hut

Puji Lestari, Difabel yang Pantang Menyerah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BANJARNEGARA — Kecelakaan yang terjadi 15 tahun lalu dan membuat Puji Lestari (32) lumpuh, tangan kanan, kaki dan tulang belakang remuk, nyatanya tak membuat perempuan tersebut putus asa. Serangkaian operasi ia jalani dan meskipun harus duduk di kursi roda, saat ini ia sudah mampu hidup mandiri dan tercatat sebagai salah satu pegawai di Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara, Jateng.

Puji yang kala itu masih menjadi siswa SMK Negeri 1 Bawang, Kabupaten Banjarnegara, menjadi korban tabrak lari bersama temannya. Waktu itu ia berboncengan sepeda motor dengan temannya. Temannya meninggal di lokasi kecelakaan. Puji yang ditolong warga dan dilarikan ke RS, tertolong, meskipun ia harus menerima kondisinya yang lumpuh.

“”Kecelakaan tersebut menjadi titik balik hidup saya, dari seorang remaja yang normal, ceria, menjadi lumpuh, tidak bisa berjalan dan lengan tangan kanan saya juga patah,” tuturnya, Jumat (23/8/2019).

Puji bukanlah berasal dari keluarga yang berada, ayahnya, Mustakim, warga Desa Winong RT 2 RW 2, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara ini hanya bekerja sebagai buruh tani dan ibunya, Mistinah, sudah belasan tahun menjadi TKI di negeri orang.

Akibat kecelakaan yang dialaminya, Puji harus menjalani 7 kali operasi. Mulai dari operasi pasang dan lepas pen lengan kanannya, operasi pasang pen tulang belakang, panjangkan otot kaki dan kaki kanannya, kemudian operasi kebocoran sendi dan lainnya. Semua dijalani Puji dengan hanya didampingi ayahnya.

Perjuangan yang dilakukan Puji bersama ayahnya, demi untuk sembuh sangat luar biasa. Di tengah keterbatasan ekonomi, Mustakim tetap berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan biaya guna operasi putrinya.

Biaya operasi Puji yang bertubi-tubi cukup besar, mencapai Rp30 juta lebih dan pada waktu itu belum ada jaminan kesehatan dari pemerintah. Mustakim pun harus berutang kesana kemarin demi membiayai operasi putrinya.

“Sekarang saatnya saya berbuat untuk bapak, meringankan bebannya, karena sekarang saya sudah bekerja sebagai karyawan di RSI Banjarnegara, meskipun masih menjalani masa orientasi, karena baru masuk kerja bulan Juli kemarin,” kata Puji.

Puji mengaku sangat beruntung, perkenalannya dengan dr Agus Ujianto yang merupakan direktur RSI Banjarnegara, membawanya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak seperti sekarang ini.Agus Ujianto merupakan salah satu dokter yang mengoperasi Puji dan setiap kali kontrol, mereka bertemu hingga akrab. Puji bercerita tentang kecelakaan yang menimpanya dan pada akhirnya, dr Agus menawarinya untuk bekerja di RSI.

Awalnya, Puji berangkat bekerja dengan diantar-jemput menggunakan mobil sewaan. Namun, untuk lebih mengirit biaya, ia sekarang membeli sepeda motor bekas dan menodifikaisnya, supaya bisa dikendarai sendiri dengan keterbatasan kakinya.

“Sekarang masih terus belajar mengendarai sepeda motor yang sudah dimodifikasi, supaya lebih lancar, setelah itu saya akan membuat SIM D, sehingga berangkat dan pulang dari tempat kerja bisa dilakukan sendiri,” tutur Puji penuh semangat.

Sekilas, tak terlihat lagi duka mendalam yang pernah bertahun-tahun terpancar dari mata Puji Lestari. Raut wajahnya kini memancarkan banyak harapan setelah berhasil bangkit dari keterpurukan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!