hut

Panen Turun, Pengaruhi Usaha Penggilingan dan Harga Beras

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kemarau berimbas sejumlah petani padi gagal panen (puso) dan sebagian alami penurunan produksi picu kenaikan harga beras.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh pemilik usaha penggilingan padi dan penjual beras. Sumani, salah satu pemilik usaha penggilingan beras menyebut saat kemarau usaha gilingan padi miliknya sepi. Meski masih beroperasi, sepekan rata-rata menggiling gabah sekitar 2 ton.

Jumlah tersebut lebih menurun dibandingkan kondisi normal dengan gabah digiling rata-rata 4 ton per pekan. Sebab pada kondisi normal dengan hasil panen padi maksimal, warga banyak menyimpan gabah di gudang pabrik penggilingan.

Sejumlah warga yang menggiling padi merupakan stok panen saat musim tanam penghujan (gadu). Sebaliknya saat masa panen musim kemarau (gadu) sebagian warga memilih menjual gabah kering panen (GKP).

Minimnya warga yang menggiling gabah menjadi beras disebutnya memicu kenaikan harga beras. Pada level tempat penggilingan padi, ia menyebut semula harga hanya Rp9.400 kini naik menjadi Rp9.500 per kilogram.

Beras yang dijual merupakan hasil penggilingan beras dengan stok lama. Sebaliknya jenis beras hasil penggilingan gabah baru dijual dengan harga Rp9.700 kini naik menjadi Rp10.000 per kilogram.

“Harga beras sangat dipengaruhi oleh hasil panen, kualitas gabah serta jenis beras yang dihasilkan dari proses penggilingan. Saat ini harga beras sedang naik karena panen petani minim bahkan sebagian gagal panen,” ungkap Sumani saat ditemui Cendana News, Jumat (16/8/2019).

Bagi sejumlah warga yang berprofesi sebagai petani, Sumani menyebut memilih memanfaatkan gabah stok lama. Sebab stok gabah baru kerap masih akan disimpan untuk kebutuhan hingga masa panen berikutnya.

Selama musim kemarau, sejumlah warga bahkan memilih menjual beras kepada pemilik penggilingan yang juga berperan sebagai pengepul beras. Beras dijual secara grosir maupun eceran bagi pembeli beras sistem “nempur” atau membeli untuk kebutuhan beberapa hari.

Penggilingan padi yang juga sebagai lumbung titipan petani diakuinya bisa menyimpan hingga 10 ton gabah. Gabah tersebut merupakan milik sejumlah petani dengan diberi nama pada karung.

Catatan simpanan tersebut sekaligus menjadi tabungan bagi petani. Petani disebutnya akan mengambil dalam bentuk beras yang digiling saat dibutuhkan. Sebagian untuk konsumsi keluarga dan dijual kepada pemilik penggilingan padi.

Kenaikan harga beras diakui juga oleh Hasan, salah satu pedagang beras di pasar tradisional Pasuruan. Ia menyebut menyediakan stok sekitar 5 ton beras berbagai jenis.

Hasan, salah satu pedagang beras di pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, memperlihatkan stok beras yang akan dijual, Jumat (16/8/2019) – Foto: Henk Widi 

Jenis beras yang dijual disebutnya beras curah dan kemasan dengan standar kualitas biasa, medium dan super. Jenis beras curah disebutnya ikut mengalami kenaikan akibat produksi panen turun imbas kemarau.

“Imbasnya pada stok beras dari petani terhambat dan mempengaruhi harga meski selisih hanya sedikit,” timpalnya.

Hasan menyebut untuk jenis beras kualitas biasa, ia menjual per kilogram dengan harga Rp9.500, kini naik menjadi Rp9.700. Jenis beras kualitas medium semula dijual seharga Rp9.700 kini dijual dengan harga Rp10.000 per kilogram.

Sementara jenis beras kualitas super semula dijual seharga Rp10.500 naik menjadi Rp10.800. Kenaikan tersebut sudah terjadi sejak dari distributor terutama beras kemasan.

Berbagai jenis kemasan diakuinya memiliki merk dagang berbeda. Sejumlah beras diantaranya dijual dengan ukuran mulai 5 Kg, 10 Kg, 15 Kg dan 25 kg. Selain berasal dari wilayah Lampung, beras diakuinya berasal dari wilayah luar Lampung seperti Cianjur dan wilayah lain.

Beras curah yang banyak dimihati masyarakat diakuinya didatangkan dari sejumlah usaha penggilingan padi yang ada di Lampung.

Sumadi, salah satu petani padi di Penengahan menyebut hasil panen saat kemarau menurun. Sebab saat proses masa pembuahan padi kekurangan air dan diserang hama burung pipit dan tikus. Pada lahan seluas setengah hektare ia menyebut bisa mendapatkan hasil panen sekitar 4 ton saat kondisi normal.

Sumadi, salah satu petani di Desa Tetaan Kecamatan Penengahan Lamsel melakukan proses perontokan padi dengan sistem gepyok, Jumat (16/8/2019) – Foto: Henk Widi

Sebaliknya saat panen gadu ia hanya mendapatkan 3 ton. Meski hasil minim ia menyebut gabah akan disimpan untuk kebutuhan hingga panen berikutnya.

Sumadi menyebut lebih memilih menyimpan gabah setelah dijemur. Sebab saat kemarau harga beras di pasaran ikut naik.

Ia akan menggiling gabah saat keluarganya akan membutuhkan beras. Daripada menjual gabah usai panen ia menyebut memilih menyimpan gabah sebagian di lokasi penggilingan padi. Saat akan membutuhkan beras ia memilih melakukan proses penggilingan daripada membeli beras.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com