Perusahaan Tambang di NTB Diminta tak Hanya Pikirkan Keuntungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MATARAM – Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkiflimansyah, berharap supaya perusahaan tambang yang beroperasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam menjalankan usaha tidak hanya memikirkan masalah keuntungan semata.

Tapi, lanjutnya, masalah kesejahteraan ekonomi masyarakat di area lingkar tambang juga harus menjadi perhatian, jangan sampai masyarakat yang ada di sekitar lingkar tambang emas justru hidup dalam kemiskinan.

“Perusahaan jangan hanya berpikir keuntungan, tapi juga harus memikirkan, bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang, jangan sampai jadi kantung kemiakinan,” tegas Zul, sapaannya, di Mataram, Kamis (15/8/2019).

Sebab bagaimanapun keberadaan masyarakat di areal tambang merupakan tanggungjawab sosial perusahaan, baik menyangkut kesehatan maupun kesejahteraan ekonomi dalam bentuk pemberdayaan ekonomi atau keterampilan.

Karena itu, perlu dibuatkan blue print atau master plan tentang kontribusi lain dari kehadiran tambang, baik kontribusi langsung maupun tidak langsung. Misalnya masyarakat bisa langsung bekerja di perusahaan tambang yang ada. Sementara kontribusi tidak langsung berupa pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas.

“Hal lain tidak kalah penting adalah para pengusaha tambang harus mulai memikirkan bahwa ke depan tidak ada lagi pemutusan hubungan kerja secara mutlak,” katanya.

Mulai dari sekarang, lanjutnya, karyawan tambang perlu dilatih menyiapkan diri menjadi entrepreunership. Jadi, ketika nanti ada persoalan, tambang sudah tidak ada, para pekerja bisa membangun sendiri kehidupan ekonominya secara mandiri.

Pengamat ekonomi Universitas Mataram, Firmansyah mengatakan, potensi tambang yang cukup besar di NTB memiliki peran besar bagi kemajuan ekonomi.

Namun di satu sisi, juga dapat menimbulkan masalah besar bagi lingkungan sekitar, apabila potensi pertambangan tersebut tidak dikelola atau dimanajemen dengan baik oleh pemerintah.

“Pemain besar harus mengubah filosofi dalam mengelola tambang, jangan lagi memaknai masyarakat sekitar sebagai pengganggu, tapi jadikan bagian dari proses industri tambang yang ada,” tegas Firman.

Ia meminta, supaya investor tambang besar di NTB  mulai mengubah pola dalam melakukan kegiatan eksplorasi. Perusahaan harus menyalurkan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat di area lingkar tambang.

Dengan meningkatkan skill dan kemampuan bekerja, sehingga mampu direkrut kerja. Maka akan ada rasa ikut memiliki. Dengan demikian lingkungan NTB akan selalu aman dan nyaman bagi dunia investasi.

Pemerintah juga diminta bisa membantu dan mempermudah semua proses pengurusan izin dalam melakukan investasi bagi perusahaan yang benar-benar memiliki keseriusan, bukan investor abal-abal.

“Menginventarisir potensi investasi di NTB, kemudian ditindaklanjuti dengan penyiapan SDM handal bidang pertambangan. Sehingga dalam semua proses dari mulai operasi tambang, masyarakat NTB menjadi bagian. Dengan demikian masyarakat lokal tidak lagi menjadi penonton di tanah sendiri,” katanya.

Lihat juga...