hut

Harga Anjlok, Petani Lamsel Pilih Tebang Kelapa Sawit

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah petani kelapa sawit di Lampung Selatan (Lamsel) pilih tebang tanaman akibat harga anjlok.

Kamto, petani kelapa sawit di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, harga tandan segar buah sawit (TBS) terus merosot. Pada bulan Mei ia sempat menjual per kilogram TBS sawit seharga Rp1.200. Memasuki awal Agustus harga TBS hanya mencapai Rp600 per kilogram.

Penurunan harga membuat petani memilih komoditas pertanian yang lebih cepat panen. Sebanyak 400 tanaman kelapa sawit terpaksa ditebang selama musim kemarau.

Proses penebangan dilakukan bertahap dengan pemangkasan pelepah. Setelah pemangkasan pelepah selanjutnya ditebang bagian batang. Butuh waktu sepekan untuk proses pembersihan lahan tanaman sawit miliknya.

Rencananya tanaman kelapa sawit akan diganti dengan tanaman jagung dan pisang. Tanaman kelapa sawit usia 8 tahun diakuinya mengalami penurunan hasil semenjak berbuah pada usia 4 tahun.

Proses pemanenan kelapa sawit dengan dodos oleh petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Senin (19/8/2019) – Foto: Henk Widi

Selama empat tahun ia menyebut setiap setengah bulan bisa memanen sekitar 8 kuintal. Selanjutnya hasil panen menurun hingga maksimal 4 kuintal. Hasil yang terus menurun membuat ia mengambil keputusan menebang seluruh pohon sawit miliknya.

“Setelah selama delapan tahun hasil panen tidak maksimal dan harga anjlok saya memutuskan untuk melakukan penebangan pohon sawit agar bisa ditanami komoditas pertanian lain,” ungkap Kamto saat ditemui Cendana News, Senin (19/8/2019).

Harga TBS sawit yang terus menurun disebutnya membuat biaya operasional tidak sebanding. Sesuai dengan perhitungan ia menyebut normalnya harga TBS sawit akan menguntungkan saat harga mencapai Rp1.000 per kilogram.

Sebab saat proses pemanenan ia kerap menggunakan jasa tukang petik. Tukang petik disebutnya dibayar dengan sistem borongan Rp70.000 sekali panen.

Biaya operasional disebutnya relatif murah karena lokasi panen dekat dengan jalan raya. Sejumlah petani kelapa sawit bahkan mengeluarkan biaya ekstra saat akses jalan sulit dicapai.

Sebagian petani kelapa sawit bahkan mempergunakan jasa ojek untuk sampai ke lokasi pengepulan. Biaya operasional yang tetap namun harga anjlok membuat ia memutuskan menebang seluruh tanaman kelapa sawit miliknya.

Petani lain bernama Sardi menyebut, terakhir melakukan panen saat harga  TBS sawit mencapai Rp600 per kilogram.

Sardi, petani kelapa sawit melakukan proses penebangan pohon kelapa sawit akibat hasil produksi menurun, Senin (19/8/2019) – Foto: Henk Widi

Meski pernah menjual TBS sawit hingga harga Rp1.900 saat tanaman memasuki usia 12 tahun, namun akibat harga terus anjlok, biaya operasional tinggi membuat ia memilih memusnahkan tanaman miliknya. Ia menyebut, normalnya tanaman usia lebih dari 10 tahun masih produktif.

“Petani kecewa karena harga terus anjlok dengan biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil panen,” papar Sardi.

Sardi menyebut proses pemusnahan batang kelapa sawit memanfaatkan racun insektisida. Racun insektisida diletakkan pada bagian pucuk dan batang. Pada bagian pucuk dan batang disebutnya membutuhkan waktu hingga enam bulan.

Tanpa proses penebangan batang ia menyebut pohon kelapa sawit akan mudah membusuk. Saat proses pembusukan batang ia menyebut lahan bisa digunakan untuk menanam jagung dan pisang.

Penanaman jagung dan pisang disebutnya lebih menguntungkan. Sebab saat musim penghujan ia bisa menanam jagung yang bisa dipanen saat usia 110 hari.

Sementara tanaman pisang bisa di sela-sela tanaman jagung. Proses pemanenan yang lebih cepat diakuinya lebih menguntungkan daripada menanam kelapa sawit.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!