hut

Penjaga Perpustakaan

CERPEN L. SURAJIYA

“BAPAK mau jadi penjaga perpustakaan?”

“Iya.”

“Hati-hati lho, Pak, ada hantunya!”

Begitu percakapan anak-anak dengan calon pegawai perpustakaan yang baru. Anak-anak itu begitu polosnya bercerita tentang hantu yang ada di pojok lemari. Pak Mahdun mendengarkannya dengan seksama, sambil membayangkan seperti apa gambaran hantu itu di mata anak-anak.

Mereka ada yang bilang mirip setan, matanya merah menyala, giginya bertaring, tangan dan kukunya panjang berdarah. Ada juga yang bercerita bahwa di pojok perpustakaan itu, bukan setan tapi kuntilanak.

Rambutnya tergerai panjang, matanya hitam dan bajunya putih, kakinya tidak menyentuh tanah, kira-kira 20 cm di atas lantai. Ada juga yang bilang pernah melihat tengkorak manusia berjalan ke sana-ke mari.

Semua yang diceritakan anak-anak itu dapat dilihat jelas oleh pikiran Pak Mahdun, seolah benar-benar nyata dan ada.

Pak Mahdun tidak takut, namun tersenyum karena anak-anak mampu bercerita dengan detil dan jelas, dia berpikir bahwa imajinasi anak-anak itu luar biasa. Pak Mahdun yakin itu hanya khayalan mereka, hantu-hantu ciptaan yang sengaja dihadirkan di ruang perpustakaan.

Bisa jadi mereka hanya tidak mau belajar atau pinjam buku di perpustakaan untuk menambah pengetahuannya. Tapi Pak Mahdun dapat melihat kelebihan anak-anak itu dari caranya bercerita yang menggebu-gebu, tatapan matanya yang berbinar, seolah-olah mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Mereka anak-anak cerdas, pikir Pak Mahdun, dan mereka hanya menakut-nakuti saja, lebih mudah bilang mereka hanya anak-anak usil, yang perlu diperhatikan potensi yang ada dalam dirinya.

Sebab setiap anak yang tidak biasa cara berpikirnya jelas memiliki kelebihan yang berbeda. Pak Mahdun sudah biasa dengan dunia anak-anak semenjak menjadi guru seni di beberapa Sekolah Dasar dan Taman Kanak-kanak.

Sekarang, dia memutuskan bekerja menjadi penjaga perpustakaan karena hobi Pak Mahdun adalah membaca buku dan menulis.

Pak Mahdun membuka gembok yang tergantung di jeruji besi, lalu membuka pintu dengan kunci yang berbeda.

Kemudian masih juga ada 1 kamar yang menghubungkan ke ruang perpustakaan, suasana sedikit gelap dan barang-barang berserakan. Tidak ada 10 menit Pak Mahdun keluar ruangan. Anak-anak yang masih berdiri di depan pintu utama, langsung bertanya kepada Pak Mahdun.

“Benarkan Pak, ada hantunya?” Mereka ingin tahu, sambil memegangi tangan Pak Mahdun seolah ingin diyakinkan bahwa perpustakaan itu ada hantunya.

Pak Mahdun memang merasakan sedikit bergidik punggungnya ketika melihat di ujung ruangan, tempat hantu yang dimaksud anak-anak. Bulu kuduknya berdiri, Pak Mahdun pun berpikir, kalau benar ada hantunya ia tidak mencium bebauan. Demikian katanya dalam hati.

Pak Mahdun tahu dan merasa ruangan itu hanya kotor, ada plafonnya yang jebol, mungkin karena atapnya bocor, kena hujan dan rapuh.

Atau bisa jadi ada kucing yang mengejar tikus lalu tidak kuat menahan beban kucing kemudian jebol. Pak Mahdun melihat sobek-sobekan kertas yang berserakan di lantai, sehabis dipakai tikus-tikus beranak.

Pak Mahdun berpikir sejenak saat teringat ada guru yang bilang, semoga betah menjaga perpustakaan ini sebab sudah beberapa kali ganti orang dan mengundurkan diri.

“Pak… Pak!” anak-anak itu menarik tangan Pak Mahdun, “Benar kan Pak!”

“Iya benar,” Pak Mahdun menjawab tanpa berpikir, di dalam benaknya dia juga sedikit meyakini ketika ingat harapan dan pesan guru-guru, semoga betah menjaga dan merawat perpustakaan.

“Seperti apa Pak? Rambutnya panjang?”

“Tidak, tidak. Tidak panjang.”

“Matanya merah Pak?” tanya yang lain.

“Tidak merah.”

“Pakai baju putih panjang?”

