hut

Pencemaran di Sungai Bekasi tak Kunjung Usai

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, mengaku sudah menyerahkan persoalan pencemaran yang terjadi di Kali Bekasi setiap tahunnya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pasalnya, berbagai upaya sudah dilaksanakan Pemkot Bekasi, tetapi belum ada tindakan tegas untuk menghentikan pencamaran di Kali Bekasi. Dari mengirim sampel hingga datang langsung ke Kementerian LH.

“Pemkot Bekasi sudah mengirim beberapa sampel air pencemaran Kali Bekasi di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), bahkan saya datang langsung ke sana, tapi apa? Belum ada penegakannya dan pencemaran tetap terjadi,” ujar Bang Pepen, sapaan akrab Wali Kota Bekasi, Kamis (15/8/2019).

Diakuinya, bahwa antara Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor yang dilintasi Kali Cielungsi-Cikeas saling berdampingan. Karenanya, sudah ada bentuk MoU terkait limbah. Tapi, kembali pencemaran kali tetap terjadi. Untuk itu, Gubernur Jawa Barat yang harus menyelesaikan.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi. –Foto: M Amin

Menurutnya, Kota Bekasi tidak bisa mengatasi limbah yang terjadi di Kali Bekasi, karena muaranya ada di atas.

“Airnya kan dari atas, kewenangan Pemkot Bekasi sampai batas wilayah. Jika penyebab pencemaran dilakukan di Kota Bekasi, maka pasti ditindak,” tandasnya.

Tapi, lanjutnya, pencemaran terjadi dari atas di Sungai Cileungsi dan Cikeas. Air tersebut bersumber dari Hambalang, di tengah terjadi tercemar dan air terus mengalir ke bawah dan berdampak di Kota Bekasi, karena sebagai laluan sebelum ke laut.

“Semua sampel terkait pencemaran Kali Bekasi sudah dikirim ke KLH. Mungkin ada pertimbangan lain, maka belum dilakukan tindakan tegas,” ujarnya.

Dia menduga, jika sampai dilakukan penindakan tegas oleh Kementerian Lingkungan Hidup, akan berdampak pada pengurangan karyawan dan lainnya.

“Saya tidak mau berandai-andai perusahan tertentu, hanya mungkin pertimbangannya itu, jika ditindak akan ada pengurangan karyawan dan lainnya,” tukas Pepen.

Terpisah, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman, mengatakan, pencemaran masih terus terjadi di Kali Cileungsi-Cikeas di wilayah Gunungputri, Kabupaten Bogor.

Pencemaran sudah terjadi sejak dua bulan terakhir, tapi belum ada upaya apa pun untuk menghentikan pencemaran, meskipun diketahui sebelumnya pihak Dinas Lingkungan Hidu (DLH) Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu sudah mengambil langsung sampel di Sungai Cileungsi.

Dia juga mengatakan, bahwa pada 18 Agustus akan ada upacara yang dilaksanakan Relawan Bela Alam (RBA) KODIM 0621/ Kabupaten Bogor, memperingati HUT Kemerdekaan ke-74 RI, di sungai tercemar Cileungsi.

“Komunitas tersebut merupakan  gabungan beberapa elemen masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan kelestarian alam. Usai upacara, mereka akan berikrar untuk mendesak pembebasan pencemaran di Sungai Cileungsi,” ungkap Puarman.

Sungai Cileungsi yang merupakan hulu sungai Bekasi digunakan sebagai bahan baku air PAM Kota Bekasi. Ironisnya, sungai ini kerap tercemar. Ditandai dengan air sungai yang menghitam dan memunculkan bau menyengat, khususnya di musim kemarau. Namun, di musim basah, sungai ini menimbulkan banjir.

Untuk itu, RBA yang merupakan komunitas binaan KODIM 0621 Kabupaten Bogor, tahun ini memusatkan peringatan HUT RI di sungai Cileungsi. Uniknya, lokasi tiang bendera dari bambu akan berada di badan sungai.  Sementara peserta upacara berada di tepi sungai.

Sebuah spanduk ikrar telah disiapkan dan akan ditandatangani sebagai bentuk pernyataan sikap oleh seluruh elemen yang hadir. “Kita jaga alam, alam jaga kita.” Itulah kesadaran mereka. Puarman mengatakan, rencananya upacara tersebut akan bertindak sebagai Inspektur Upacara Bupati /Wakil Bupati Bogor.

Upacara yang digelar RBA diharapkan bisa menjadi momentum bagi pemerintah Kabupaten Bogor dan instansi terkait, untuk bertindak lebih tegas dan keras terhadap pelaku pencemaran.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!