hut

Pasokan Air Vital, Petani Lamsel Tambah Embung Kala Kemarau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Keberadaan sejumlah embung vital bagi kebutuhan pasokan air lahan pertanian. Hal tersebut diungkapkan Lasiman, petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel).

Saat kemarau, sejumlah lahan sawah disebutnya masih bisa digunakan menanam padi kala kemarau. Embung disebutnya efektif menjadi penyimpan air saat hujan dan dipakai kala kemarau.

Sejumlah wilayah Penengahan disebut Lasiman masih bisa menanam padi berkat embung. Selain itu pasokan air yang lancar dari irigasi membuat embung dijadikan stok saat terpaksa.

Kebutuhan air dari embung sebagian dimanfaatkan dengan memakai mesin pompa bagi kebutuhan penyiraman tanaman sayuran. Ia memastikan petani sawah tidak kekurangan air berkat embung, air irigasi dan pemanfaatan embung.

Embung yang ada disebutnya sebagian terbentuk secara alami, sebagian dibuat dengan alat berat. Salah satu embung yang baru diakui Lasiman sengaja dibuat saat kemarau.

Lasiman, salah satu petani padi di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, merasakan pentingnya embung untuk lahan pertanian, Jumat (30/8/2019) – Foto: Henk Widi

Sebab penggunaan alat berat eskavator memudahkan proses penggalian. Sejumlah embung diakuinya memiliki kedalaman sekitar dua hingga tiga meter. Sebelum penghujan, menghindari anak anak bermain embung harus dipagar.

“Embung akan sangat vital sebagai tabungan air karena saat penghujan daripada terbuang ke sungai bisa disimpan. Selain itu embung bermanfaat untuk budidaya ikan nila, emas dan mujahir,” terang Lasiman saat ditemui Cendana News, Jumat  (30/8/2019) sore.

Pembuatan embung saat kemarau diakui Lasiman menjadi sebuah cara memanfaatkan air semaksimal mungkin. Sejumlah embung yang ada di Lamsel disebutnya bisa menjadi sumber mendapatkan ikan air tawar.

Pada sejumlah embung dengan pasokan air lancar warga bahkan memilih menanam rumput gajahan sebagai pakan hijauan ternak sapi dan kerbau.

Keberadaan embung yang kaya manfaat dirasakan oleh Rohman, warga Desa Tetaan. Embung yang dibuat diakuinya berkat bantuan dari proyek pembuatan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Rohman, petani Desa Tetaan Kecamatan Penengahan, masih bisa memanen padi berkat ketersediaan embung, Jumat (30/8/2019) – Foto: Henk Widi

Sebab aliran sungai way Pisang bisa dimanfaatkan untuk pengairan pada irigasi, sebagian dibelokkan menjadi embung. Berkat embung ratusan hektare lahan sawah masih tetap produktif kala kemarau.

“Kami masih bisa panen padi saat kemarau dan jerami bisa dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak berkat adanya embung,” tegas Rohman.

Keberadaan embung menurutnya dimanfaatkan oleh petani yang jauh dari irigasi dengan pompanisasi. Proses pompanisasi menjadikan lahan kering masih bisa ditanami saat masa tanam kemarau atau gadu.

Sebagian embung yang masih bertahan juga berada di Desa Karangsari yang dimanfaatkan untuk penyiraman pembibitan permanen. Rohman menyebut saat ini masih perlu adanya tambahan embung agar petani bisa memanfaatkan air selama kemarau.

Keberadaan embung saat kemarau juga menguntungkan bagi warga. Hasan, warga Desa Karangsari menyebut embung bisa berfungsi sebagai kolam ikan air tawar.

Berkat adanya embung di register 1 Way Pisang ia bisa mendapatkan ikan nila dalam jumlah banyak dengan cara memancing. Bagi pemilik lahan jagung embung juga menjadi sumber air yang dipergunakan untuk proses penyiraman.

“Harapan kami saat kemarau pihak terkait bisa memanfaatkan untuk membuat embung agar menjadi tempat cadangan air,” papar Hasan.

Embung pada register 1 Way Pisang diakui Hasan menjadikan sejumlah pohon tumbuh dengan subur. Imbas positifnya sejumlah tanaman kayu keras tumbuh alami dan menghasilkan mata air.

Meski embung buatan namun ia memastikan dalam jangka lima tahun embung tersebut menjadi situ atau danau alami. Selain menjadi pasokan air bagi tanaman, pada bagian mata air warga bisa memanfaatkan untuk kebutuhan air bersih kala kemarau.

Lihat juga...