hut

Manfaatkan Limbah Kayu Peti Kemas, Listiyanto Kantongi Jutaan Rupiah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Pemanfaatan kayu bekas limbah peti kemas/palet sebagai bahan baku furnitur atau perabot rumah tangga semakin marak akhir-akhir ini. Harga kayu palet atau biasa disebut Jati Belanda yang relatif murah, serta motif serat kayunya yang khas menjadi daya tarik tersendiri.

Tingginya minat masyarakat yang memanfaatkan perabot rumah tangga berbahan kayu Jati Belanda itu, ternyata membuka peluang usaha baru bagi sebagian orang. Salah satunya seperti dilakukan Listiyanto (36) warga Tarudan, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Menekuni usaha di bidang pertukangan sejak tahun 2002 lalu, Listiyanto mengaku mulai membuka usaha jasa pembuatan furnitur dari bahan baku kayu Jati Belanda sejak beberapa tahun terakhir.

Memanfaatkan skill dan pengalamannya, ia pun menyulap kayu limbah peti kemas barang impor asal Eropa itu menjadi berbagai perabot eksotis.

“Saya membuat berbagai macam perabot rumah tangga sesuai pesanan konsumen. Mulai dari meja-kursi, almari, hingga kitchen set. Bahannya bisa disesuaikan, tapi memang sekarang yang sedang tren dari bahan kayu Palet atau Jati Belanda,” ujarnya, Selasa (6/8/2019).

Membeli bahan baku kayu bekas alas barang peti kemas dengan harga relatif murah, Listiyanto pun menawarkan jasanya secara online.

Memanfaatkan media sosial seperti Facebook Twitter dan Instagram ia pun mampu menerima pesanan furnitur berbagai ukuran hingga belasan unit setiap bulannya.

“Kalau pesanan tidak tentu, kadang 5-10 unit, kadang bisa lebih sampai belasan. Tarifnya bermacam-macam, seperti misalnya kitchen set  itu Rp 1,7 juta per meter. Sedang satu set meja kursi bisa sampai Rp 650-750 ribu. Semua tergantung spek yang diinginkan,” katanya.

Menurut Listianto sendiri, keunggulan kayu Palet atau Jati Belanda sebagai bahan baku furnitur adalah gambar atau serat kayunya yang cukup unik dan menarik. Sepintas mirip seperti serat kayu Mindi.

Hal itulah yang membuat banyak masyarakat tertarik untuk menggunakannya, karena cukup cantik untuk dilihat, meski sebenarnya merupakan limbah peti kemas.

“Kalau dari harga sebenarnya relatif hampir sama dengan jenis kayu lainnya. Tapi dari sisi pengerjaan, kayu Jati Belanda lebih mudah,” katanya.

Salah satu kendala yang dihadapi Listiyanto, dalam menjalankan usahanya, adalah kerap tertundanya pasokan bahan baku. Hal itu dikarenakan banyaknya peminat yang memanfaatkan kayu palet ini sehingga harus berebut satu sama lain.

“Selain itu kendala lain, mungkin adalah daya beli masyarakat yang tidak tentu. Kadang bagus kadang tidak. Kalau soal pemasaran, cukup mudah karena bisa memanfaatkan media online. Jadi tinggal pakai HP saja, nanti konsumen akan datang sendiri,” katanya.

Lihat juga...