hut

Ribuan Hewan Penular Rabies di Sikka Belum Divaksinasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Dinas Pertanian kabupaten Sikka telah melakukan vaksinasi terhadap Hewan Penular Rabies (HPR) di 10 kecamatan hingga tanggal 5 Agustus. Selama periode tersebut, baru diakukan vaksinasi terhadap 22.247 HPR dari sebanyak 27.216 HPR yang ada.

“Masih sebanyak 4.869 HPR yang belum divaksin. Penyebabnya karena pemilik rumah tidak berada di tempat selama petugas melakukan vaksinasi,” sebut drh. Maria Margaretha Siko, MSc kepala bidang Kesehatan Hewan, dinas Pertanian, kabupaten Sikka, Senin (12/8/2019).

Kepala bidang Kesehatan Hewan dinas Pertanian kabupaten Sikka, NTT, drh. Maria Margaretha Siko, MSc memaparkan soal populasi hewan penular rabies, Senin (12/8/2019) – Foto: Ebed de Rosary

Selain itu tambah Metha, sapaannya, ada HPR yang tidak bisa ditangkap dan juga masih kecil sehingga tidak bisa dilakukan vaksinasi. Petugas vaksinasi pun akan melakukan vaksinasi kembali setelah stok vaksin tersedia.

“Stok vaksin yang telah digunakan sebanyak 23.960 dosis sementara stok yang tersedia sebanyak 1.500 dosis. Stok yang ada akan dipergunakan untuk vaksinasi penyisiran di kecamatan Waigete,Alok Timur, Bola,Nita, Koting dan Kangae,” terangnya.

Metha menambahkan, ada dua kecamatan yakni Talibura dan Alok Barat dimana ditemukan kasus positif rabies. Untuk melakukan vaksinasi di 2 kecamatan ini pihaknya sedang mengajukan dana tambahan untuk membeli vaksin.

“Kita berharap agar dana sisa pembelian vaksin sebanyak Rp69 juta bisa dipergunakan lagi membeli vaksin. Dengan begitu kami akan melakukan vaksin di dua kecamatan yakni Alok Barat dan Talibura,” ungkapnya.

HPR di 10 kecamatan tersebut kata Metha terdiri dari anjing sebanyak 25.095 ekor, kucing 1971 ekor dan kera berjumlah 150 ekor. Anjing yang telah divaksin sebanyak 20.850 ekor, kucing 1.862 dan kera sebanyak 139 ekor.

“Kita tetap melakukan vaksinasi terhadap HPR yang tersisa sehingga tidak ada lagi kasus rabies di kabupaten Sikka. Kita berharap dana tersedia untuk membeli vaksin dan membayar honor petugas vaksinator,” terangnya.

Sementara itu, sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL), dr. Asep Purnama, berharap agar pemerintah kabupaten Sikka dan pemerintah kabupaten lainnya di pulau Flores dan Lembata bisa terus berkomitmen memberantas rabies.

“Memang perlu sebuah kemauan politik untuk memberantas rabies. Harus ada alokasi anggaran secara memadai dan ini butuh dukungan politik dari dewan dan pemerintah,” ujarnya.

Jika penanganan rabies seperti pemadam kebakaran yang hanya beraksi saat terjadi musibah, kata Asep, maka penanganannya tidak akan tuntas. Harus ada target jelas dan tuntas dalam mengerjakannya.

“Saya melihat selama ini kita seperti pemadam kebakaran saja. Setiap ada kasus kematian akibat rabies baru semua orang heboh, dan mulai mengambil langkah untuk penanganannya,” kata Asep.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com