“Tidak juga,” jawab Pak Mahdun.

Anak-anak sedikit bingung sebab semua gambaran yang diberikan mereka dijawab dengan kata ‘tidak’, lalu hantu macam apa yang ada di sana?

“Tidak ada hantu maupun setan,” kata Pak Mahdun, “Yang ada adalah ruangan itu kotor, perlu dirapikan dan dibersihkan.”

“Tidak percaya, Pak! Pasti ada!”

“Dulu ada yang kesurupan dan berteriak-teriak ‘Aku hantu perpustakaan, tolong aku’ gitu Pak!'”. Anak-anak mulai mengarang cerita agar Pak Mahdun yakin dan tidak jadi menjaga perpustakaan. Mereka merasa kalau perpustakaan buka, pasti akan diberi tugas membuat literasi. Disuruh baca buku, terus menulis resensi, dan banyak tugas lainnya yang harus dikerjakan di perpustakaan.

Anak-anak ini pintar juga, pikir Pak Mahdun. Mereka berbakat mengarang cerita, bagaimana jika di perpustakaan ada lomba menulis cerita tentang hantu perpustakaan?

“Iya benar!” jawab Pak Mahdun gantian meyakinkannya.

“Hantunya bilang: ruangan ini harus dibersihkan dan berjanji tidak akan mengganggu lagi.”

“Nah, benarkan, Pak?” anak-anak lega mendengar penjelasan Pak Mahdun.

“Sudah kubilang, ada hantunya kok tidak percaya,” anak lain menimpali dan saling meyakinkan satu sama lain.

“Lha Bapak bisa bicara dengannya, bagaimana caranya Pak?” tanya anak-anak ingin tahu.

“Pertama-tama saya berdoa niat saya baik, saya mau merawat perpustaaan ini,” kata Pak Mahdun memulai bercerita, “Lalu ada yang bergerak-gerak, bunyi, ‘klutik’ seperti batu jatuh, saya dekati dan kaget. Ada tengkoraknya.” Pak Mahdun mulai serius.

Anak-anak mulai takut.

“Nah benar kan?”

“Ha ha ha… ” Pak Mahdun tertawa, “Itu alat peraga yang sudah rapuh, karena tidak terawat,” jelas Pak Mahdun, “Intinya tidak ada hantu di perpustakaan itu.”

Anak-anak mulai bubar karena bel masuk kelas sudah berbunyi. Pak Mahdun mengambil sapu, membersihkan lantai, menyusun buku-buku yang berserakan.

Dia juga menyeleksi serta mengumpulkan barang-barang seperti alat drumb band, alat-alat batik, alat-alat olah raga, printer, komputer yang sudah rusak tidak terawat.

Pertama dikelompokkan, kemudian lemari-lemari yang masih kotor untuk sementara ini diisi barang-barang yang jarang dipakai, sambil mengingat-ingat benda-benda apa saja yang ada di perpustakaan guna untuk memudahkan pencarian.

Buku-buku sebagian sudah ada yang rusak, berdebu. Rak buku mulai rapuh, dan di ujung timur kran bocor sehingga bekas genangan airnya masih kelihatan, tapi untung sudah dimatikan.

Kalau tidak, bisa jadi ruangan itu terendam dan banyak barang yang rusak terkena air. Itulah pekerjaan pertama Pak Mahdun yaitu membersihkan perpustakaan.

Di luar gedung, di balik perpustakaan ada anak-anak yang nakal, tidak masuk kelas, mengendap-endap serta menggenggam batu. Mereka mencari celah dari jendela untuk melemparkan batu guna menakut-nakuti Pak Mahdun yang lagi tekun dan serius bekerja di ruangan itu sendiri.

Karjo berdiri di ujung sambil mengamati gerak-gerik Pak Mahdun, sedang 4 orang lainnya memperhatikan dari celah jendela samping.

Roni anak yang paling dikenal bandel itu memberi aba, bertanya pada Karjo dengan bahasa tubuhnya dan memberi aba-aba dari tangannya.

Karjo pun mengangguk. Batu itu dilempar ke ruangan yang gelap dan berbunyi ‘prang’, mengenai alat drumb band yang sengaja ditaruh di balik lemari rak buku.

Pak Mahdun terkejut, dadanya berdetak keras, lalu pingsan. Anak-anak itu tidak jadi tertawa, melainkan berputar gedung sambil berteriak, “Pak Mahdun pingsan, Pak Mahdun pingsan…”

Anak-anak berlarian ke perpustakaan juga beberapa guru. Anak-anak tidak ada yang tahu bahwa Pak Mahdun punya riwayat jantung. Mereka menyangka diganggu hantu. Mereka berkerumun, Pak Guru dan anak-anak yang melempar batu ikut panik dan membawa Pak Mahdun ke UKS.

