hut

Kondisi Sampah di Bondowoso Sangat Memprihatinkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BONDOWOSO – Jika tidak diantisipasi dengan serius, persoalan sampah di Bondowoso bisa menjadi problem akut seperti yang terjadi di banyak kota besar.

Pasalnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari arti penting membuang sampah pada tempatnya dan memilahnya. Banyak sampah yang tidak dipilah oleh masyarakat yang membuangnya, yakni sampah organik dan anorganik.

Abdul Asis, Kasi Pengolahan Sampah dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Bondowoso saat ditemui Cendana News di kantornya, Rabu (21/8/2019). Foto: Kusbandono.

“Ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat kita yang masih suka buang sampah sembarangan, seperti ke sungai. Itu pola pikir yang harus dengan kerja keras kita ubah. Kita lihat, di alun-alun saja, meski sudah banyak disediakan tempat sampah, masih banyak sampah berserakan yang dibuang sembarangan,” ujar Abdul Asis, Kasi Pengolahan Sampah dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Bondowoso kepada Cendana News, Rabu (21/8/2019).

Salah satu sorotan dalam problematika sampah adalah masih tingginya produksi sampah plastik. Tak hanya dibuang sembarangan, sampah plastik juga menjadi masalah serius karena lamanya waktu proses daur ulang.

“Karena itu tahun ini kita ada program pembagian 1.000 tas untuk mengurangi plastik dan 1.000 botol tubler untuk kurangi penggunaan botol plastik yang sekali pakai,” lanjut Asis.

Pembagian tas dan tumbler ini menjadi kampanye awal untuk menggugah kesadaran masyarakat Bondowoso. Diharapkan semakin banyak orang yang sadar tentang pentingnya pengurangan konsumsi plastik.

“Ke depan kita harapkan pihak swasta lebih banyak berkontribusi dalam kampanye ini,” ujar birokrat alumnus Universitas Bondowoso (Unibo) ini.

Tidak hanya kampanye dengan Tagar #DietSampahPlastik, DLHP Bondowoso juga akan mengintensifkan pemisahan sampah organik dan anorganik.

“Target kita, tahun 2020 benar-benar terpisah antara sampah anorganik dan organik,” imbuh Asis.

Hal ini sudah tercantum dalam Peraturan Bupati (Perbup) tentang Kebijakan Pengurangan Sampah. “Tahun 2018 kita sudah canangkan Kebijakan Strategis Pengurangan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Daerah atau Jakstrada yang mengacu pada Jakstranas,” ujar Asis.

Substansi dari regulasi tersebut adalah pengurangan sampah skala rumah tangga. Karena itu, pemerintah kemudian membentuk bank sampah dengan harapan mampu mengurangi timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA.

“Sebelumnya, kita punya 12 bank sampah tapi banyak yang mati sehingga tersisa cuma lima yang aktif. Nah tahun ini, kita akan hidupkan lagi dengan target total ada 20 bank sampah yang aktif,” pungkas Asis.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!