hut

Ratusan Hektare Sawah di Banjarnegara Kekeringan

BANJARNEGARA – Ratusan lahan pertanian di Banjarnegara terdampak kekeringan. Data terbaru menyebut, hingga Juli 2019 jumlahnya sudah mencapai 575 hektare.

Dari ratusan hektare tersebut, 53 hektare diantaranya adalah tanaman padi dan sudah puso. Mendapati hal tersebut, Pemkab Banjarnegara mendirikan posko penanggulangan bencana kekeringan di wilayah terdampak.


Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Totok Setya Winarna, saat ditemui Cendana News, Senin (5/8/2019). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Posko diharapkan dapat membantu mencari solusi bersama petani. Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Totok Setya Winarna, mengatakan, berbagai langkah dilakukan untuk meminimalisir dampak kekeringan terhadap area persawahan.

Pemerintah daerah sudah membentuk brigade, untuk melakukan pendataan serta mencari sumber air. “Brigade bersama dengan petugas dari Badan Penyuluh Pertanian (BPP) melakukan pemantauan secara rutin. Dan brigade mempunyai tugas untuk menganalisa dan mencari sumber air yang bisa disalurkan ke area persawahan. Untuk pompa air sudah disiapkan, sehingga begitu menemukan sumber air yang bisa disalurkan dan lokasinya memungkinan, brigade akan langsung bergerak,” terangnya, Senin (5/8/2019).

Sementara untuk posko, didirikan di wilayah yang mengalami kekeringan paling parah, yaitu Desa Derik, Kecamatan Susukan. Seperti halnya brigade, petugas di posko juga akan mencari sumber mata air terdekat dari lokasi kekeringan. Pengambilan air dilakukan dengan disedot menggunakan pompa.

Luas area pertanian di Kabupaten Banjarnegara mencapai 13.478 hektare. 75 persen merupakan sawah irigasi teknis, dan yang sawah tadah hujan hanya 25 persen.  Namun, dalam kondisi kekeringan seperti saat ini, sawah irigasi juga kesulitan mendapatkan air.

Totok menyebut, sebagian sawah yang mengalami kekeringan sudah diasuransikan. Sehingga, kerugian petani bisa ditekan. Usia tanaman padi di Banjarnegara saat ini rata-rata memasuki 1,5 bulan, sehingga masih membutuhkan air. Untuk tanaman padi yang puso, dipastikan usianya di bawah 1,5 bulan, karena keterlambatan masa tanam.

Untuk mengantisipasi musim kemarau yang masih panjang, petani dihimbau untuk mempercepat masa tanam. Selain itu, juga disarankan untuk menggunakan varietas padi yang umurnya lebih pendek. Hal itu untuk mempercepat masa panen.

Lihat juga...