Sambut Iduladha 1440 H, Warga Lamsel Buat Kulit Ketupat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sehari menjelang Hari Raya Iduladha 1440 Hijriah, permintaan kulit ketupat di sejumlah daerah di Lampung Selatan, meningkat. Ketupat memang menjadi sajian khas masyarakat setempat, tidak hanya pada hari Idulfitri, namun juga pada momentum Iduladha.

Saniman, warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel), mengatakan, sejumlah warga mulai membuat kulit ketupat sehari sebelum hari raya Iduladha, pada Minggu (11/8/2019).

Saniman menyebut, kulit ketupat terbuat dari janur atau daun kelapa muda yang mudah diperoleh dari kebun. Proses pembuatan kulit ketupat dimulai dengan pencarian daun kelapa muda atau janur. Kulit ketupat yang dibuat dipersiapkan dengan sistem gotong royong bersama sejumlah kerabat dan tetangga.

Kaum laki-laki bertugas mencari daun kelapa muda, sekaligus mencari daun kelapa tua untuk pembuatan sarangan atau wadah untuk daging kurban.

Peoses membuat kulit  atau cangkang ketupat, bagi Saniman menjadi salah satu keahlian yang dimiliki sejak kecil. Menganyam kulit ketupat butuh keahlian dengan bentuk yang rapi dan bisa diisi beras. Satu batang janur kelapa, menurut Saniman, bisa dibuat menjadi ratusan cangkang ketupat.

Nurjanah, warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, membuat kulit ketupat dari janur, Sabtu (10/8/2019) -Foto: Henk Widi

“Pembuatan kulit ketupat dilakukan gotong royong, mengajak serta anak-anak agar bisa mempelajari tahapan dalam pembuatan kulit ketupat yang kerap digunakan saat hari raya Idulfitri serta Iduladha,” ungkap Saniman, saat ditemui Cendana News, Sabtu (10/8/2019).

Pembuatan cangkang ketupat dilakukan dua hari sebelum Lebaran Iduladha. Sebab, sehari sebelum lebaran warga sudah mulai membuat lauk berupa opor ayam serta lainnya. Tambahan lauk berupa daging kambing, sapi dan kerbau akan diperoleh dari pengurus masjid usai proses penyembelihan kurban.

Berbagai kuliner hari raya Iduladha diakuinya sudah disiapkan, karena daging kurban baru akan diperoleh saat siang, bahkan sore hari.

Setelah kulit ketupat selesai dibuat, proses mengisi cangkang dengan beras akan dikerjakan oleh wanita. Pengisian beras dilakukan beberapa jam sebelum direbus, sesuai dengan takaran menyesuaikan kulit ketupat.

Proses perebusan beras dalam cangkang membutuhkan waktu berjam-jam. Selain mempergunakan janur, sebagian warga kerap membuat ketupat dengan bungkus daun pisang atau plastik menghasilkan lontong.

Warga lain bernama Nurjanah, menyebut, tradisi membuat ketupat sebagai kuliner khas dilakukan saat Idulfitri dan Iduladha. Ketupat menjadi pengganti nasi. Ketupat disajikan dengan lauk opor ayam, rendang daging sapi, sambal ati dan ayam. Menu ketupat menjadi hidangan wajib saat silaturahmi antarkeluarga pada hari raya. Variasi lauk pauk menjadikan ketupat menjadi lebih nikmat disantap dalam suasana kebersaman.

“Kebetulan ada salah satu anggota keluarga yang sudah haji, jadi pembuatan ketupat diperbanyak untuk menyambut tamu,” ungkap Nurjanah.

Nurjanah mengartakan, kuliner yang dipadukan dengan ketupat menjadi lebih nikmat. Sebab, proses mengolah ketupat menghasilkan nasi yang lembut dan halus. Meski rasa nasi hambar, namun dengan paduan kuah opor ayam atau berbagai olahan daging kurban akan memberi sensasi nikmat saat menikmati ketupat.

Pembuatan ketupat sekaligus bisa menjadi hantaran bagi keluarga lain yang tidak sempat membuat ketupat akibat kesibukan.

Sementara itu, kebutuhan akan kulit ketupat, sekaligus menjadi berkah bagi sejumlah pedagang musiman. Santi, salah satu warga yang berjualan sayur, memilih menjual kulit ketupat. Bersama Hamdan, sang suami, membuat cangkang ketupat hingga 500 buah. Cangkang ketupat tersebut sudah dijual sejak dua hari sebelum Iduladha di pasar tradisional Bakauheni.

Satu rangkaian kulit ketupat yang sudah dibuat dijual dengan harga Rp15.000 dengan isi 10 kulit ketupat. Selain dijual, sebagian kulit ketupat sengaja digunakan untuk kebutuhan keluarganya yang akan merayakan Iduladha. Selain menjual kulit ketupat yang sudah jadi, saat berjualan sejak pagi ia juga membawa bahan janur, untuk dibuat menjadi kulit ketupat sembari menunggu pembeli.

“Hasilnya lumayan bisa mencapai ratusan ribu, sebab saya sementara berhenti berjualan sayur, karena besok banyak warga memilih memasak daging,” papar Santi.

Santi juga menyebut, selain menyediakan kulit ketupat, ia dan sejumlah pedagang lain menyediakan bunga tabur untuk keperluan ziarah. Sejumlah bunga, di antaranya flamboyan, melati, mawar dan berbagai jenis bunga lain, digunakan untuk ziarah sebelum hari raya Iduladha.

Meningkatnya permintaan akan kulit ketupat dan bunga juga diiringi dengan permintaan akan kebutuhan pokok jenis bumbu, di antaranya cabai, bawang merah, dan bawang putih.

Lihat juga...