hut

Kopi Bondowoso Terus Berupaya Menjadi Komoditas Unggulan

Editor: Mahadeva

BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso terus mengupayakan agar kopi hasil petani di daerah tersebut, bisa menjadi komoditas andalan daerah.

Komoditas kopi Bondowoso, telah dikembangkan beberapa tahun terakhir, dengan memproklamirkan diri sebagai “Republik Kopi”. Dan keberadaanya, telah menjadi ikon produk unggulan pariwisata di Bondowoso.

“Memang promosi wisata itu cukup berpengaruh bagi kita sebagai pengelola kafe di pusat kota. Sebab, meski mereka berkunjungnya ke pelosok Bondowoso seperti Kawah Ijen atau Kawah Wurung, tapi tetap saja turis menginapnya di hotel yang ada di kota, sehingga mereka akan jalan-jalan mencari kafe yang ada di sekitar tempat mereka menginap,” tutur Riswanda Imawan, salah satu pelaku usaha kopi di Bondowoso, Selasa (6/8/2019).

Tantangan utama dari pelaku usaha kopi Bondowoso adalah edukasi kopi kepada masyarakat. Sebab, kopi yang dihasilkan oleh UMKM Bondowoso memiliki segmen yang berbeda dengan kopi yang dihasilkan korporasi besar. “Kalau korporasi besar memang bisa masuk ke jaringan ritel dengan harga bahkan di bawah Rp1.000 per-kemasan. Sedangkan kita sulit untuk bisa mencapai harga segitu, sehingga kita bermain di level middle class ke atas,” terang Riswanda.

Menurut Riswanda, dengan hitung-hitungan kasar, untuk menghasilkan satu sachet kopi seberat 10 gram, setidaknya membutuhkan biaya Rp1.500. “Itu fixed cost, belum ditambah biaya apapun, termasuk kemasan. Sehingga kopi-kopi seperti Arabica Java Ijen, hanya bisa bermain di middle class. Karena kita menjual kemurnian cita rasa, sehingga berbeda dengan kopi pabrikan. Hal itu yang perlu kita edukasi terus ke konsumen,” ujar pria 29 tahun ini.

Riswanda mengungkapkan, ada pelaku usaha kopi yang memberanikan diri mencoba masuk ke segmen retail. Bertarung dengan korporasi besar yang kebanyakan menggunakan bahan baku kopi Robusta. Hal itu harus diikuti anak-anak muda Bondowoso dengan benar-benar jeli memangkas harga.

“Teman-teman coba masuk ke segmen low class karena semangatnya ingin agar kopi Bondowoso ini bisa dinikmati oleh rakyat sendiri, tidak cuma turis asing. Memang kalau main di retail, pesanannya bisa besar, tapi harus benar-benar banting harga. Dulu pernah ada korporasi besar yang coba tawarkan ambil kopi dari sini, tapi hitungannya tidak masuk,” terang Riswanda.

Salah satu kendala untuk masuk ke segmen retail adalah masih mahalnya harga kemasan. Bagi UMKM, untuk bermain di kopi segmen retail, kemasan masih menjadi komponen yang cukup memberatkan. “Teman-teman ada yang bisa menghasilkan hingga Rp8 ribu untuk 100 gram. Tapi kemasan akhirnya polosan, tidak bisa seperti di minimarket. Kalau saya sendiri untuk main di low class, harus dengan brand yang berbeda dari yang selama ini ada. Diferensiasi dengan yang ada di kafe,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember tersebut.

Kendala pengemasan pula, yang membuat UMKM Kopi Bondowoso, kalah bersaing dengan kota-kota lain ketika bertarung di pasar low class. “Dengan Jember saja, kita kalah kalau untuk low class, apalagi dengan Malang dan Surabaya. Tapi kalau untuk cita rasa, kita masih bisa bersaing,” papar Riswanda.

Untuk memperkuat daya saing, para pelaku usaha kopi di Bondowoso, sempat membuat sebuah wadah komunitas resmi. “Waktu itu kita bikin Bondowoso Barista Society yang menghimpun 13 pelaku usaha kopi,” kata Riswanda.

Namun hal itu tidak bertahan lama, karena kerap terjadi perbedaan ide. Akhirnya mereka sepakat untuk menjadi komunitas tidak resmi saja, tanpa nama. “Karena sulit kalau harus diseragamkan. Tetapi komunikasi dan kerjasama diantara kita, secara umum masih terjalin dengan baik. Sebagai sesama anak muda yang menggerakkan UMKM kopi Bondowoso,” pungkas Riswanda.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!