hut

Gurih, Pedas Pepes Ikan Tongkol Khas Denpasar

Editor: Koko Triarko

DENPASAR – Pepes atau Pais, merupakan salah satu kuliner Nusantara asal Jawa Barat, yang melegenda. Biasanya, di beberapa daerah ada yang mengkreasikannya dengan bahan baku khas daerahnya, misalnya pepes ayam, pepes ikan, pepes botok kelapa dan lainnya. Namun, pepes yang paling sering ditemui, yaitu pepes ikan, yang biasanya berbahan baku ikan tuna atau tongkol. 

Ratina, salah seorang penjual nasi di kawasan Kota Denpasar, mengaku kerap menyediakan pepes ikan tongkol di warungnya. Hal ini karena pepes ikan merupakan salah satu lauk pauk favorit di warungnya. “Pepes ikan tongkol ini banyak dicari oleh pelanggan,” kata Ratina, saat ditemui Sabtu, (10/8/2019).

Menurut Ratina, cara membuat pepes ikan diawali dengan menghaluskan bumbu dan rempah, lalu ditambah daun kemangi, tomat, dan cabai dibalurkan bersama ikan tongkol yang sudah dibersihkan. Kemudian, semuanya dibungkus dengan daun pisang dan disemat dengan dua buah bambu kecil di setiap ujungnya.  Bungkusan ini lalu dibakar (dipepes) di atas api atau bara api dari arang sampai mengering.

“Tapi, bisanya ikan tongkol kami pindang terlebih dahulu, karena biar matang dan baunya harum saat dibakar,” imbuh wanita asal Wongsorejo, Banyuwangi ini.

Ratina, salah seorang penjual nasi di kawasan Kota Denpasar yang menyediakan Pepes atau Pais, saat ditemui Sabtu (10/8/2019). -Foto: Sultan Anshori

Setiap hari, Ratina mengaku biasa membuat pepes ikan tongkol sebanyak 30 hingga 50 bungkus. Dalam satu ikan atau satu bungkus pepes ikan tongkol, berisi separuh daging tongkol. Sementara harga jualnya Rp5.000 rupiah per bungkus.

Jika kebetulan tidak musim ikan, biasanya ia membuat pepes berbahan dasar lain, seperti telur, ikan air tawar dan udang tambak.

Pepes memang menjadi salah satu lauk yang paling digemari oleh masyarakat. Selain manis pedas, kuliner yang satu ini kaya dengan manfaat, karena terbuat dari bahan-bahan alami.

Sulastomo, salah seorang pelanggan, mengaku suka dengan kuliner yang satu ini, karena rasanya yang nikmat. “Apalagi dimakan dengan nasi yang masih hangat dengan tambahan kuah daun kelor. Rasanya tidak kalah dengan masakan di restoran,” katanya.

Sulastomo berharap, pepes ikan tongkol ini makin familiar tak hanya bagi masyarakat lokal, lebih-lebih bagi masyarakat internasional, karena Bali merupakan tempat wisata.

“Bali ini kan muaranya wisatawan dunia, saya berharap kepada para guide agar sesekali mengarahkan tamunya untuk makan di warung tradisional seperti ini. Selain untuk meningkatkan perekonomian kecil, juga sebagai upaya mengenalkan kuliner Nusantara kepada dunia,” tandas pria asal Surabaya ini.

Lihat juga...