hut

Prevalensi Autis di Masyarakat Semakin Meningkat

Editor: Mahadeva

Pakar autis dari Lembaga Autism Initiative at Mercychurst (AIM), Universitas Mercychurst, Amerika Serikat, Prof Bradly McGarry, dalam seminar Autisme Spectrum Disorder – Foto: ist/Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Austisme, selama ini dikenal sebagai penyakit perkembangan otak. Gejalanya ditandai dengan adanya gangguan dan kesulitan penderita untuk berinteraksi sosial, keterbatasan berkomunikasi verbal dan non verbal, gangguan perilaku minat dan adan aktivitas yang terbatas dan berulang. 

Saat ini, secara global angka kejadian autisme semakin meningkat. Laporan Center for Disease Control and Prevention, menyebut,  prevalensi kejadian penderita autisme meningkat dari 1 per-150 populasi di 2000, menjadi 1 per-59 di 2014. Di indonesia, diperkirakan ada sekira 4 juta orang menderita austisme. Mereka sering disebut juga mengalami gangguan spektrum austisme.

Penyebab autisme, sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun diyakini sebagai multifaktor, yang merupakan kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Hal itu ditengarai menjadi penyebab utama munculnya penyakit. “Yang jelas ada faktor genetik memberikan kontribusi penyebab dari autis, misalnya hamil di usia tua, waktu hamil terinfeksi rubella, saat hamil usia masih muda, terkena toksin dan sebagainya,” kata Pakar kesehatan anak dari Fakultas Kedokteran, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat (FKKMK) dr. Mei Neni Sitaremsi PhD., Sp.A(K) di sela kegiatan seminar Autisme Spectrum Disorder.

Menurut Sitaremi, di Indonesia umumnya para orang tua kerap terlambat menangani anak autisme. Padahal, sebelum umur anak sampai dua tahun, semestinya sudah harus diperiksakan ke petugas kesehatan dan psikolog. Terlebih gejala apabila anak terkena autis sebenarnya dapat diamati. “Gejala awal biasanya anak cenderung diam dan sering main sendiri,” katanya.

Apabila sejak awal anak sudah diperiksa dan didiagnosa terkena autis, maka bisa dilakukan tata laksana dan prosedur penanganan kesehatan yang lebih baik. Penanganan dengan melibatkan dokter, psikolog, pendidik, keluarga serta lingkungan. Penderita autis, pada umumnya sering mengalami gangguan keterbatasan kemampuan intelektual antara 45 hingga 60 persen. Mengalami kejang, gangguan pencernaan, gangguan tidur dan gangguan sensorik serta gangguan pemusatan perhatian dan perilaku.

Pakar autis dari Lembaga Autism Initiative at Mercychurst (AIM), Universitas Mercychurst, Amerika Serikat, Prof Bradly McGarry, mengatakan, penyakit autisme tidak bisa disembuhkan. Sebaliknya yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap penderita autis. “Prinsipinya bukan untuk disembuhkan, mereka memiliki kemampuan khusus sehingga perlu diterapi dan penanganan khusus,” katanya.

Keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh anak autis, tidak menjadi penghalang untuk bisa memperoleh pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi. Menurutnya, kampus perlu menyediakan fasilitas khusus dan perlakukan khusus, bagi mahasiswa autis.  “Perlu dukungan agar mereka bisa masuk universitas selayaknya dengan calon mahasiswa lain, tidak hanya dukungan akademis tapi atau non akademis, sehingga mereka bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik,” katanya.

Dion, salah satu alumnus dari prodi ilmu sejarah FIB UGM di 2013 mengatakan, selama kuliah di kampus UGM hanya memiliki gangguan pada konsentrasi. Ia mengaku tidak  mengalami banyak kendala dalam proses perkuliahan. “Selama kuliah, saya masih bisa ikut kegiatan dan berinterkasi dengan teman, meski teman-teman banyak tidak tahu saya mengalami hal itu,” kenang Dion yang saat ini menjadi volunteer memberikan mentoring dan pemandu bagi penderita autis yang melanjutkan sekolah di Mercychurst University, Amerika Serikat.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna Sugarda, mengatakan, UGM memiliki komitmen untuk memberikan kesempatan kepada seluruh anak bangsa mengenyam kuliah di kampus UGM.

Bagi mahasiswa penyandang khusus, mereka akan medapatkan hak yang sama dengan mahasiswa lainnya. “Kampus akan selalu memperlakukan mahasiswa dengan kemampuan khusus ini bisa mendapatkan hak dan fasilitas yang sudah tersedia,” pungkasnya.

Lihat juga...