hut

NTT Hadapi Tingginya Kasus ‘Stunting’ dan Kematian Ibu-Bayi

Editor: Koko Triarko

KUPANG –  Selain masih tingginya angka stunting, Pemprov NTT juga masih harus menghadapi tingginya angka kematian ibu dan bayi. Pada 2018, angka kematian ibu mencapai 158 kasus. Sementara kematian bayi pada tahun yang sama mencapai 1.265 kasus.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengatakan, angka kematian ibu pada 2018 lebih rendah 5 kasus dibandingkan tahun sebelumnya, 2017, sementara pada semester pertama 2019 ini mencapai 54 kasus.

“Untuk kasus kematian bayi pada semester pertama 2019 jumlahnya 450 kasus. Penyebab kasus kematian bayi didominasi oleh permasalahan infeksi dan perdarahan,” kata Gubernur NTT, pada pidato memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI, Jumat (16/8/2019).

Sementara itu, prevalensi balita stunting selama kurun 2018 sebesar 42,46 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 30,8 persen.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri). -Foto: Ebed de Rosary

“Kondisi itu menjadi prioritas utama dan saat ini sedang diperangi secara bersama dengan pemerintah kabupaten dan kota, serta stakeholders terkait lainnya,” tegas Gubernur.

Menurut Viktor, dalam menangani balita stunting pihaknya melibatkan berbagai sektor, seperti kesehatan, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sektor terkait lainnya.

Upaya lain juga dilakukan lewat intervensi gizi spesifik untuk balita stunting. Penanganan ini difokuskan pada kelompok seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak  masa kehamilan hingga balita berumur 2 tahun.

“Saat ini gencar dilakukan dengan memberikan makanan tambahan yang memiliki nutrisi dan nilai gizi tinggi. Bahan makanan berbahan kelor ini diberikan kepada ibu hamil dan balita di fasilitas-fasilitas kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!