Samsara Bali, Museum Berkonsep Kehidupan

Editor: Koko Triarko

KARANGASEM – Selama ini, museum identik dengan bagunan tua nan megah, yang di dalamnya terdapat beberapa benda antik peninggalan zaman purbakala. Namun, di salah satu desa di Kabupaten Karangasem, Bali, tepatnya di Desa Jungutan, Bebandem Karangasem, terdapat museum yang menampilkan perilaku dan tindakan manusia dalam keseharian, melalui sebuah aktivitas upacara.

Ida Bagus Made Gunawan, Co Founder Samsara Bali, menjelaskan, museum Samsara Bali ini berkonsep museum kehidupan (living museum), yang menampilkan perjalanan hidup manusia selama hidup di dunia dan pasca anusia menjalani kehidupan di dunia ini.

“Berbeda dengan museum pada umumnya yang menekankan pada benda antik peninggalan purbakala, museum Samsara ini lebih menekankan narasi. Secara detail dijelaskan terkait informasi proses kehidupan dan jenis upacaranya,” kata Ida Bagus Made Gunawan, saat ditemui, Jumat (16/8/2019) sore.

Ketut Sedana Merta selaku Kadis Pariwisata Karangasem (kiri), bersama Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bali Trisno Nugroho. di Museum Samsara, Desa Jungutan, Bebandem Karangasem, Bali, Jumat (16/8/2019). -Foto: Sultan Anshori

Menurutnya, ada dua konsep yang coba ditampilkan di museum Samsara ini, dari yang sebenarnya ada sekitar 50 ebih tahapan upacara menurut keyakinan masyarakat Hindu Bali.

Pertama, tentang Manusia Yadnya, yang menjelaskan perjalanan kehidupan manusia dan 14 step upacara. Mulai dari sejak dari janin hingga menjadi manusia dewasa dan mesangih (potong gigi yang menandakan manusia ini telah dewasa), hingga terakhir menikah dan membina keluarga.

Kedua, adalah konsep Pitra Yadnya, yaitu tahapan upacara ketika mati hingga menjalani proses reinkarnasi

“Museum Samsara ini bukan ada artefak dan benda kuno. Di museum ini kita konsep bagaimana para wisatawan diajak untuk mempelajari perjalanan kehidupan manusia sesuai dengan keyakinan masyarakat Hindu Bali,” ujar Ida Bagus Made Gunawan.

Ida Bagus Made Gunawan menambahkan, museum Samsara ini mulai dibuka secara resmi awal Maret 2019. Inisiatif untuk membuat museum ini berawal dari keprihatinan adat dan budaya jarang dipahami, terutama generasi muda.

Menurutnya, jika hal ini terus dibiarkan, mustahil 5-10 tahun ke depan ada yang mengenal budaya dan adat istiadat asli Bali ini.

Talent dan alat peraga serta penampilan di museum ini berasal dari masyarakat lokal yang ada di Desa Jungutan, Bebandem Karangasem. Mulai mereka yang memiliki kemampuan melukis, memahat, memainkan musik dan membuat minuman tradisional Karangasem Bali, yaitu arak.

Sementara untuk kesenian yang ditampilkan seperti Genjek, Tektekan, rindik gender, penting majejaitan ngoncang numbuk kerajinan perak melukis.

Untuk sementara, Ida Bagus Made Gunawan tak memberlakukan pungutan masuk ke museum secara resmi. Tetapi lebih mengarah ke sistem punia atau donasi seikhlasnya dari para pengunjung. Namun ke depan, dia berharap museum ini menjadi salah satu destinasi yang menjadi jujukan utama bagi para wisatawan, baik lokal maupun internasional.

“Ke depan, kami targetkan kunjungan wisatawan lebih banyak datang ke sini. Untuk promosi, sudah ekspansi ke beberapa media mulai dari media sosial, seperti Facebook, IG atau menyebarkan brosur kepada masyarakat,” imbuh Made Gunawan.

Sementara itu, Ketut Sedana Merta selaku Kadis Pariwisata Karangasem, sangat mengapresiasi langkah baik bagi pariwisata ini. Dirinya menegaskan, pihaknya akan terus mendorong langkah ini melalui dukungan terhadap fasilitas, kemudahan perizinan dan sebagainya, untuk mempermudah pengembangan destinasi pariwisata di Kabupaten Karangasem.

Selain itu, dengan adanya destinasi pariwisata museum Samsara ini diharapkan menjadi pioneer bagi mewujudkan Kabupaten Karangasem sebagai Kabupaten Community Based Tourism. Yaitu, di rumah sebuah keluarga para wisatawan bisa melihat secara langsung nilai budaya adat menjadi ciri khas orang Bali.

“Tentunya kami dukung hal ini. Inti masyarakat yang bergerak duluan. Kalau makin banyak ada desa wisata, kan memberikan pemahaman tentang kehidupan tradisional bukan untuk wisata modern. Ini pioneer untuk community based tourism yang berbeda dengan destinasi wisata lainnya di Bali,” kata Sedana Merta.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bali, Trisno Nugroho. Menurutnya, destinasi wisata museum Samsara Bali ini diharapkan bisa menjadi salah satu motor penggerak perekonomian di Bali, khususnya di Kabupaten Karangasem. Karena, pertumbuhan ekonomi di Karangasem pada 2018 mengalami pertumbuhan sekitar 5,6 persen.

Menurutnya, jika selama ini pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh bidang pertanian, namun belakangan ini penopang kedua didorong oleh aktivitas akomodasi makan minum (Akmamen) yang tentunya dipengaruhi oleh aktivitas kunjungan wisatawan di Kabupaten paling ujung timur di Bali ini.

“Dengan adanya museum ini, diharapkan membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karangasem. Karena pariwisata tumbuh menjadi pilar kedua pertumbuhan ekonomi di kabupaten ini. Dan, 50 persen pertumbuhan ekonomi di Bali berasal dari pariwisata,” kata Trisno Nugroho.

Dengan begitu, kata Trisno Nugroho, pembangunan ekonomi secara inklusif melalui pemerataan ekonomi yang selama ini didominasi oleh Bali selatan (Denpasar, Badung, Gianyar, Klungkung) dapat terwujud.

Menurutnya, Karangasem ini memiliki banyak potensi dan belum dieksplorasi secara menyeluruh. