hut

Puluhan Tahun Berlantai Tanah, Rumah Mbah Samikem Kini Jauh Berubah

Editor: Mahadeva

YOGYAKARTA – Program lantainisasi yang dijalankan Yayasan Damandiri, melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari, benar-benar mampu mengubah kehidupan masyarakat di desa terpencil, yaitu Desa Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta. 

Selama puluhan tahun tak tersentuh bantuan, kini mereka akhirnya bisa merasakan, sekaligus menikmati program bantuan yang membuat kondisi rumah mereka menjadi jauh lebih baik.

Salah satunya seperti dirasakan Mbah Samikem (60). Warga Dusun Nyemuh, Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta yang masuk dalam katagori warga miskin tersebut, sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani dan buruh ternak.

Mbah Samikem (60) warga dusun Nyemuh, Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta – Foto : Jatmika H Kusmargana

Saat ini, Mbah Samikem terlihat gembira, setelah rumah layak yang selalu diidam-idamkannya, kini sudah dimiliki. “Sejak rumah ini dibangun, lantainya ya, hanya berupa tanah. Kalau dihitung sudah puluhan tahun. Sejak anak saya masih kecil, sampai sekarang sudah menikah dan punya anak tiga,” katanya saat ditemui Cendananews.

Mbah Samikem merupakan satu dari ratusan warga Desa Krambilsawit, yang mendapat bantuan lantainisasi dari Yayasan Damandiri di 2019. Melalui KUD SHS Mandiri Lestari Krambilsawit, Yayasan Damandiri berupaya mengagatasi persoalan kemiskinan warga di desa tersebut.

Merenovasi rumah warga yang belum layak, menjadi salah satu program yang dijalankan untuk membantu warga. Ratusan rumah yang lantainya masih berupa tanah, diberi bantuan material pasir, semen serta biaya tenaga tukang. Total bantuan yang diberikan masing-masing mencapai Rp1,5 juta. Dengan program bantuan lantainisasi diharapkan, kondisi rumah warga akan menjadi lebih bersih, sehat indah dan tertata.

“Ya, senang sekali, karena selama puluhan tahun lantai rumah ini kan masih berupa tanah. Sekarang sudah disemen semua. Jadi terlihat jauh lebih bersih, dan indah,” tandasnya.

Memiliki rumah tradisional Jawa model limasan, Mbah Samikem yang tinggal bersama anak dan tiga orang cucu, memang sudah sejak lama ingin menyemen lantai rumahnya. Namun apa daya, tidak adanya biaya, membuatnya tidak mampu mewujudkan keinginan tersebut.

“Sebenarnya ya sejak dulu pengen disemen. Tapi tidak punya biaya. Untuk beli semen dan pasir disini kan mahal. Padahal saya cuma buruh tani biasa. Beruntung ada bantuan dari koperasi. Sehingga bisa terwujud,” pungkasnya.

Lihat juga...