hut

Kemarau, Nelayan di Pesisir Timur Lamsel Pilih Cari Kerang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim kemarau yang melanda sebagian wilayah Lampung Selatan (Lamsel) membuat sebagian petani alih profesi.

Sarjum, salah satu petani asal Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lamsel memilih mencari kerang sebagai pengisi waktu luang sekaligus mendapat penghasilan. Cuaca bersahabat dengan angin dan ombak tenang menjadi berkah baginya dan sejumlah pencari kerang.

Sejumlah pencari kerang disebutnya bisa mendapatkan kerang bulu, kerang putih dan kepah. Selain itu saat bersamaan dengan masa panen kerang hijau, pencari kerang bisa ikut berjualan kerang hijau.

Kerang hijau yang dipanen dari lahan budidaya di pantai Legundi Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Senin (12/8/2019) – Foto: Henk Widi

Lokasi mencari kerang bulu disebutnya berada di gugusan pantai Desa Legundi yang terhalang pulau Seruling. Pantai yang landai dan kondisi air surut membuat ia bisa berjalan kaki ke lokasi pencarian kerang.

Bermodalkan serok jaring dan keranjang khusus berpelampung ia dan sejumlah warga bahkan mencari kerang sejak pagi.

Sarjum menyebut dengan kondisi cuaca yang cukup bersahabat tersebut terdapat puluhan pencari kerang yang berasal dari sejumlah wilayah. Beberapa peralatan sederhana berupa jaring terbuat dari tambang, bambu dan keranjang diberi pelampung botol bekas.

“Pencarian menggunakan serokan dilengkapi jaring dilakukan agar pencari kerang tak perlu menyelam ke dasar air yang dalamnya bisa mencapai sepinggang orang dewasa bahkan hingga pundak saat pasang tertinggi,” terang Sarjum saat ditemui Cendana News, Senin (12/8/2019) petang.

Sarjum menyebut pencari kerang tidak memerlukan perahu untuk mencari kerang bulu dan kerang putih karena pencarian menggunakan sistem serok diayak bagian pasirnya untuk memisahkan kerang yang sudah diperoleh lalu dimasukkan ke dalam keranjang.

Ia menyebut ia bukanlah satu satunya pencari kerang putih, kerang bulu di wilayah tersebut, bahkan pencari kerang banyak berasal dari beberapa desa lain.

Pencari kerang diakuinya tidak perlu membawa alat karena peralatan sudah disediakan termasuk iuran sukarela Rp5.000.

Sekali mencari kerang, ia langsung menjual kepada pengepul seharga Rp5.000 untuk kerang yang belum dikupas atau masih bercangkang, dan seharga Rp7.000 untuk kerang bulu dan kerang putih yang sudah dikupas.

Selain kepada pengepul kerang tersebut kerap dijual kepada konsumen langsung atau pemilik usaha kuliner makanan boga bahari.

Proses pencarian sejak pagi untuk kerang yang sudah dikumpulkan, Sarjum kerap memperoleh kerang lebih dari 50 kilogram dan dijual ke pengepul dengan harga Rp5.000 sehingga ia bisa membawa pulang sekitar Rp250.000.

Hasil yang cukup lumayan selama beberapa jam berendam di laut. Ia menyebut rata-rata dalam sehari bisa mendapatkan penghasilan di atas Rp200.000.

“Selama musim kemarau saya tidak bisa bertani sehingga mencari kerang menjadi pekerjaan alternatif untuk kebutuhan keluarga,” ungkap Sarjum.

Selain kerang laut yang dibudidayakan, warga di sekitar pantai Legundi membudidayakan kerang hijau. Sutinah dan sejumlah nelayan lain memanfaatkan ban bekas sepeda motor, mobil dan botol bekas sebagai pelampung untuk budidaya kerang hijau.

Berbeda dengan kerang bulu, kerang putih yang berkembang di pasir, kerang hijau menempel di ban.

Panen kerang hijau yang dibudidayakan selama hampir tujuh bulan dengan sistem tancap pada bambu sebagai penopang. Untuk ban karet dipergunakan menempelkan kerang hijau yang sudah dibudidayakan.

Ratusan lajur kerang hijau yang dipanen dengan hasil mencapai satu ton dengan harga per kilogram saat ini mencapai Rp10.000 per kilogram di tingkat petani yang banyak dikirim ke pengepul.

Pasca-panen media budidaya bahkan sudah disiapkan oleh pembudidaya, untuk budidaya tahap selanjutnya.

Sistem budidaya kerang hijau yang lama dan membutuhkan ketelatenan tersebut juga didukung kondisi perairan berlumpur yang terhalang pulau kecil di wilayah tersebut sehingga gelombang laut lepas tidak merusak sarana budidaya.

“Budidaya kerang hijau bisa menjadi usaha sampingan selain menanam rumput laut dan mencari kerang liar,” ungkap Sutinah.

Marniati merebus kerang yang akan dikupas dan bisa dimasak dengan berbagai variasi kuliner, Senin (12/8/2019) – Foto: Henk Widi

Marniati, salah satu warga Bandar Agung Kecamatan Sragi menyebut kerang sangat cocok dijadikan kuliner alternatif.

Sebab dengan proses mendapatkan yang mudah ia kerap ditawari oleh pedagang keliling dan sebagian mencari di pesisir Kuala Jaya desa setempat.

Kerang yang masih bercangkang disebutnya bisa direbus untuk diambil bagian isinya dan bisa dimasak menjadi berbagai variasi masakan boga bahari (seafood).

Lihat juga...