hut

Pompa Air, Solusi Petani Lamtim Garap Sawah Saat Kemarau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Saat sebagian petani tidak bisa menggarap lahan sawah akibat kemarau, petani di Lampung Timur (Lamtim) masih memanfaatkan air untuk lahan pertanian.

Sukiman, petani Desa Negeri Agung,Kecamatan Gunung Pelindung, menyebut memanfaatkan mesin pompa atau sedot air. Mesin tersebut dipergunakan untuk mengalirkan air dari embung melalui saluran irigasi.

Sukiman, salah satu petani di Desa Negeri Agung menunggu aliran air yang diperoleh dengan menggunakan mesin pompa ke lahan sawah jelang pengolahan lahan, Jumat (9/8/2019) – Foto: Henk Widi

Meski mengeluarkan biaya ekstra untuk bahan bakar mesin pompa, Sukiman tetap bisa mengairi lahan sawah. Sistem pengairan disebutnya dilakukan secara komunal bersama petani lain.

Sistem pembagian air dilakukan sejak masa pengolahan lahan hingga masa tanam. Proses pengolahan lahan disebutnya mempergunakan traktor tangan. Selanjutnya proses pembuatan tanggul atau tamping menggunakan cangkul.

Masa tanam saat kemarau (gadu) kendala pasokan air bisa diatasi petani. Meski demikian pasokan air hanya bisa menjangkau hingga jarak satu kilometer dari lokasi penyedotan air.

Sejumlah petani yang tidak terjangkau oleh aliran air memilih menanam jagung. Selain menanam jagung, sebagian petani memilih menanam kacang hijau dan kedelai sebagai penyelang saat kemarau.

“Petani yang tidak mendapat pasokan air untuk lahan sawah masih bisa menggunakan lahan untuk menanam tanaman hortikultura jenis sayuran, kacang tanah, kedelai yang membutuhkan pasokan air minim,” ungkap Sukiman saat ditemui Cendana News, Jumat (9/8/2019) sore.

Biaya ekstra untuk membeli bahan bakar disebut Sukiman mencapai ratusan ribu per hari. Biaya tersebut ditanggung bersama oleh sejumlah petani karena air yang akan dipergunakan untuk sejumlah lahan.

Puluhan hektare lahan sawah disebutnya pada masa pengolahan tanah tidak membutuhkan air yang banyak. Sebab air hanya dipergunakan untuk merendam lahan agar lebih mudah ditraktor.

Selanjutnya kebutuhan air akan dipergunakan lagi memasuki masa tanam. Saat masa pengolahan tanah (labuh) ia mulai melakukan proses penyemaian bibit (ngurid).  Setelah bibit padi memasuki usia tiga pekan atau 21 hari benih mulai siap ditanam (tandur).

Pada masa tanam ia tidak membutuhkan air yang banyak sehingga air bisa dialirkan ke lahan milik petani yang lebih membutuhkan.

“Kami akan melakukan proses perendaman lahan sepekan setelah padi ditanam atau menjelang pemupukan pertama sehingga pola pengaturan air sangat dibutuhkan,” beber Sukiman.

Sukiman menyebut keberadaan sejumlah embung, saluran air yang letaknya lebih rendah membuat air tidak bisa naik ke lokasi lahan sawah. Berkat bantuan mesin pompa pada masa tanam gadu, ia dan sejumlah petani masih bisa menggarap lahan.

Meski air terbatas dengan sistem penggunaan air bergilir maka sejumlah petani yang masih menanam padi tetap mendapat pasokan air.

Petani lain bernama Basir mengaku lebih beruntung, sebab sebelumnya memanfaatkan mesin pompa. Namun usai saluran irigasi diperbaiki, sejumlah petani masih bisa menggarap lahan sawah.

Basir, salah satu petani di Desa Negeri Agung Kecamatan Gunung Pelindung Lampung Timur memperlihatkan saluran irigasi yang selesai diperbaiki untuk memperlancar pasokan air petani padi di wilayah tersebut, Jumat (9/8/2019) sore – Foto: Henk Widi

Pola penggiliran air untuk sejumlah lahan sawah membuat petani bisa menggarap lahan untuk menanam padi. Sebagian petani yang beralih menanam jagung, kedelai, kacang hijau bahkan bisa mengurangi kebutuhan air.

“Pengurangan jumlah pengguna air bagi lahan pertanian membuat petani bisa membagi air secara merata,” cetus Basir.

Terbatasnya pasokan air membuat petani memaksimalkan tegalan sawah. Sejumlah tegalan dimanfaatkan untuk menanam palawija yang ditumpangsarikan dengan padi . Penanaman sayuran jenis kacang panjang diakui Basir menjadi sumber pemasukan baginya.

Sebab tanaman kacang panjang bisa dipanen sebelum padi mulai berbulir. Basir bahkan menyebut tanaman kacang panjang yang ditanam saat kemarau tumbuh dengan subur sehingga bisa dimanfaatkan bagian buah untuk sayuran.

Budiman, petani yang ikut memanfaatkan mesin pompa menyebut masih tetap menggarap sawah. Semula ia ingin menanam jagung namun karena prediksi dalam jangka empat bulan ke depan banyak petani tidak menanam padi, ia akan kesulitan mendapatkan beras.

Budiman, petani di Desa Negeri Agung mulai melakukan pengolahan lahan memanfaatkan air yang disedot dari saluran irigasi, Jumat (9/8/2019) – Foto: Henk Widi

Saat mendekati musim tanam gadu, harga beras di level pengecer sudah mencapai Rp10.000 per kilogram. Tanpa menanam padi meski kemarau ia khawatir harga beras yang naik akan menyulitkan keluarganya.

“Meski harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mesin pompa saya tetap menanam padi varietas toleran kemarau,” beber Budiman.

Petani lain yang tidak menanam padi diakui Budiman justru menguntungkan bagi petani lain. Sebab kebutuhan air yang terbatas hanya dimanfaatkan sejumlah petani.

Dari sekitar ratusan hektare lahan pertanian sawah di Desa Negeri Agung, Lamtim, hanya puluhan hektare lahan sawah ditanami padi. Saat kemarau puluhan hektare lahan sawah milik petani setempat dibiarkan menjadi lahan kering dan ditanami palawija.

Lihat juga...