hut

Membaca 15 Menit, Optimalisasi Gerakan Literasi di Rajabasa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Upaya menumbuhkembangkan minat baca di lingkungan sekolah digencarkan SMPN 1 Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel). Salah satu cara dilakukan dengan kegiatan membaca 15 menit di sekolah.

Demikian diungkapkan Endang Suryani, M.Pd, kepala sekolah SMPN 1 Rajabasa, Lamsel. Kegiatan literasi disebutnya menjadi bagian dalam upaya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sejak dini.

Endang Suryani, M.Pd, Kepala SMPN 1 Rajabasa, Lampung Selatan, memaparkan pentingnya kegiatan membaca buku, Kamis (8/8/2019) – Foto: Henk Widi

Kegiatan membaca buku 15 menit bagi siswa diakuinya ditanamakan bagi siswa kelas VII, VIII dan IX setiap hari. Sebelum pelajaran dimulai, para siswa diakuinya akan diberi kesempatan untuk membaca buku.

Sejumlah buku bacaan diantaranya disediakan oleh perpustakaan atau buku pelajaran wajib di sekolah. Meski kegiatan membaca 15 menit menjadi program, ia memastikan budaya literasi tetap dijalankan di rumah.

Cara yang ditempuh diantaranya dengan melakukan kegiatan membaca 1 buku di rumah untuk beberapa hari. Sekolah disebutnya menyediakan fasilitas koleksi buku memadai.

Sebab selama ini ribuan koleksi buku perpustakaan yang disediakan meliputi buku paket, buku penunjang diantaranya prosa dan sastra. Melalui budaya literasi yang terus ditingkatkan SMPN 1 Rajabasa sekaligus menciptakan lingkungan yang nyaman untuk kegiatan siswa.

“Saat jam istirahat dengan adanya banyak pohon pada lingkungan sekolah para siswa bisa bersosialisasi atau membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan, selain itu adanya guru sekolah yang mendukung gerakan literasi,” terang Endang Suryani,M. Pd, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (8/8/2019).

Upaya menambah koleksi buku perpustakaan menunjang kegiatan belajar mengajar juga terus dilakukan. Sebab kegiatan literasi menurut Endang Suryani menjadi langkah untuk membudayakan kegiatan membaca yang mulai ditinggalkan.

Terlebih budaya modern dengan lebih akrabnya siswa menggunakan gawai saat di rumah menggeser budaya literasi.

Sebagai salah satu sekolah di pesisir Rajabasa, ia menyebut gerakan literasi terus akan digencarkan. Sebab sebagian siswa disebutnya merupakan penyintas tsunami 22 Desember 2018 silam. Akibat tsunami, sebanyak 85 siswa terdampak termasuk salah satu guru.

Memasuki tahun ajaran baru 2019/2020 dengan sebanyak 349 siswa dari 12 kelas, kegiatan literasi di sekolah terus dilakukan.

“Membaca buku menjadi salah satu penambah wawasan, rekreasi dan hiburan sehingga akan terus digencarkan,” tegas Endang Suryani.

Upaya optimalisasi gerakan literasi sekolah juga didukung oleh Asih Kurniawati, S.Pd, selaku guru SMPN 1 Rajabasa. Sebagai guru bidang studi Bahasa Indonesia, Asih Kurniawati menyebut terus melakukan langkah optimalisasi gerakan literasi sekolah.

Salah satu langkah dilakukan dengan metode membaca 15 menit. Metode tersebut dilakukan untuk menanamkan kecintaan para siswa membaca buku.

“Setiap hari dengan penyiapan buku agar bisa dibaca siswa menjadi bagian dalam upaya optimalisasi gerakan literasi sekolah,” ungkap Asih Kurniawati.

Berkat dukungan sang suami, Sugeng Hariyono, sebagai pegiat literasi Motor Pustaka, koleksi buku juga terus ditambah. Pada hari tertentu seperti Kamis (8/8) ratusan buku bacaan bergambar diantaranya buku penunjang pelajaran, dongeng rakyat serta ilmu pengetahuan bisa dibaca siswa.

Kegiatan membaca buku sebagai pengisi waktu istirahat di SMPN 1 Rajabasa diakui Asih Kurniawati didukung lingkungan sekolah yang asri dan sejuk.

Melalui optimalisasi gerakan literasi di sekolah, Asih Kurniawati berharap waktu bisa dimanfaatkan dengan baik. Saat pagi hari sebelum pelajaran berlangsung, kegiatan 15 menit membaca buku bisa menjadi kegiatan yang positif.

Bahkan dengan adanya koleksi buku yang sebagian merupakan koleksi buku Cetul Pustaka Nusantara miliknya dan Motor Pustaka milik sang suami, dukungan buku bacaan lebih bervariasi. Mengisi waktu dengan membaca buku disebutnya akan terus digencarkan untuk membudayakan kecintaan akan buku.

Selain dilakukan pada jam istirahat, kegiatan kunjung perpustakaan menjadi salah satu upaya menumbuhkan minat baca.

Arnes, salah satu siswa kelas IX C menyebut gerakan literasi yang difasilitasi sekolah membuat siswa senang membaca buku. Selain keberadaan perpustakaan, dukungan dari guru sekolah diantaranya Asih Kurniawati membuat kecintaan membaca buku bertambah.

Buku-buku baru bergambar yang menarik dari Motor Pustaka disebutnya bisa dibaca sebagai pengisi waktu istirahat baginya dan sejumlah siswa lain.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!