hut

Mekarsari: ‘Urban Farming’ Solusi Pembersihan Udara

Editor: Koko Triarko

BOGOR – Pengendalian polusi udara sangat dibutuhkan. Terutama di kota besar seperti Jakarta. Tanaman pun menjadi salah satu solusinya. Pemprov DKI pun berencana menanam lidah mertua sebagai paru-paru kota. Namun demikian, jenis tanaman paling tepat sebagai penyerap karbon dioksida adalah tanaman yang memiliki banyak daun.

Manager R & D Taman Buah Mekarsari, Azis Natawidjaya, menyebutkan, bagian dari tanaman yang dapat menyerap karbon dioksida adalah daun.

“Jadi, tanaman yang paling cocok digunakan untuk membantu menangani polusi udara adalah tanaman yang banyak daunnya. Makin banyak daunnya, makin banyak karbon dioksida yang terserap” kata Azis, saat ditemui di Taman Buah Mekarsari, Kamis (15/8/2019).

Azis juga menyebutkan, bahwa pilihan Pemda DKI Jakarta untuk menggunakan tanaman lidah mertua sebagai tanaman untuk menyerap polusi udara tidak bisa dikatakan salah.

“Hanya yang perlu ditekankan adalah tanaman yang dipilih juga tidak membahayakan bagi anak-anak yang ada di sekitar tempat tanaman itu ditanam,” ujar Azis.

Azis menjelaskan, bahwa ada kasus terkait tanaman lidah mertua di Australia, yang dimakan oleh seorang anak, sehingga menyebabkan keracunan, karena tanpa sengaja dikonsumsi oleh anak tersebut.

“Contoh lain tanaman yang juga membahayakan jika termakan anak-anak adalah Nerium oleander, yang bisa menyebabkan kematian,” ucapnya lebih lanjut.

Alternatif untuk menggunakan pohon tinggi, memang tidak buruk juga menurut Azis. “Hanya harus dipertimbangkan, saat tanaman itu menjadi besar dan rimbun, ada potensi bahaya dari cabangnya. Saat jatuh bisa menyebabkan kerusakan pada benda atau jika menimpa masyarakat bisa menimbulkan korban jiwa,” urainya.

Azis menyebutkan, jika Pemprov DKI Jakarta membutuhkan pohon tinggi, Taman Buah Mekarsari siap untuk menyediakan. Hanya memang, tetap perlu dipertimbangkan pada dampak yang akan terjadi jika pohon itu tumbang.

“Kalau saya lebih percaya pada urban farming sebagai solusi pembersihan udara. Bukan sayuran, tapi tanaman hias,” kata Azis.

Dari kelompok Aglaonema, Anthurium,  Philodendron maupun Alokasia dan jenis keledai-keledaian bisa dijadikan pilihan.

“Ini adalah salah satu hasil persilangan yang dilakukan oleh Mekarsari, antara Philodendron bippinatifidum dengan Philodendron melobaretoanum, hasilnya jadi varigata, begini. Ini daunnya banyak dan cantik jika dijadikan penghias di pekarangan,” kata Azis, sambil menunjukkan salah satu koleksi Taman Buah Mekarsari yang ditanam di depan Gedung BAT Taman Buah Mekarsari.

Selain jenis tanaman hias yang memiliki daun lebar dan banyak, Azis menyebutkan pohon kelapa sawit juga bisa dijadikan alternatif tanaman untuk lingkungan.

“Selain bisa menyerap karbon dioksida, akar sawit bisa menyerap air, sehingga bisa mencegah banjir,” ucapnya.

Untuk mengakali keterbatasan lahan, Azis menyebutkan masyarakat bisa melakukan vertical gardening, yaitu penanaman tanaman dengan sistem vertikal.

“Bisa digantung atau bisa menempel di tembok. Ini cocok untuk yang tidak punya pekarangan. Lagi pula akan memberikan aksen bagus pada dinding rumah,” pungkasnya.

Lihat juga...