hut

Memoar Pecandu Kopi

CERPEN INDAH DARMASTUTI

DARI aromanya, Dewangga menebak ini pasti Wamena Arabika. Penciumannya menemukan paduan aroma karamel dan spicy.

Ia langsung membayangkan keseimbangan rasa asam dan pahit yang tertinggal di pangkal lidahnya usai mencecap Baliem Arabika itu.

Ah, andai ada Mona, ia pasti mengajak taruhan tentang aroma kopi ini. Siapa kalah, ia harus membayar semua menu yang dipesan.

Tetapi Mona sudah menjadi bagian dari pahit masa lalu yang tak tertandingi pahitnya kopi jenis apa pun yang pernah dicicip lidahnya. Long Distance Relationship (LDR) satu tahun membuat ia memutuskan menikah dengan dosennya.

Menanggalkan semua rencana yang pernah dirancang bersamanya. Salah satunya membuat kedai kopi mungil, nyaman dan instagramable.

Mona juga merancang bila kedai itu sudah dibuka, setiap Senin pengunjung boleh memesan kopi jenis apa pun dengan menyerahkan tulisan tentang kopi sebagai ganti pembayaran untuk tiga gelas kopi, tiga kali Senin.

Kalau tulisan itu sudah terkumpul banyak akan diterbitkan dalam bentuk buku dan diberi judul: Memoar Pecandu Kopi. Nantinya buku itu akan diobrolkan dengan mengundang para pakar kopi.

Dewangga terkagum-kagum dengan ide Mona. Termasuk nama kedai yang sudah disediakan: Kedai Vilako. Viva la Kopi. Ia terbahak waktu itu.

Ia masih ingin terbahak tetapi urung mengingat cita-cita itu kandas sepaket dengan cintanya. Dia sempat berpikir apakah rontoknya cinta kepada Mona juga akan merontokkan cintanya pada kopi?

Ternyata tidak. Kalau ada yang berpendapat bahwa “kebanyakan manusia mati bersama sesuatu yang digilai,” ia tak keberatan bila mati sedang menikmati kopi. Bukankah itu justru kematian yang manis?

Tetapi nasib tragis cintanya itu malah dipakai bahan bully-an teman-teman pecandu kopi di grup WhatsApp. Victor membuat meme yang menggambarkan Dewangga sedang kuliah, lalu Dosen bertanya: “Kopi apa yang paling pahit menurutmu, Dewa?”

Wajah Dewangga melas menjawab” Kopi-sahkan aku dengan dia, Pak Dosen.” Lalu anggota grup WhasApp ramai menimpali. “Kopi-lih dia.” … “Kopi-nang dia.” … “Kopi-kir enak ditinggal kawin?”

Semua kopi yang serba pahit tumpah di grup itu. Dewangga tenang menanggapi dengan mengirim pesan balasan: “Kualitas manusia bisa dilihat dari bagaimana ia melampaui penderitaannya.”

Gegerlah grup WA itu. Memuji, membully, dan mengelakari lebih parah lagi. Padahal tak semua anggota grup itu ia kenal. Banyak di antaranya hanya ia ketahui nama dan foto profilnya saja di grup itu, tetapi turut main hantam juga.

Grup yang awalnya hanya berisi sebelas orang peserta festival kopi di Pasar Gede karena lokasi stan berdekatan itu, lama-lama bertambah dan entah siapa yang menambahkan karena Victor si Pembuat grup itu, mengatur semuanya menjadi admin.

Tetapi dari semua anggota grup WA itu ada yang hampir tak pernah memberi komentar. Tetapi selalu mengirim foto-foto kedai kopi cantik lengkap dengan Google Mapnya. Salah satunya yang dikunjungi Dewangga saat ini.

Ia tak paham orang itu, di foto profilnya hanya gambar biji-biji kopi hitam terserak. Nama yang dicantumkan KopiNusantara. Dewangga tak tahu apa jenis kelamin orang yang suka share-loc berbagai kedai kopi.

Tetapi tanpa berkomentar, Dewangga kerap mengunjungi kedai-kedai kiriman dia.

Malam masih muda ketika ia memilih bangku tak jauh dari rak kayu jati tua tanpa plitur yang memamerkan toples-toples kaca berisi biji-biji kopi setelah memesan Arabika Toraja.

Ia ingin memberi hadiah kecil untuk dirinya setelah menyelesaikan teks terjemahan jurnal ilmiah job dari kawannya.

Dari tempat duduknya ia membaca deretan nama jenis kopi yang ditempel di toples, barangkali ada tambahan jenis baru. Gayo, Toraja, Kintamani, Flores, Jawa, Luwak, Wamena, Sidikalang. Tidak ada.

