hut

Menelisik Tradisi Takiran di Desa Pasuruan Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah tari tradisional ditampilkan pada gelaran takiran dalam memeriahan HUT ke-74 RI di Dusun Pasuruan Bawah, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Tarian tradisional tersebut merupakan potensi yang harus tetap dilestarikan. Sebab warga Pasuruan berasal dari sejumlah suku dan golongan. Setidaknya, dengan keberagaman yang ditampilkan dalam kreasi kesenian ini dapat mempererat persatuan. Simbol persatuan juga diwujudkan oleh warga melalui bendera Merah Putih sepanjang 74 meter.

Ahmad Sumaryono, penanggungjawab kegiatan. -Foto: Henk Widi

Ahmad Sumaryono, penanggungjawab kegiatan, mengatakan, konsep takiran diakuinya menjadi kesempatan menjalin kebersamaan. Selain itu potensi yang ada di Dusun Pasuruan Bawah juga ditampilkan. Kesenian tari sembah khas Lampung, tari gambyong khas Jawa Tengah juga ditampilkan. Penampilan kesenian tersebut disebutnya menjadi simbol keberagaman yang ada di Indonesia.

“Semangat keberagaman sebagai ungkapan syukur menjadi teladan bagi generasi muda untuk melestarikan budaya luhur bangsa untuk mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan,” ungkap Ahmad Sumaryono saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (17/8/2019) malam.

Malam syukur kemerdekaan RI ke-74 disebut Ahmad Sumaryono sekaligus ajang pelestarian budaya. Sebab salah satu budaya gotong royong dalam kegiatan tersebut masih dilakukan. Sebagai ungkapan syukur warga membawa makanan dari rumah dalam bentuk takiran. Selain takiran, pembuatan tumpeng kemerdekaan ke-74 serta ulang tahun dusun ke-14 menjadi ungkapan syukur.

“Makanan yang dibawa menjadi simbol kemakmuran hasil bumi dari tanah air yang merupakan warisan para pahlawan,” ungkap Ahmad Sumaryono.

Pelestarian budaya yang masih dipertahankan di Desa Pasuruan diantaranya juga Panem Bromo. Kegiatan menabuh gamelan yang kerap dilakukan oleh Paguyuban Keluarga Yogyakarta (PKY) tersebut juga turut menyemarakkan HUT kemerdekaan RI.

Melalui pelestarian budaya tersebut warga diingatkan untuk menghormati perbedaan dalam kebhinekaan. “Kami menekankan adanya perbedaan justru memperkaya bangsa Indonesia salah satunya dalam hal budaya,” tutur Ahmad Sumaryono.

Kegiatan syukur kemerdekaan RI disebut Ahmad Sumaryono juga menjadi momen pembagian hadiah. Generasi muda sebagai penerus bangsa disebutnya harus tetap menjaga persatuan dan kebersamaan tersebut.

Sebagai bentuk kebersamaan, sejak Sabtu pagi (17/8) warga usia anak anak hingga dewasa dilibatkan dalam sejumlah perlombaan tradisional seperti gobak sodor, lari kelereng, makan kerupuk dan permainan lain. Selain itu ada fashion show, merias wajah, dan perlombaan lainnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!