hut

KBM di SMAN 4 Rangkasbitung Terkendala Ruang Kelas

Ilustrasi pelajar SMA - Foto: Dokumentasi CDN

LEBAK — Para pelajar di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, melaksanakan kegiatan belajar mengajar saling berdesakan sehingga berdampak terhadap kualitas pendidikan.

“Kegiatan belajar mengajar di sini dipadati siswa hingga mencapai 40 orang/kelas. Kondisi itu sangat tidak layak dan memprihatinkan,” kata Kepala Plh SMAN 4 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kahfi di Lebak, Jumat (16/8/2019).

Lokasi SMAN 4 Rangkasbitung berada di perbatasan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang dan sejak berdiri dua tahun terakhir hingga kini belum memiliki sarana gedung sendiri.

Selain itu juga tidak memiliki guru berstatus PNS dan merekrut sebanyak 14 guru berstatus tenaga suka rela dengan gaji Rp300.000/bulan.

Selama ini, proses KBM terpaksa menumpang di SMPN 5 Rangkasbitung dengan disediakan dua ruangan kelas itu.

Kondisi demikian, pihak sekolah memberlakukan proses KBM bergantian dengan jadwal pagi hari pukul 07.15 WIB dan siang hari pukul 12.30 WIB.

Pergantian jadwal pembelajaran agar proses KBM berjalan baik akibat terbatasnya sarana pendidikan itu.

Proses KBM tersebut,kata dia, jumlah siswa sebanyak 160 orang dan dijadikan empat rombongan belajar (rombel).

“Saya kira terbatasnya ruangan kelas itu sangat tidak layak karena siswa saling berdesakan dan tak merasa nyaman dalam menerima pembelajaran,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah Provinsi Banten segera merealisasikan pembangunan gedung pendidikan SMAN 4 Rangkasbitung.

Sebab, saat ini proses KBM tidak layak, sehingga berdampak terhadap pendidikan di Banten.

Apalagi, proses KBM menumpang di SMPN 5 Rangkasbitung dan jika berlangsung lama tentu merasakan tidak nyaman.

“Kami berharap tahun 2020 bisa direalisasikan gedung SMAN 4 Rangkasbitung itu,” katanya.

Menurut dia, siswa yang belajar di sini kebanyakan dari pelosok-pelosok kampung yang tersebar di Desa Citeras, Kolelet, Pabuaran, Mekarsari, Citeras dan Nameng.

Kebanyakan siswa itu awalnya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA akibat faktor lilitan kemiskinan juga budaya warga setempat yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting.

Oleh karena itu, pihaknya bekerja keras untuk menyelamatkan generasi bangsa dengan mendatangi anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan tersebut dan menawarkan pendidikan gratis.

“Karena pendidikan gratis itu, maka banyak anak-anak di pelosok kampung di sini melanjutkan pendidikan,” katanya menjelaskan.

Sejumlah siswa kelas 10 dan 11 mengaku bahwa mereka sangat tidak nyaman mengikuti KBM,karena berdesakan juga ditambah sarana mobiler yang tidak laik.

Selain itu juga ruangan kelas sangat pengap dan gelap,sehingga kosentrasi belajar merasa terganggu.

“Kami minta sarana sekolahnya itu sebagai tempat menimba ilmu memiliki gedung sendiri, sehingga merasa aman, nyaman dan tenang,” kata Siti, siswa kelas 10 SMAN 4 Rangkasbitung. (Ant)

Lihat juga...