hut

Perajin Perak di Karangasem Butuh Perhatian

Editor: Koko Triarko

GIANYAR – Kerajinan ukir perak asal Gianyar, Bali, sudah terkenal hingga ke penjuru dunia. Karya ukir dengan seni tinggi dapat dijumpai di sejumlah pedagang artshop di kawasan objek wisata Gianyar. Namun, di Kabupaten Karangasem, tepatnya di Desa Yeh Bunga, Kecamatan Bebandem, Karangasem, juga terdapat beberapa perajin perak ukir. Hasilnya pun tidak kalah bagus dengan hasil kerajinan perak di Gianyar. 

I Kadek Sabda, salah seorang perajin seni ukir perak setempat, menjelaskan, kerajinan perak ini diadopsi dari Gianyar yang memang merupakan sentra kerajinan perak ukir di Bali. Ia mengakui, keahliannya membuat seni ukir perak didapatkan saat menjadi buruh di kawasan industri produk kerajinan di Gianyar.

“Kurang lebih saya ada tiga tahun kerja di sana. Awalnya, saya belajar, lama-lama bisa sendiri,” kata Kadek Sabda, saat ditemui Selasa, (20/8/2019) siang.

Beberapa hasil kerajinan seni ukir perak dari berbagai motif hasil kerajinan warga Desa Yeh Bunga, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali. -Foto: Sultan Anshori

Kini, sudah kurang lebih selama empat tahun ia menekuni profesi sebagai perajin seni ukir perak di desanya. Menurutnya, selain dia sendiri, juga ada beberapa orang yang berprofesi yang sama. Tentunya, dengan latar belakang yang sama, yaitu sama-sama pernah belajar dan bekerja sebagai buruh kerajinan perak di Kabupaten Gianyar.

Bukan persoalan mudah ketika Kadek Sabda ingin membuka usahanya sendiri di desanya. Ada banyak rintangan yang dihadapi saat mencoba merintis usahanya ini. Mulai dari permodalan, bahan baku, hingga proses akhir, yaitu pemasarannya.

Ia mengatakan, kurangnya modal usaha untuk terus konsisten menjalankan usahanya ini terbilang cukup sulit. Mengingat cukup besarnya modal usaha untuk menekuni usaha ini, menjadi faktor penting.

Ia mengatakan, jika mau membuat usaha dengan skala besar dengan hasil yang juga besar, juga dibutuhkan modal puluhan juta rupiah. Karena itu, ia berharap ada pihak terkait untuk membantu permodalan bagi dirinya.

“Faktor lain, yaitu soal bahan baku. Bahan baku (perak) ini saya beli dari Desa Celuk, Gianyar. Jadi, kalau bahan baku peraknya kehabisan stok di pengepul, maka tentu akan mempengaruhi proses pembuatan seni ukir perak ini alias tidak beroperasi untuk sementara waktu,” imbuh Kadek Sabda.

Faktor lainnya adalah soal promosi. Kata Kadek Sabda, promosi ini menjadi bagian terpenting untuk terus eksistensi dalam upaya mengenalkan produk seni ukir perak ini kepada tamu atau wisatawan. Hal ini disebabkan branding seni ukir perak kalah jauh terkenal dengan seni ukir di Kabupaten Gianyar.

Namun, dirinya mengaku tidak patah arang untuk terus mengenalkan produk seni ukir khas Karangasem ini. Meskipun semua bahan dasarnya ia pasok dari pengepul perak di Gianyar.

“Saya berharap, ada peran pemerintah untuk membantu kami yang ingin merintis usaha ini. Saya pikir, ini produk kerajinan yang baik prospeknya,” tegasnya.

Saat ini, seni ukir buatannya ini masih diminati oleh warga Karangasem lokal dan beberapa tamu domestik lainnya, yang kebetulan sedang berlibur di Kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Bali ini.

“Kebanyakan saya membuat seni ukir yang dipadukan dengan produk kerajinan kerang replika hewan. Seperti penyu, ikan, dan beberapa produk lain berupa gelas, piring mangkok dan lainnya. Untuk rata-rata, harga seni ukir ini saya jual Rp500.000 hingga jutaan rupiah. Tergantung dari motif ukiran serta tingkat kesulitannya. Dalam sebulan, saya bisa membuat setidaknya sepuluh motif kerajinan ukir perak,” katanya lagi.

Ia berharap, ke depan produk kerajinan ukir perak ini dapat terkenal hingga ke manca negara.

Lihat juga...