hut

Kopi Andalan Petani Roga di Ende

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

ENDE – Hampir semua kawasan di sekitar wilayah Taman Nasional Kelimutu (TN Kelimutu) petaninya menggantungkan hidup dari pertanian. Tanaman kopi menjadi salah satu tanaman perkebunan yang menjadi andalan para petani di wilayah ini.

Dusun Toba, desa Roga, kecamatan Ndona Timur, kabupaten Ende, merupakan salah satu wilayah yang berbatasan dengan TN Kelimutu. Desa ini berada diantara Gunung Kelibara dengan ketinggian 1.731 meter di sisi timur dan gunung Kelimutu setinggi 1639 meter.

“Petani di sini rata-rata menanam kopi, cengkeh, bawang merah dan kacang merah di bawah pendampingan yayasan Tananua,” sebut Urbanus Seru, petani dusun Toba desa Roga, Rabu (14/8/2019).

Kopi miliknya yang baru panen perdana, dalam setahun sebut Urbanus, bisa menghasilkan 300 Kilogram. Cengkeh baru ditanam dan kakao juga baru ditanam dan baru panen sekitar 20 kilogram.

“Tanaman kopi saya seluas sehektar, kakao setengah hektar. Kopi kami jual di toko di kota Ende seharga Rp30 ribu sekilogram. Kami tanam di luar kawasan TN Kelimutu, di lahan pertanian kami,” tuturnya.

Urbanus juga bergelut di MPP beranggotakan 12 orang. Saat ada patroli baru dirinya mendapat insentif Rp80 ribu sehari. Bila disuruh patroli baru pihaknya melakukan patroli.

“Tahun 2018 kami ada 2 kali patroli. Kami berharap pemerintah harus memperhatikan para petani di desa kami,” harapnya.

Elias Mbani, pendamping lapangan yang sudah bekerja di yayasan Tananua  15 tahun, menyebutkan, petani adalah mitra yayasannya dan pihaknya bersama berjuang memperbaiki kehidupan petani.

Elias Mbani, pendamping petani dari yayasan Tananua kabupaten Ende, NTT menyatakan pihaknya ikut memfasilitasi petani menanam kopi unggulan, Rabu (14/8/2019) – Foto: Ebed de Rosary

“Mulai bulan Mei 2016 kami lakukan pendampingan dan berakhir Maret 2019. Di desa Roga pihaknya lebih kepada pendekatan dan berjuang bersama ketua adat.

“Selama ini masyarakat melihat TN Kelimutu sebagai musuh yang datang mengklaim wilayah adat masuk kawasan TN Kelimutu. Rupanya komunikasi terputus sehingga kedua pihak berpikir lain dan tidak sepakat,” tuturnya.

Elias mengatakan, hanya ada satu kebun kopi saja di dalam kawasan TN Kelimutu tetapi sudah tidak dipanen lagi. Pihaknya pun memfasilitasi para petani menanam kopi kualitas unggul.

“Kami mengajari para petani menanam kopi dari bibit unggul agar bisa mendapatkan hasil terbaik. Saat ini ada beberapa petani yang kebun kopinya baru mulai panen perdana,” ungkapnya.

Menurut Elias, potensi tanaman kopi di kawasan sekitar TN kelimutu sangat menjanjikan. Kualitas kopi yang dihasilkan pun lumayan bagus dan memiliki nilai jual tinggi.

“Kami selalu mendorong agar para petani bisa melakukan pola pertanian modern dengan tetap menjaga kelestarian alam. Pertanian organik tetap jadi pilihan utama yang harus dijalani,” pungkasnya.

Lihat juga...