Masih seperti sebelumnya. Kopi unggulan yang terus menerus dibicarakan para pecandu kopi termasuk di Grup WhatsApp yang diikutinya.

Semua yang ada di rak itu sudah dicicip lidah Dewangga. Tetapi yang menjadi kelangenan adalah Kopi Toraja. Keasaman rendah dan dominan rasa cokelatnya sungguh memikat. Kerap membangkitkan kangen untuk menikmati, bahkan saat ia seorang diri seperti malam ini.

Ia membuka ponsel, jempolnya menggeser-geser layar. Lalu membacai pesan yang masuk di grup Kopiyuk bikinan Victor. Tak ada pesan baru. Lalu iseng dia mengirim pesan pribadi ke KopiNusantara.

-Kedai kopi yang anda rekomendasikan sangat bagus. Serasi sekali dengan lingkungannya. Di halaman bangunan tua di Kota Bengawan. Dekat Pohon Trembesi-

-Oh, Anda sudah ke sana?-

-Sudah. Bahkan malam ini aku juga di sini.-

-Serius?-

-Iya-

-Kirimi fotonya dong,-

Dewangga tersenyum, kalau dilihat gaya bahasa dan emotikon yang dikirim, intuisi Dewangga mengatakan KopiNusantara adalah perempuan.

Ia segera membuka aplikasi kamera, lalu memotret beberapa sudut yang ia pandang bagus, termasuk meja kerja di mana seorang barista laki-laki muda sedang memproses Espresso secara manual.

Dewangga tersenyum pada perempuan manis mengenakan setelan blue jins dan kaos hitam duduk di belakang meja kasir.

Empat gambar ia kirim, dan segera mendapat balasan persis ketika Kopi Toraja pesanannya disajikan. Dewangga membaui aroma Toraja sambil memejam mata, seolah ingin menyimpan baik-baik aroma itu ke dalam seluruh pori-porinya.

Ia mencecap dan merasai pahit-asam tertinggal di pangkal lidahnya. Saat membuka mata, ia melihat KopiNusantara sudah membalas pesannya.

-Kamu suka kopi Toraja ya?- Dewangga melotot pada layar ponselnya. Mengedar pandang ke setiap sudut. Tak ada yang bisa ia curigai.

Ketika ia hanya memandangi layar ponselnya, tiba-tiba sebuah foto dikirim oleh KopiNusantara. Dewangga kaget bukan kepalang karena itu adalah foto dirinya dari samping. Persis saat itu, kasir berkaos hitam mendatanginya sambil tersenyum.

“Terima kasih sudah singgah di kedai kami.” Dewangga mati gaya. Ia masih butuh bukti bahwa ia tak sedang dijebloskan ke dalam halusinasi akut.

“Tak menyangka ya, kalau kita sudah terhubung di grup WA,” ia tersenyum. Dewangga meredam rupa-rupa rasa tetapi ia segera bisa menguasai saat perempuan di depannya sepertinya tak terlalu mempersoalkan kelakuannya beberapa menit lalu.

“Tiga kali aku nongkrong di sini. Dua kali aku membayar di kasir dan kamu yang melayani.”

“Dan selalu sendiri.” Tawa Dewangga pahit tak kalah dengan Robusta Gayo.

“Boleh saya duduk di sini?”

“Tidak, sebelum kamu mengenalkan diri,” perempuan itu tertawa.

“Monalisa, terserah bagaimana mau memanggilnya,” katanya sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Dewangga yang buru-buru menyeruput kopi untuk menyembunyikan gugup karena nama yang disebutnya.

“Bagaimana Toraja?” selekasnya Dewangga menguasai kekacauan dalam hatinya.

“Itu salah satu yang aku candui karena paduan antara aroma, rasa asam dan pahitnya begitu magis,” Perempuan itu tertawa mendengar komentar Dewangga.

“Bagaimana menurutmu, Lisa? Karena kamu hampir tak pernah memberi komentar selain mengirim foto-foto,” tawa Lisa mereda.

“Semua kopi yang aku taruh di rak itu jenis unggul, kamu pasti tahu itu. Semua nikmat, Toraja dan Gayo digemari banyak lidah Eropa, tetapi yang paling aku suka adalah kopi lanang.”

“Itu termasuk langka,” potong Dewangga.

“Iya, bagi lidahku, jenis ini yang tertinggi.” Berkata begitu ia lalu melambaikan tangan pada barista muda.

“Minta tolong ambilkan Kopi Lanang yang tadi baru datang ya!” Barista itu mengacungkan jempol dan berlalu seiring intuisi Dewangga menarik kesimpulan bahwa Lisa adalah pemilik kedai kopi ini.

