hut

Kembangkan Pertanian Organik Berbahan Murah dan Mudah Didapat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BONDOWOSO – Gaya hidup kembali ke alam atau back to nature kini semakin meluas. Tidak hanya di kota-kota besar, pola hidup secara alami itu kini juga menjalar ke kota-kota kecil. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh seorang petani di Bondowoso bernama Abdul Wafi.

Petani lulusan pesantren ini, selama beberapa tahun terakhir mencoba untuk mengembangkan pertanian organik di desanya.

“Dimulai dari saya sendiri dulu, tidak ajak-ajak yang lain. Tapi nanti kalau sudah ada hasilnya, saya yakin akan banyak yang tertarik tanpa harus saya koar-koar,” ujar warga Desa Gadingsari, Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur ini, Senin (26/8/2019).

Desa tempat tinggal Wafi sendiri termasuk salah satu desa yang terpencil dan jauh dari kota Bondowoso. Namun keterbatasan akses tidak membuat semangat Wafi untuk belajar pertanian organik mengendur.

“Saya banyak sharing dengan petani organik yang lebih senior daripada saya,” papar Wafi.

Keinginan untuk menjalankan pola pertanian organik itu, pada awalnya terinspirasi dari putra kiai tempat Wafi dulu mondok.

“Saya meniru lora (panggilan kehormatan untuk putra kiai pada masyarakat Madura) saya di Kecamatan Curahdami. Awalnya coba-coba mengembangkan pertanian organik di desa saya sendiri. Dan ternyata setelah saya coba, rasanya lebih enak,” tutur Wafi.

Pupuk organik yang masih dalam proses perendaman beberapa hari, Senin (26/8/2019) Foto: Kusbandono.

Menurut pengakuan Wafi, sejak rutin mengonsumsi beras yang ditanam secara organik, dia dan keluarganya merasa lebih sehat dan bugar. Sejauh ini, hasil pertaniannya baru dikonsumsi sendiri dan belum berencana untuk dikomersilkan.

“Baru dimakan saya dan kadang dibagikan ke tetangga. Nanti kalau sudah skala massal, baru bisa dikomersilkan. Mungkin dengan mengajak tetangga membuat poktan khusus tani organik, sehingga lebih kuat dan besar,” ujar Wafi.

Menurut Wafi, pertanian organik tidak membutuhkan biaya yang lebih mahal. Pasalnya, ia tidak memerlukan pupuk-pupuk buatan pabrik yang kadang harganya bisa fluktuatif.

“Bisa dibuat sendiri dari bahan-bahan yang mudah didapat dari lingkungan sekitar,” jelas Wafi.

Bahan-bahan yang dipergunakan antara lain seperti pucuk daun rindang, batang pohon pisang, air kelapa, air sisa cucian beras hingga urine hewan ternak.

“Dedaunannya kita hancurkan lalu direndam bersama urine hewan ternak selama beberapa hari. Semakin lama direndam semakin baik,” papar Wafi.

Untuk mempercepat proses peragian, dipergunakanlah mikroba sebagai komposer. “Minimal direndam selama 15 hari. Kalau kurang dari itu, baunya seperti daun yang terbakar. Malah tidak bagus untuk pupuk,” ungkap Wafi.

Bahan pupuk organik yang sudah lama direndam bahkan bisa menjadi bahan utama untuk pembiakan pupuk organik.

“Teman saya bahkan ada yang sampai 3 tahun. Tapi tiap 6 bulan harus diberi cairan gula sebagai bahan makanan untuk mikroba agar bisa bertahan hidup. Nanti malah lebih bagus hasilya ketika diperbanyak,” papar Wafi.

Lihat juga...