hut

Perangi ‘Stunting’, Bupati Purbalingga Kampanyekan ASI Eksklusif

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, gencar mengkampanyekan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan kepada para ibu di Purbalingga.

Menurutnya, pemberian ASI eksklusif ini sangat penting untuk mencegah penyakit stunting, sekaligus untuk meningkatkan daya tahan tubuh balita.

“Kita harus terus melakukan upaya untuk mencegahan stunting, yaitu kondisi dimana tinggi badan anak jauh lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi, karena itu pemberian ASI eksklusif bagi balita sangat penting,” kata Bupati Purbalingga, Sabtu (31/8/2019).

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, di ruang kerjanya, Sabtu (31/8/2019) – Foto: Hermiana E. Effendi

Bupati yang biasa disapa Tiwi ini juga memaparkan, penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir. Sehingga para ibu, harus memperhatikan asupan gizi sejak masih mengandung dan setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif harus menjadi prioritas.

Tiwi juga meminta agar Puskesmas-Puskesmas di wilayah ikut aktif mendorong pemberian ASI eksklusif. Menurutnya, pemberian ASI eksklusif bagi balita sangat bermanfaat, baik bagi balita maupun ibunya.

Balita yang diberikan ASI eksklusif, lanjutnya, daya tahan tubuhnya sangat terjaga dan jarang sakit. Dengan memberikan ASI Eksklusif juga mampu meningkatkan bonding atau ikatan yang kuat antara ibu dan anak.

“Anak-anak di Purbalingga diharapkan tumbuh sehat dan kuat, menjadi generasi yang premium. Dan hal tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.

Sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan anak–anak Purbalingga yang sehat, Pemkab Purbalingga juga secara rutin memberikan bantuan makanan tambahan (BMT) bagi balita secara berkala.

Terpisah, Kepala Puskesmas Kemangkon, Suharno, mengatakan, penguatan program pemberian ASI eksklusif di wilayah Kecamatan Kemangkon terus diupayakan melalui berbagai kegiatan promotif dan edukatif kepada masyarakat, terutama kepada para ibu hamil dan ibu menyusui. Hingga Juni 2019, setidaknya sudah ada 195 balita yang lulus ASI eksklusif.

“Jumlah itu baru 54,15 persen dari target sasaran yang ditetapkan Dinas Kesehatan yakni 70 persen ibu menyusui. Insya Allah akhir tahun ini target 70 persen bisa terpenuhi,” pungkasnya.

Lihat juga...