hut

Kemarau, Kebutuhan Gas Subsidi di Lampung Selatan Meningkat

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Kebutuhan bahan bakar gas elpiji ukuran tiga kilogram di Lampung Selatan meningkat. Peningkatan terjadi di kegiatan pertanian dan usaha kecil.

Hasan, agen elpiji menyebut, tren kenaikan penggunaan elpiji terjadi sejak dua bulan terakhir. Pasokan ke pengecer di Kecamatan Penengahan, Ketapang, Bakauheni dan Palas, kerap lebih cepat habis.

Sebelumnya, saat musim penghujan, dari stok 560 tabung gas subsidi, yang terdistribusi ke puluhan pengecer habis dalam waktu dua pekan. Hal yang sama terjadi pada tabung gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram atau Bright gas.

Saat kemarau, sebagian gas dipakai untuk bahan bakar pengganti premium mesin sedot air. Kebutuhan air untuk pembuatan adonan tanah batu bata hanya bisa diperoleh dari sungai dengan proses memompa.

Selain untuk pembuatan batu bata, juga untuk menyedot air bagi lahan pertanian. “Penggunaan gas untuk bahan bakar dengan konverter kit pengganti bahan bakar premium dianggap lebih efesien, selain itu penggunaan juga tidak dilarang hanya saja distributor, agen harus lebih sering melakukan pendistribusian,” ungkap Hasan kepada Cendana News, Selasa (13/8/2019).

Supriadi,salah satu pembuat batu bata di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas Lampung Selatan melakukan proses pemompaan air menggunakan mesin sedot berbahan bakar gas elpiji 3 Kg, Selasa (13/8/2019) – Foto Henk Widi

Hasan menyebut, dasar penggunaan gas elpiji bagi petani dan nelayan sudah diatur. Peraturan Presiden No.38/2019, petani dan nelayan boleh mempergunakan tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram.

Kuota kebutuhan dari distributor masih belum dinaikkan. Saat stok di pengecer habis, distribusi segera dilakukan oleh agen. Harga yang ditawarkan ke pengecer masih stabil di kisaran Rp25.000 untuk gas melon, Rp75.000 untuk ukuran 5,5 Kg dan Rp130.000 untuk ukuran 12 kg.

Supriadi, produsen batu bata di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas menyebut, sejak 2015 sudah beralih menggunakan mesin pompa berbahan bakar gas elpiji. Gas subsidi di wilayahnya dijual Rp27.000 per-tabung. “Mesin pompa air berbahan bakar gas elpiji sudah mulai dilakukan oleh para perajin batu bata untuk menekan biaya dibanding memakai premium dan solar,” terang Supriadi.

Alat konversi gas elpiji hasil modifikasi dibeli Rp70.000. Sebagian pembuat batu bata saat ini mulai beralih menggunakan konverter kit, yang mulai dijual di pasaran. Berdasarkan perhitungan Supriadi, untuk bahan bakar minyak dalam sehari menghabiskan biaya Rp48.000. BBM jenis pertalite dibeli eceran seharga Rp8.000 per-liter. Sementara dengan gas elpiji, untuk tabung gas elpiji subsidi dibeli Rp27.000, dan bisa dipergunakan selama kurang lebih sembilan jam.

Lihat juga...