hut

Karantina Lampung Fasilitasi Pengiriman Daging Celeng Secara Legal

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Pengiriman daging babi hutan atau celeng melaluu Lampung difasilitasi secara resmi. Hal itu menjadi respon masih maraknya pengiriman secara ilegal.

Pihak intelejen, dalam hal ini Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni dan Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandar Lampung, tetap mencegah terjadinya pengiriman daging celeng secara ilegal.

Muhamad Jumadh,Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung (tengah) usai pemusnahan media pembawa hewan karantina di Bakauheni, Rabu (28/8/2019) – Foto Henk Widi

Drh. Muhamad Jumadh, Kepala BKP Kelas I Bandar Lampung menyebut, telah mengedukasi dan memfasilitasi para pelaku usaha. Pengiriman daging celeng secara legal, untuk kebutuhan kebun binatang di Ragunan dan Bali. Di pekan terakhir Agustus, BKP Kelas I Bandar Lampung disebutnya, memfasilitasi pengiriman 15 ton daging celeng asal Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan menuju Makassar, Sulawesi Selatan.

Pengiriman daging celeng secara legal melewati beberapa prosedur, seperti pengurusan surat izin dari wilayah asal, sertifikat veteriner, alat angkut berpendingin (cold storage). Sebagai upaya menjaga kepastian pengiriman, setibanya di Pelabuhan Bakauheni, petugas karantina melakukan pemeriksaan dokumen, kelayakan alat angkut, kebenaran dan keutuhan segel sesuai dokumen yang menyertainya.

“Pada segel akan dipasang pin GPS dengan tujuan pengemudi tidak akan melakukan penyelewengan pengiriman. Sehingga dapat dipantau ke lokasi tujuan, atau membongkar muatan sebelum tiba di lokasi yang sudah ditentukan,” ungkap Muhamad Jumadh di Bakauheni, Rabu (28/8/2019)

Fasilitasi dilakukan, untuk memutus mata rantai pengiriman secara ilegal. Tujuan akhir dari kegiatan tersebut, untuk mencegah masuk dan tersebarnya penyakit hewan dan tumbuhan. Di Sepanjang 2019, tercatat Karantina Lampung berhasil menahan 14.800 kilogram daging celeng asal Sumatera Selatan. Sejumlah tujuan dari pengiriman ilegal tersebut diantaranya, Cengkareng, Jati Asih Jawa Barat.

“Melihat banyaknya upaya melalulintaskan daging celeng secara ilegal, perlu adanya edukasi masyarakat karena keuntungan daging celeng strategis bagi sejumlah pelaku usaha,” beber Muhamad Jumadh.

Daging celeng legal, diperuntukkan bagi pakan satwa kebun binatang. Dan daging celeng bisa diperjualbelikan dengan pengawasan. Pada sejumlah kasus pengiriman ilegal sepanjang Juli hingga Agustus 2019, hasil pemeriksaan fisik daging dikirim tanpa alat angkut berstandar. Akibat tanpa alat pendingin, didapati daging berbau busuk dan berwarna tidak normal. Kondisi itu berbahaya bagi kesehatan manusia.

Selain itu daging tidak memenuhi standar kesehatan masyarakat veteriner yaitu aman,sehat,utuh dan halal (ASUH). Daging dan kulit celeng yang tidak diolah secara higienis, bisa menularkan penyakit.

Lihat juga...