hut

Pemkab Lembata Dukung Penerapan ‘Muro Laut’

Editor: Koko Triarko

LEWOLEBA – Adanya larangan menangkap ikan di wilayah laut yang ditutup dengan ritual adat yang dinamakan Muro, perlu dilestarikan. Pasalnya, muro atau wilayah larangan menangkap ikan di wilayah laut selama jangka waktu tertentu, justru memberikan keuntungan bagi masyarakat.

“Masyarakat menyambut baik adanya Murolaut ini. Bahkan ada juga Muro mengenai larangan menebang pohon di hutan, dan ini sangat bagus buat kelestarian lingkungan,” kata Frans Kota Making, Tuan Tanah Desa Lamatokan, Kecamatan Ile Ape Timur, kabupaten Lembata, Senin (19/8/2019).

Menurut Frans, sekarang Muro sudah lebih tegas. Bukan saja adat, tetapi pemerintah juga mulai membuatkan larangan. Sebagai tuan tanah dan masyarakat, dirinya merasa gembira karena bukan saja masyarakat adat, tetapi banyak pihak juga mendukung.

Wakil Bupati Lembata, NTT, Thomas Ola Langoday. -Foto: Ebed de Rosary

“Selain muro laut juga muro tentang pembakaran hutan. Juga muro tentang hewan ternak dilarang dipelihara di perkampungan, seperti babi, kambing, sapi dan lainnya, kecuali anjing, ayam atau bebek,” jelasnya.

Dari dulu, tambah Frans, sebagai ketua adat pihaknya berharap agar mitra dari luar bisa membantu mereka. Maka, pihak masyarakat adat mendukung dan merasa gembira dengan yang dibuat LSM dan mitra kerja serta pemerintah.

“Kerja sama ini harus permanen dan panjang, sebab yang dibuat untuk kepentingan anak cucu ke depan. Sebagai ketua adat tantangan memang ada untuk Muro, tetapi kami lebih melihat secara umum,” tuturnya.

Sebagai pemimpin adat, Frans mengakupihaknya selalu memberikan pemahaman, sehingga masyarakat yang kontra, lama-lama paham. Sejak adanya Muro, tidak ada lagi nelayan dari luar yang melakukan pengeboman di perairan Teluk Hadakewa.

“Jangan sampai desa lainnya di sekitar teluk Hadakewa tidak melaksanakan Muro. Harus juga ada forum evaluasi untuk bisa berkomunikasi,” harapnya.

Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (Barakat) yang telah menginisiasi lahirnya Muro.

“Muro itu larangan, dan ini ada jauh sebelumnya agar jangan merusak alam dan lingkungan. Pemerintah desa juga sudah menginisiasi dengan hadirnya Perdes larangan untuk merusak lingkungan, baik di darat maupun laut, baik mangrove dan biota laut lainnya,” ungkapnya.

Sebagai pemerintah kabupaten Lembata, kata Thomas, pihakhya berkomitmen menindakalanjuti dengan membuat Perda. Dirinya yakin, kelesetarian di darat dan di laut bisa terjaga dengan adanya aturan adat dan pemerintah.

“Kami meminta komandan Pos AL Lembata untuk bersama-sama dengan pemerintah dan LSM, menjaga muro laut. Alam laut kabupaten Lembata penuh kekayaan, sehingga perlu dilestarikan dalam jangka waktu panjang,” ujarnya.

Selama ini, kata Thomas, telah ada zonasi tapi sebatas di teluk Lewoleba, di mana 6 bulan dibuka dan 6 bulan lainnya ditutup.

Dirinya berharap, Perda nanti mengarah ke muro di wilayah desa lainnya. “Sungguh luar biasa sinergi antara masyarakat adat, pemerintah dan LSM dalam rangka menjaga laut. Karena wilaya laut kewenangan provinsi, maka pemerintah kabupaten akan berkordinasi dalam pembuatan Perda nanti,” jelasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com