hut

Mitos dan Ritual Suku Enggano Didokumentasikan Secara Digital

Ilustrasi Rektorat Universitas Indonesia - Foto: Dok. CDN

DEPOK – Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, menggagas Program Pendokumentasian Mitos dan Ritual secara Eletronik Kebudayaan Orang Enggano.

Hal itu, untuk mendukung upaya mempertahankan, mengamankan serta mencegah terjadinya erosi kebudayaan Suku Enggano. “Dokumen pencatatan kebudayaan Enggano telah diarsipkan ke sebuah Sistem Elektronik Arsip UI, atau dikenal dengan istilah SEKAR UI,” kata Ketua Pengmas FIB UI, Dr. Ike Iswary Lawanda, di kampus UI Depok, Minggu (25/8/2019).

Gagasan yang dijalankan oleh Ike Iswary dan tim, dilandasi permasalahan pengaruh kehidupan teknologi informasi modern, yang sudah merasuk ke kehidupan generasi muda. Hal itu berdampak pada bahasa dan budaya, yang sudah mulai meluntur di kalangan generasi muda.

Untuk mempertahankan kebudayaan khususnya dalam hal ini Suku Enggano, tim Pengmas FIB UI merasa memerlukan dokumen yang dinamis. Hal itu dimaksudkan, agar kebudayaan yang ada memiliki bukti, oleh dan untuk mereka sendiri, sebagai upaya menjaga dan membangun NKRI. Pulau Enggano berjarak 156 kilometer dari Kota Bengkulu, dan masuk ke dalam kategori pulau 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

SEKAR UI memfasilitasi pendokumentasian kebudayaan, diantaranya mitos dan ritual suku Enggano dalam proses penciptaan, penyimpanan, dan penggunaan dan akses bagi warga masyarakat Enggano khususnya dan masyarakat umum.

Aplikasi SEKAR UI bersinergi dengan website Kantor Kabupaten Bengkulu Utara, dan Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN), serta Pangkalan Data di Kantor Kecamatan Enggano, untuk melakukan upaya tersebut.

Ike Iswary menyebut, mitos dan ritual merupakan sumber pertahanan budaya dan keamanan, di tengah ancaman generasi milenial yang sangat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Untuk itu, Mitos dan ritual perlu dilestarikan melalui pendokumentasian memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Sehingga mitos dan ritual dapat dinikmati oleh generasi milenial, sesuai dengan cara dan gaya hidup mereka. “Untuk itu kami berupaya mengarsipkan kebudayaan Suku Enggano, meskipun saat ini akses jaringan teknologi informasi dan komunikasi di Enggano masih menggunakan dual band, jauh tertinggal dibandingkan perkotaan besar di Indonesia, namun diharapkan dapat menjaga kelestarian budaya setempat,” tandasnya. (Ant)

Lihat juga...