hut

Kembangkan Peternakan Kelinci, Kaya Manfaat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BONDOWOSO – Bermula dari tuntutan mengajar, Rahmanto kini menjadi salah satu pionir peternakan kelinci di Bondowoso. Walau belum banyak dilirik, kelinci sebenarnya punya banyak potensi, tidak sekedar hewan klangenan alias hobi.

“Awalnya saya kan diminta untuk menjadi pengajar mata pelajaran kewirausahaan. Nah daripada cuma sekedar teori, saya ingin praktikkan dulu, agar apa yang saya ajarkan ke anak didik itu juga mengena,” tutur Rahmanto, salah satu pemuda asal Desa Curahpoh, Kecamatan Curahdami, kepada Cendana News, Senin (12/8/2019).

Sehari-harinya, Rahmanto mengajar di MAN Bondowoso. Ide untuk menggeluti peternakan kelinci berawal dari hobi lama yang sempat ia tinggalkan. Setelah mencari-cari informasi di internet, Rahmanto memutuskan untuk kulakan  (membeli banyak) sekaligus belajar peternakan kelinci dari Jember.

“Setelah saya riset, saya baru tahu bahwa ternyata kelinci variannya banyak sekali. Dan tidak sekedar untuk hewan peliharaan hobi yang lucu, tetapi bisa juga untuk konsumsi,” tutur Rahmanto.

Setidaknya terdapat lima lini usaha yang bisa dikembangkan dari peternakan kelinci. Yakni untuk kelinci hias, kelinci pedaging, kulit kelinci, pengolahan kotoran untuk dijadikan pupuk serta pengolahan air kencing kelinci untuk dijadikan pembasmi hama secara alami.

“Dibandingkan jenis feses (kotoran) dari hewan lain, kotoran dari kelinci ini paling ideal untuk dijadikan pupuk kandang. Karena unsur haranya lebih cepat diserap untuk kebutuhan tanaman. Selain itu, urine atau air kelinci, selain untuk membasmi hama, juga kaya akan unsur Hara N atau nitrogen,” urai Rahmanto.

Adapun varian atau jenis kelinci hias antara lain Holland Lop (sering disebut telinga pendek), Netherland Dwarf, fuzzy Lop dan sebagainya.

“Kalau kelinci jenis Rex ini sebenarnya cocok untuk pedaging. Tapi harganya lebih menguntungkan kalau dijadikan kelinci hias,” papar Rahmanto.

Kelinci jenis Rex ideal digunakan untuk pedaging karena pertumbuhan dagingnya lebih cepat dibandingkan jenis kelinci lainnya.

Namun karena kelinci Rex harganya lebih mahal, maka Rahmanto lebih memilih menggunakan jenis kelinci lokal yang harganya lebih murah untuk digunakan sebagai kelinci pedaging.

“Kelinci ini kan dagingnya bebas kolesterol, sehingga punya nilai lebih ketimbang hewan lain seperti kambing dan sapi. Saya belajar ke KOMPPAK (Komunitas Pehobi dan Peternak Kelinci) Jember, karena mereka sudah lebih dulu mengembangkan peternakan kelinci. Tidak saja sebagai hewan hobi, tapi juga untuk pedaging atau konsumsi,” tutur pria berusia 29 tahun ini.

Sudah dua tahun terakhir, Rahmanto menggeluti peternakan kelinci. Menurutnya, peternakan kelinci di Bondowoso seharusnya bisa lebih unggul ketimbang di Jember. Hal ini karena kelinci cocok dan tumbuh ideal di dataran tinggi yang punya suhu lebih dingin.

Terdorong oleh kekompakan rekan-rekannya yang ada di Jember, Rahmanto lantas menginisiasi berdirinya komunitas serupa di Bondowoso.

Sejak bulan Juli lalu, Rahmanto dan rekan-rekannya mendirikan Sahabat Kelinci Bondowoso atau SKB. Komunitas ini menghimpun pehobi dan mereka yang belajar beternak kelinci.

“Saya kumpulkan mereka-mereka yang pernah beli kelinci ke saya untuk membentuk komunitas. Kebetulan saya juga menjadi agen penyalur distribusi pelet atau pakan khusus kelinci,” pungkas Rahmanto.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!