hut

Kemarau, Petani Lada di Lamsel Nikmati Hasil Panen

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Terjaganya pasokan air dari Gunung Rajabasa Lampung, membuat petani di Lampung Selatan (Lamsel) tetap dapat menikmati hasil panen dari tanaman lada rambat meski kurang maksimal.  Biasanya dalam satu tanaman bisa menghasilkan 5 kilogram, saat ini rata-rata hanya 3 kilogram.

Mugiono, salah satu petani penanam lada di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan memanen lada yang mulai matang. Foto: Henk Widi

Mugiono, petani lada di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni menyebutkan,  pengurangan hasil panen merupakan imbas proses pembungaan yang terhambat.

“Saat proses pembungaan lada masih musim penghujan mengakibatkan sebagian bunga rontok namun petani masih tetap bisa memanen lada saat kemarau tiba,” ungkap Mugiono saat ditemui Cendana News, Senin (12/8/2019)

Musim panen lada yang berbarengan di wilayah Lamsel, Tanggamus, Pesisir Barat dan kabupaten lain membuat harga lada rendah. Sesuai dengan perbandingan, harga lada beberapa tahun sebelumnya mencapai Rp70.000 per kilogram. Namun pada Juli hingga Agustus, hanya mecapai Rp25.000 per kilogram.

Jenis lada rambat memasuki usia enam tahun sudah dapat mencapai ketinggian tiga meter. Ketinggian tanaman lada akan semakin bertambah menyesuaikan pohon rambatan.

“Penanaman lada sebetulnya bisa dilakukan secara tumpang sari karena bisa hidup berdampingan dengan tanaman lain tanpa mengganggu,” ungkap Mugiono.

Panen lada saat kemarau disebut Mugiono cukup menguntungkan. Sebab butiran biji lada yang dipanen memiliki kadar air yang rendah sehingga kualitas lada cukup bagus. Pemanenan dilakukan saat buah lada mulai berwarna kuning kemerahan. Proses penjemuran lada yang sudah dipanen saat kemarau juga lebih cepat kering.

“Semakin bagus kualitas lada maka harga yang akan semakin naik terutama lada sangat dibutuhkan sebagai bumbu rempah rempah,” ungkap Mugiono.

Hasanah, salah satu petani di Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, menyebut penjemuran sangat terbantu saat kemarau. Meski hasil panen lada pada musim panen tahun ini menurun namun ia memastikan masih bisa mendapat keuntungan. Keuntungan disebutnya dari hasil panen bersamaan antara kakao, cabai jawa dan lada. Dengan harga Rp25.000 per kilogram, ia bisa mendapatkan hasil Rp2,5 juta untuk perkuintal lada.

Musim kemarau yang melanda wilayah tersebut diakui Hasanah cukup menguntungkan petani. Sebab sebagian petani yang memiliki tanaman kakao dan kelapa tetap bisa panen. Kedua jenis tanaman tersebut menjadi rambatan bagi tanaman lada. Dengan menanam lada pada kedua jenis tanaman tersebut ia bisa memanen dua komoditas sekaligus.

Lihat juga...