hut

Jaga Ekosistem Perairan Lamsel, Nelayan Gunakan API Ramah Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah nelayan di wilayah pesisir Lampung Selatan (Lamsel) mempertahankan alat penangkapan ikan (API) ramah lingkungan.

Suhardi, nelayan di Dusun Keramat, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang menyebut API ramah lingkungan mendukung mata pencaharian nelayan di pesisir timur Lamsel tersebut. Jenis alat tangkap berupa pancing rawe dasar, bubu kawat dan rumpon masih jadi alat mendapatkan ikan.

Proses mencari ikan di perairan timur Lampung menurut Suhardi dilakukan di sekitar pulau Rimau Lunik dan Rimau Balak. Berbagai sosialisasi larangan menggunakan API tidak ramah lingkungan disebutnya gencar dilakukan.

Penggunaan trawls atau pukat harimau, bahan peledak, racun ikan jenis sianida juga dilarang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kepolisian Perairan.

Penggunaan alat tangkap yang dilarang jenis trawls masih kerap digunakan sebelum tahun 2015. Namun secara perlahan nelayan mengganti API ramah lingkungan setelah terbitnya Peraturan Menteri KKP Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seinen nets).

Meski sempat menurunkan penghasilan nelayan Suhardi menyebut, penghentian penggunaan alat tersebut memiliki dampak positif bagi lingkungan laut.

“Penggunaan API tidak ramah lingkungan, racun ikan berimbas merusak terumbu karang di wilayah pesisir namun dengan adanya penyuluhan dari instansi terkait nelayan mulai melakukan perubahan pola penangkapan ikan,” ungkap Suhardi, salah satu nelayan saat ditemui Cendana News, Rabu (14/8/2019).

Suhardi dan sejumlah nelayan lain bahkan menyebut sejumlah nelayan mulai beralih melakukan sistem budidaya. Sistem budidaya yang dilakukan sebagian memakai keramba jaring apung (KJA) dan keramba jaring tangkap.

Pola tersebut diterapkan Suhardi diantaranya untuk budidaya kerapu, lobster dan kepiting. Setelah ditangkap memakai bubu, selanjutnya hasil tangkapan dibesarkan pada keramba hingga siap dijual.

Dalam sekali menangkap ikan ia mengaku mendapatkan hasil Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari dengan tangkapan ikan dasar. Proses pemasangan alat tangkap bubu kawat kerap dilakukan pada sejumlah rumpun mangrove.

Bubu kawat disebut Suhardi dipasang pada pagi hari dan akan diambil sore hari. Bubu kawat kerap diberi umpan usus ayam dan umpan ikan kecil.

“Lingkungan pesisir yang masih terjaga dengan adanya tanaman mangrove ikut menjadi sumber penghasilan bagi nelayan, dan pencarian ikan berkelanjutan,” papar Suhardi.

Pohon bakau yang tumbuh secara alami menjadi habitat ikan sekaligus penahan gelombang dan angin di pantai timur Lampung Selatan, Rabu (14/8/2019) – Foto: Henk Widi

Lingkungan perairan dengan ekosistem mangrove, terumbu karang untuk habitat ikan menarik disebutnya kerap dijadikan tempat menyelam. Proses penyelaman juga menjadi sarana untuk mencari ikan karang mempergunakan tombak.

Meski cara-cara tradisional masih dipertahankan ia memastikan nelayan masih bisa mendapat hasil untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara ikan yang dibudidayakan dengan KJA bisa dipanen setiap bulan.

Pelarangan API yang merusak lingkungan perairan juga disambut positif nelayan pesisir Bakauheni. Rohman, warga Dusun Muara Piluk, pencari kepiting, lobster dan kerapu mengaku memakai keramba jaring tancap.

Keramba tersebut dipergunakan untuk membesarkan kepiting dan lobster yang ditangkap. Sebab sesuai aturan kepiting dan lobster di bawah 250 gram dan bertelur dilarang dijual.

“Aturan yang ketat terkait penggunaan alat tangkap tentunya akan menguntungkan bagi nelayan karena ekosistem tetap terjaga,” timpal Rohman.

Rohman dan nelayan tradisional mengaku menjaga laut bisa dilakukan dengan alat tangkap ramah lingkungan.

Sebab lokasi penangkapan ikan nelayan tradisional memakai perahu ketinting ada di pulau Kelapa, pulau Dua, pulau Kandang Balak dan Kandang Lunik. Sebagian hasil tangkapan yang belum bisa dijual menurut Rohman akan dibesarkan.

Meski butuh waktu lama pembesaran, jenis kerapu dan lobster memiliki harga jual tinggi. Jenis lobster mutiara dan bambu yang berukuran 500 gram disebutnya bisa dijual seharga Rp400.000 hingga Rp500.000,demikian juga dengan kerapu.

Hasil tangkapan tersebut tidak akan diperoleh jika habitat dirusak dengan memakai zat beracun dan bahan peledak.

Opung, salah satu warga Desa Bakauheni memperlihatkan ikan japu yang ditangkap mempergunakan bagan apung sebagai alat tangkap ramah lingkungan, Rabu (14/8/2019) – Foto: Henk Widi

Nelayan lain bernama Opung mengaku memilih bagan apung sebagai alat tangkap ramah lingkungan. Bagan apung disebutnya bisa ditempatkan pada sejumlah perairan yang membentuk teluk.

Penggunaan bagan apung memanfaatkan jaring khusus untuk menangkap ikan japu, kurisi, pepirik dan ikan teri.

Penggunaan bagan apung disebutnya bisa ikut meminimalisir penggunaan API tidak ramah lingkungan. Meski demikian sesuai siklus, nelayan masih bisa mendapatkan hasil tangkapan ikan berkelanjutan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!