hut

Pasar Lumpur Tanoker, Alternatif Wisata Pedesaan yang Menarik

Editor: Mahadeva

JEMBER – Lazimnya, kerupuk menjadi salah satu makanan khas dalam perlombaan rakyat dalam rangka memeriahkan kemerdekaan di kampung-kampung. Selain mudah didapat, kerupuk juga identik dengan simbol kerakyatan.

Namun di Ledokombo, Jember, lomba makan kerupuk diganti menjadi lomba makan timun dan buah-buahan. Meski makanan yang menjadi sasaran lomba diganti, tetapi antusiasme dan kemeriahan tetap terasa dalam even yang dinamakan Pasar Lumpur. Sebuah even yang rutin digelar setiap bulan oleh Komunitas Bermain Tanoker, yang berada di Kecamatan Ledokombo, Jember.

Iwan Joyo Suprapto, juru bicara Komunitas Tanoker di Ledokombo saat diwawancarai wartawan, Minggu (25/8/2019). Foto: Kusbandono.

“Pasar Lumpur bulan Agustus ini memang temanya masih dalam suasana kemerdekaan. Dan ini juga sejalan dengan misi kita, mengkampanyekan Pangan Sehat kepada seluruh warga. Melalui gerakan pangan sehat, kita ingin mempromosikan sebuah upaya membentuk masyarakat yang sehat dan kuat, dengan dimulai dari rumah tangga dan desa,” ujar Iwan Joyo Suprapto, juru bicara Komunitas Tanoker di Ledokombo, Minggu (25/8/2019).

Seperti halnya lomba agustusan, lomba makan buah dan kerupuk diawali peserta berjalan menuju makanan yang menjadi sasaran untuk dimakan. Tangan diikat dan kepala harus mendongak (mengarah) agak ke atas, demi bisa menggigit dan melahap makanan yang digantungkan dengan tali rafia.

“Acara lomba makan buah dan mentimun ini kita juga barengkan dengan beberapa lomba lain, seperti lomba menggambar bagi anak-anak serta lomba kreasi jajanan makanan dan minuman sehat,” papar Iwan.

Berbagai macam lomba memperkuat branding Tanoker dan Ledokombo, sebagai pusat wisata edukatif bagi keluarga. Sebuah ikhtiar yang sudah dirintis selama sekitar 10 tahun. “Lomba kreasi jajanan makanan dan minuman sehat yang kita gelar ini diikuti oleh tim PKK dari 10 desa yang ada di Kecamatan Ledokombo. Alhamdulillah kita hari ini juga kedatangan tamu pengunjung antara lain dari Aisyiyah Ambulu, Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini), Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA) Ambulu dan beberapa NGO lain,” terang Iwan.

Salah satu syarat utama dalam lomba kreasi makanan dan minuman sehat ini adalah, penggunaan bahan pangan yang alami dan bebas dari bahan pengawet. Tidak sekedar lomba, acara ini juga menjadi salah satu strategi untuk mengkampanyekan makanan dan minuman sehat.

“Kita mulai revolusi pangan sehat dari dapur. Sebenarnya, di sekitar kita, di alam pedesaan, sudah melimpah bahan makanan alam yang amat bergizi untuk dikonsumsi oleh keluarga. Misi kita adalah mengedukasi hal tersebut, salah satunya melalui lomba-lomba seperti ini,” jelas Iwan.

Yang tidak ketinggalan adalah Lomba Egrang, yang diikuti oleh para pengunjung yang kebanyakan datang bersama keluarga. Egrang merupakan permainan tradisional di pedesaan, permainan sandal besar yang terbuat dari kayu. Permainan tradisional ini amat mengutamakan kekompakan dalam menggerakkan kaki untuk mencapai tujuan.

“Egrang ini sudah menjadi ciri khas dan menu wajib di Tanoker. Dan kebanyakan  pengunjung yang datang ke mari, antusias dengan egrang,” ujar pria asal Desa Sumbersalak tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, Ledokombo dikenal dengan kantong pengiriman pekerja migran Indonesia (sebelumnya dikenal dengan istilah TKI/ Tenaga Kerja Indonesia). Para pekerja tersebut berangkat merantau ke berbagai negara.

Namun, dengan ikhtiar bertahap dari komunitas Tanoker, perlahan wajah Ledokombo kian menunjukkan kemajuan. Tidak hanya melestarikan aneka permainan tradisional, berbagai lomba permainan anak yang mereka gelar juga rupanya mampu memperkuat citra wisata berbasis desa yang ada di Kecamatan Ledokombo.

“Dengan kita mengadakan Pasar Lumpur Ledokombo diharapkan terbangun wahana untuk menunjukkan kreatifitas masyarakat di Kecamatan Ledokombo yang menjadi destinasi wisata belajar yang inspiratif di Jember,” pungkas Iwan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!