hut

Perjalanan Panjang Keterlibatan POJ di Event Astronomi Internasional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Keterlibatan Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) di pelatihan peserta olimpiade astronomi ternyata sudah dimulai sejak tahun 2004. Bahkan, para ahli astronomi Indonesia di bawah naungan POJ sudah beberapa kali mengambil peran sebagai juri dalam ajang internasional.

Staf Astronomi POJ, Roni Syamara, mengungkapkan, pertama kalinya POJ terlibat dalam pelatihan tim peserta astronomi adalah pada tahun 2004.

“Pada tahun 2004 itu pemerintah mulai memasukkan astronomi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Saat itulah, POJ mulai terlibat untuk pelatihan tim peserta astronomi. Waktu itu, kita melakukan pelatihan untuk tim dari Provinsi DKI Jakarta,” kata Roni saat ditemui, Jumat (9/8/2019).

Keterlibatan POJ berlanjut pada OSN 2005, dimana DKI Jakarta menjadi tuan rumah.

“POJ saat itu menjadi lokasi observasi dan pengolahan data. Untuk observasinya dilakukan di roof top yang sekarang biasa dijadikan lokasi peneropongan,” papar Roni lebih lanjut.

Pada tahun 2008, Indonesia menjadi tuan rumah IOAA ke-2. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Sespimpol Lembang.

“Observasinya di Lembang tapi ujian tulisnya disalurkan ITB kalau saya nggak salah. POJ selain terlibat dalam hal pelatihan dan pembinaan tim nasional Indonesia juga bertanggung jawab sebagai juri dan asisten juri,” urai Roni.

Ia menjelaskan, yang menjadi juri adalah ahli astronomi POJ Widya Sawitar dan yang menjadi asisten juri adalah dirinya dan staf astronomi POJ Rayhan.

“Sejak saat itulah, tim nasional Indonesia yang akan berangkat ke IOAA  mendapatkan pelatihan di POJ,” ucapnya.

Alasan mengapa POJ dijadikan tempat pelatihan, menurut Roni, adalah karena planetarium yang ada di POJ bisa diatur untuk menampilkan langit dari daerah mana saja.

“Contohnya, untuk tim nasional Indonesia tahun ini, kita bisa menampilkan langit Hungaria di planetarium. Sehingga para siswa akan terbiasa dengan tata letak benda langit di langit Hungaria,” kata Roni menjelaskan.

Ia juga menambahkan bahwa pelatihan yang diselenggarakan oleh POJ bukan hanya untuk astronomi tapi juga untuk kepentingan Olimpiade Kebumian atau IESO (International Earth Science Olympiad).

“Target pelatihan astronomi antara lain adalah untuk mengenali 88 rasio bintang, bagaimana formasinya, bintangnya apa, siapa bintang alfa, beta dan gambarnya,” ujar Roni.

Sementara untuk kebumian, materi rasi bintang lebih terkait pada horoskop.

“Pada tahun 2010, POJ kembali terlibat sebagai juri pada event APAO (Asia Pasific Astronomic Olympiad) di Tolikara Papua,” ujar Roni. Diikuti dengan menjadi juri di APAO Tomohon pada tahun 2013.

“Indonesia itu kembali menjadi tuan rumah IOAA pada tahun 2015 di Magelang. Saat itu dibuka oleh Anies,” lanjut Roni.

Roni menegaskan jejak prestasi astronomi Indonesia tidak kalah dengan para peserta astronomi dari luar negeri.

“Peserta kita selalu pulang membawa medali. Jadi, Indonesia itu nggak kalah dari negara lain untuk astronomi,” pungkasnya.

Lihat juga...