hut

Jika Jadi IKN, Kaltim Akan Andalkan Industri Manufaktur

Editor: Koko Triarko

BALIKPAPAN – Industri manufaktur akan menjadi sektor andalan yang akan menopang perekonomian Kalimantan Timur, jika provinsi ini ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara. Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, mengatakan, sektor manufaktur akan menggantikan industri pertambangan yang sudah menjadi andalan provinsi itu selama puluhan tahun.

“Cepat atau lambat (industri) pertambangan itu akan tergeser. Baik secara alamiah maupun akibat transformasi ekonomi,” kata Isran Noor, di Balikpapan, Kamis (22/08/2019).

Menurut Gubernur, sektor unggulan yang potensial adalah industri hilir perkebunan dan batu bara, manufaktur, konstruksi akibat percepatan pembangunan infrastruktur.

Selain itu, akan tumbuh sektor jasa dan perdagangan yang mendukung aktivitas IKN, serta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Provinsi Kaltim mencatat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp638,12 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi 2,7 persen dan inflasi 3,24 persen sepanjang 2018.

Dengan realisasi pemindahan Ibu Kota Negara di wilayah ini, diperkirakan terjadi peningkatan bidang perekonomian. Seperti produksi, konsumsi, distribusi barang-jasa, terbukanya lapangan pekerjaan, berkurangnya angka pengangguran dan kemiskinan, peningkatan income per kapita masyarakat.

Sementara itu, Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, menyatakan kesiapannya mengambil peran lebih aktif untuk mendorong Kaltim sebagai Ibu Kota Negara.

“Di mana pun tempatnya, pada akhirnya Balikpapan akan memiliki posisi strategis, karena itu kami akan mengambil peran awal berupa menyiapkan lokasi-lokasi pertemuan untuk membahas IKN,” kata mantan wartawan ini.

Menurut Rizal Effendi, pada akhirnya Balikpapan akan menjadi kota penyangga, meski bukan ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara. Ini karena posisi Balikpapan lebih dekat dengan lokasi IKN, baik di Bukit Soeharto, Kabupaten Kutai Kartanegara, maupun di kawasan Sotek, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Walau peluang untuk Bukit Soeharto mulai berkurang, karena merupakan kawasan Taman Hutan Raya atau Tahura yang terdapat hutan lindung.

“Karena Balikpapan lebih dekat, jadi pembahasan-pembahasan lebih rinci pasti banyak berlangsung di Balikpapan,” ujarnya.

Selain itu, arus barang atau logistik dan juga orang akan banyak terjadi di kota berjuluk Madinatul Iman ini. Mengingat Kota Balikpapan memiliki dua pintu utama, yakni Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan dan Pelabuhan Semayang.

“Jadi, pasti ada kesibukan di sini pada waktu pelaksanaan. Balikpapan tetap berfungsi tinggi sebagai penyangga ibu kota,” sebutnya. Bahkan, ia optimis berbagai proyek pembangunan dan pengembangan infrastrukur akan makin pesat. Salah satunya perpanjangan landasan pacu Bandara SAMS Sepinggan menjadi 3.000 meter.

Begitu pula dengan Institut Teknologi Kalimantan yang diyakini Rizal akan menjadi proyek strategis nasional di bidang pendidikan dan pembangunan kompetensi sumber daya manusia.

Rencana memindahkan Ibu Kota Negara ke wilayah Kalimantan Timur secara gamblang baru diucapkan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil. Namun, Presiden Joko Widodo sejauh ini baru mengucapkan “Kalimantan”, tanpa embel-embel apa pun, sebagai lokasi ibu kota negara yang baru.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!