“Sebenarnya soal rasa memang selera. Tetapi soal kopi Lanang Temanggung itu yang paling unik menurut lidahku. Lebih pekat tetapi berasa lembut, tekstur padat dan aroma mendekati kopi luwak.”

“Tetapi Kopi Lanang kandungan kafein lebih tinggi sekira 2 persen dari kopi biasa kan?” Lisa mengangguk tertawa kecil.

“Ya, mungkin juga aku suka karena kopi itu sungsang.” Dewa mengangguk. Ia tahu yang dimaksud Lisa, Kopi Lanang kerap disebut kopi sungsang, anomali karena tidak optimal penyerbukan, malnutrisi saat pembuahan. Ya… bisa dibilang kelainan genetika. Maka bijinya bulat utuh, monokotil, tidak terbelah. Ketika Barista itu datang, Lisa langsung menerima sebungkus kecil Kopi Lanang.

“Banyak orang menyangka kalau Kopi Lanang berasal dari spesies atau varietas tanaman kopi tertentu. Padahal tidak. Baik arabika atau robusta, semua mempunyai kemungkinan menghasilkan Kopi Lanang. Tetapi hanya sedikit. Memang belum sekondang single origin, tetapi rasanya tak kalah. Apalagi setelah melalui proses pencernaan luwak liar. Wah.. bisa selangit harganya.”

Lisa membuka klip kantung kopi itu.

“Aku mendapatkan langsung dari petaninya di Temanggung. Akhirnya aku membuktikan Kopi Jawa sungguh dahsyat rasanya, meski di daerahku juga memiliki kopi jenis unggul,” katanya sambil mendekatkan biji-biji kopi itu pada Dewangga.

“Oh ya? Dari mana asalmu, Lisa?”

“Aku asli Toraja,” katanya tersenyum sambil melirik gelas kopi di hadapan Dewangga. “Kopi juga yang akhirnya membawaku sampai ke Jawa. Sejak tiga tahun lalu aku memburu biji-biji kopi Nusantara, memulai bisnis jualan kopi secara online. Kemudian membuka kedai ini.”

“Ah, pasti kamu bisa menceritakan kondisi tanah di sana, mengapa kopi Toraja bisa seenak ini.” Berkata Dewangga dengan tatapan mengunci agar perempuan itu lebih lama duduk di hadapannya. Entah mengapa ia merasa kerasan ngobrol dengannya.

“Celeber Kolasi, kopi Toraja. Rumahku tak jauh dari Sapan, tempat pengumpulan kopi di Sulawesi Selatan sejak zaman Belanda. Toraja sendiri kan dalam bahasa Bugis berarti orang yang berdiam di dataran tinggi. Kopi Toraja banyak ditanam berdampingan dengan tanaman rempah. Jadi wajar kalau kopi itu beraroma harum rempah segar. Lebih banyak menghasilkan Arabika karena kontur tanah vulkanis pegunungan Sasean dan juga watak arabika yang harus ditanam dengan ketinggian 700-2000 Mdpl.”

“Dan menurutku Toraja diseduh dengan cara apa pun tetap nikmat, baik tubruk maupun espresso.” Lisa mengiyakan.

“Sudah pernah mengunjungi kedai kopi di sini?” Lisa menunjukkan sebuah foto di ponselnya.

“Di mana itu?”

“Di Salatiga. Pingin mencoba?”

“Mau, kalau ada yang memberiku kuliah tentang Kopi Toraja.” Lisa tersenyum.

“Mungkin minggu depan aku baru bisa, aku akan kabari.”

“Tak masalah. Lagi pula ada kedai ini kalau aku kepingin ngopi.”

“Terima kasih.”

“Senang bisa ngobrol langsung dengan pemiliknya, bertemu dengan cara mengejutkan.”

“Dan lucu.”

-Ternyata Toraja tak hanya mempunyai kopi yang unggul tetapi juga mempunyai kamu yang ramah dan asyik- pesan Dewangga via whatsapp untuk orang yang ada di hadapannya. Lisa membuka ponselnya lalu tersenyum.

Saat itu juga Dewangga mendapat balasan emotikon perempuan menari bergaun merah. Dewangga mengetik lagi:

-Can’t wait to get coffee with you-

Lisa mendongak, mereka bertukar isyarat. Dewangga melihat kedalaman mata sewarna biji kopi, ketika menandaskan Toraja Arabika, ia tahu hatinya tak sunyi lagi. ***

Indah Darmastuti, sastrawan tinggal di Solo. Menulis prosa, cerita anak dan esai. Aktif di Buletin Sastra Pawon, Solo. Pendiri situs web: http://www.difalitera.org (sastra suara untuk difabel netra).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

Lihat juga...