Ada yang memijit kakinya, ada yang menekan perutnya, ada yang mengurut dengan balsem. Pertolongan pertama sudah dilakukan.

Pak Guru memberi kode kepada guru lain bahwa napasnya sudah berhenti, tubuhnya dingin dan wajahnya pucat. Anak-anak yang mendengar bahwa Pak Mahdun meninggal, mereka menangis dan meminta maaf dalam hati serta berjanji tak ingin mengulangi lagi.

Hari itu, anak-anak yang lain merasa yakin bahwa perpustakaan itu telah berhantu, mengganggu hingga Pak Mahdun pingsan dan meninggal. Guru-guru rapat di kantor, anak-anak menangis di luar ruangan, dan beberapa masih di UKS.

Menunggu instruksi dari guru-guru, apakah perlu dibawa ke Rumah Sakit atau langsung ke rumah duka.
Di sisi lain, Pak Mahdun bangkit, lepas dari tubuhnya.

Dia melihat tubuhnya sendiri terbaring dikerumuni anak-anak yang menangis, dia seperti mampu mendengar apa pun yang dibisikkan anak-anak dalam hatinya.

Bahkan mampu pula melihat kejadian dari awal hingga akhir, Pak Mahdun sudah terlepas dari jarak, ruang, dan waktu.

“Maafkan aku Pak, maafkan!” begitu anak-anak sambil menggoyangkan tangannya.

“Iya, Pak! Kami berjanji tidak akan mengulangi lagi dan siap membantu bapak!”

Pak Mahdun melayang-layang di udara, lalu turun dan berjalan di ruangan perpustakaan yang membuat dia tak sadarkan diri. Dia mengawasi ruangan itu. Buku-buku yang masih berserakan, tempat drum band yang belum ditata, alat-alat peraga yang tergeletak di meja, semua belum tersusun rapi.

Dia mengurut dada dan berpikir bahwa pekerjaannya belum selesai. Dia membuka laci meja di depan tempat duduknya, banyak cita-cita dan harapan untuk anak-anak yang belum terwujud. Dia kembali ke UKS, tubuhnya sudah terbujur.

Dia tidak tahu harus berbuat apa, Pak Mahdun menangis, impiannya untuk anak-anak masih mengambang jauh, belum tersentuh. Harapan pada anak-anak yang hebat dan berprestasi dengan buku-buku yang mesti dia baca.

Dia memandangi anak-anak yang menangis dengan iba, memohon pada Tuhan untuk diizinkan kembali ke dalam tubuhnya. Saat itu pula tiba-tiba ada cahaya putih yang meleburkan bayangan, berputar-putar di atas tubuhnya.

Matanya pelan-pelan mulai terbuka dan tangannya bergerak-gerak. Pak Mahdun hidup kembali. Tak ada yang tahu tentang peristiwa yang dialami Pak Mahdun.

Anak-anak kaget ketika Pak Mahdun mulai menggerakkan tangannya, sebagian masih menyangka itu hantu Pak Mahdun yang sudah mati, arwah penunggu perpustakaan. Mereka masih belum yakin hingga Pak Mahdun bangkit dan menyeka air matanya.

Dia duduk di antara 6 anak yang nakal itu. Mereka memeluk Pak Mahdun sambil menangis dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, Pak Mahdun tersenyum.

“Sudahlah! Kamu anak-anak yang baik!” katanya sambil mengelus-elus kepalanya. “Mari ke perpustakaan!”

Pak Mahdun beranjak dari tempat tidur itu, diikuti anak-anak. Mereka merapikan perpustakaan bersama. Seolah-olah tak pernah ada yang terjadi. Mereka semua bekerja, membenahi, merapikan, dan membersihkan ruangan itu.

Mereka jadi lupa tentang hantu perpustakaan dan memang sesungguhnya hantu perpustakaan itu juga tidak ada. Guru-guru dan anak-anak yang lain, hanya tahu, Pak Mahdun yang telah mati, hidup kembali. ***

L Surajiya, penulis yang tinggal di Kulon Progo, Yogyakarta. Buku yang sudah diterbitkan kumpulan cerpen “Aku Istriku dan Bukan Apel”, 2006. Salah satu pendiri Makna, Media Para Perupa. Bergiat di komunitas Sastra Rupa “Api Kata Bukit Menoreh” dan Komunitas Studio Gunung, Kulon Progo.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya orisinal, belum pernah dimuat di media mana pun baik cetak, online, dan juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!