hut

Kemarau, Petani Padi dan Jagung di Lamsel Rugi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Puluhan hektare lahan pertanian padi, jagung di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) dibiarkan kering oleh pemilik.

Sejumlah petani bahkan membiarkan tanaman padi, jagung usia dua pekan setelah tanam layu akibat kekurangan air.

Warji, salah satu petani di Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang mengaku, pengairan sudah tidak bisa dilakukan akibat sungai Kali Asin kering.

Kekeringan pada musim kemarau atau tanam gadu tahun ini disebutnya lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Sebelumnya saat kemarau ia masih bisa menyedot air dengan alat alkon dari sungai Kali Asin.

Namun tahun ini akibat kemarau sungai yang airnya menyusut dan kering membuat ia tidak bisa menyedot air ke lahan sawah. Kerugian akibat kemarau dikalkulasikan mencapai jutaan rupiah.

Sungai Kali Asin di Desa Sumbernadi kecamatan Ketapang Lampung Selatan mengering berimbas pasokan air di lahan pertanian sawah tidak mendapat pasokan air selama dua bulan terakhir, Senin (12/8/2019) – Foto: Henk Widi

Kerugian akibat kemarau disebut Warji dihitung dari biaya pengolahan lahan, penebaran bibit, penanaman. Sebab saat proses penanaman padi ia sudah melakukan proses pemupukan tahap pertama.

Namun akibat kemarau meski sudah dilakukan proses penyedotan air, lahan sawah kembali mengering. Ia bahkan memilih membiarkan padi sawah miliknya layu dan kering.

“Sebagian lahan yang belum digarap kami biarkan tidak ditanami padi maupun jagung justru ditumbuhi rumput untuk sumber pakan ternak, pasokan air pada kemarau tahun ini sangat parah,” ungkap Warji saat ditemui Cendana News, Senin (12/8/2019).

Warji menyebut salah prediksi dalam masa tanam tahun ini, sebab sungai Kali Asin yang biasanya masih mengalir kini kering. Sebagian petani yang belum menyiapkan bibit bahkan memilih mengurungkan niat untuk menanam padi.

Sebaliknya puluhan hektare lahan sawah yang sudah terlanjur ditanami lahan sawah kekeringan ditandai dengan tanah yang pecah.

Warji menyebut meski ada fasilitas sumur bor pada lahan persawahan di wilayah tersebut, namun kemarau berimbas debit air sumur bor menurun.

Kekeringan yang sudah melanda seluruh petak sawah diakuinya membuat ia menghentikan proses pemompaan air. Sebab setelah dialiri air, sejumlah lahan tanah yang kering tidak mampu menyimpan air.

“Sudah dibantu dengan mesin sedot dari sungai Kali Asin hingga kering serta sumur bor namun sawah tetap tidak bisa diselamatkan,” cetusnya.

Sebagian lahan sawah yang terlanjur kering dan ditumbuhi rumput bahkan dibiarkan menjadi ladang penggembalaan. Selain itu pemilik ternak sapi tersebut mempergunakan rumput yang tumbuh untuk pakan.

Sulitnya mencari pakan membuat ia memilih membiarkan lahan ditumbuhi rumput sebagai cadangan untuk kebutuhan pakan ternak yang sulit dicari.

Petani yang tergabung dalam perkumpulan petani pengguna air tersebut mengaku meski air bisa dialirkan dari laut, namun air payau tidak bisa digunakan.

Sejumlah lahan tambak yang mempergunakan air payau dari pesisir dan sungai Kali Asin memilih mengeringkan tambak selama musim kemarau. Sebab saluran air yang kerap mengandalkan sungai Kali Asin sudah tidak bisa digunakan.

Subakir, salah satu petani jagung yang tanaman dan lahannya kering mengaku pasrah. Menanam sekitar empat kampil jagung atau 20 kilogram, ia menyebut tanaman jagung usia satu bulan miliknya layu dan mati.

Sebelumnya proses pengairan lahan jagung masih bisa dilakukan dengan memanfaatkan sumur bor dan sungai Kali Asin.

Namun debit air yang menyusut pada sumur bor dan air sungai kering membuat ia membiarkan tanaman jagung layu. Sebagian tanaman jagung yang layu imbas minimnya pasokan air membuat sejumlah petani harus menunggu musim penghujan. Sebab proses penyulaman atau penanaman ulang sulit dilakukan.

“Jika pasokan air lancar petani masih bisa menyedot air sungai namun kemarau tahun ini air sudah tidak bisa digunakan,” papar Subakir.

Sebagian petani memilih membajak lahan untuk digunakan dalam proses penanaman jagung saat musim penghujan mendatang, Senin (12/8/2019) – Foto: Henk Widi

Sebagian petani lain disebut Subakir langsung melakukan perombakan lahan. Perombakan dilakukan dengan cara melakukan proses membajak lahan dengan traktor.

Proses tersebut dilakukan untuk mempersiapkan masa tanam saat musim penghujan. Meski mengalami kerugian akibat kemarau, Subakir menyebut kemarau menjadi kesempatan untuk mengistirahatkan lahan agar tidak ditanami.

Lihat juga...