 15 kotak pendingin sterofoam. Satu kotak memuat baby lobster jenis mutiara dan 14 kotak lainnya jenis pasir. Sebanyak 14 kota sterefoam memuat 473 kantong baby lobster jenis pasir berjumlah total 89.804 ekor. Dan satu kotak sterefoam berisi 20 kantong jenis mutiara berjumlah 1.826 ekor.

Berdasarkan harga pasar terakhir, satu ekor baby lobster jenis pasir dihargai Rp150.000. Sedangkan untuk jenis mutiara dihargai Rp200.000. Sehingga total penyelamatan mencapai lebih dari Rp13 miliar.

Sejak awal tahun, Koramada sudah tiga kali menangkap kapal penyelundup bayi lobster di Perairan Kepri. “Keberhasilan ini bukan pertama kalinya yang dilaksanakan oleh Tim gabungan F1QR, berkat informasi di lapangan yang diperoleh selanjutnya Tim F1QR bergerak menuju sasaran dan segera melakukan upaya penyekatan dengan membagi sektor,” tandasnya.

Kapal cepat tanpa nama, dihentikan di sekitar Pulau Sugi Batam saat menuju Singapura dengan kecepatan sekitar 50 knot. Pengejaran dilakukan oleh Tim Satgasgab F1QR Koarmada I dengan menggunakan speedboat dari arah Pulau Moro sampai arah Tanjung Semokol Perairan Sugi.

Aparat berhasil mengamankan tiga orang tersangka kurir hewan dilindungi itu. “Karena merasa terkepung oleh speedboat dari Tim Satgasgab F1QR Koarmada I, akhirnya speedboat tanpa nama berhasil ditangkap dan speedboat berhasil diamankan oleh Tim F1QR,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Stasiun BKIPM Batam, Agung, mengatakan, berbeda dengan penangkapan sebelumnya, yang tanpa tersangka. Maka kasus itu akan dilanjutkan hingga penegakkan hukum.

Sehingga, proses pelepasliaran baby lobster harus menunggu sampai ada ketetapan hukum. “Kalau sebelumnya langsung dilepasliarkan karena tidak ada tersangka, maka kini harus menunggu incracht, yang kami harapkan bisa segera,” tandasnya.

Sambil menunggu ketetapan hukum pihaknya akan berusaha melakukan penyegaran dan perawatan agar hewan yang dilindungi itu tidak mati. (Ant)

Lihat juga...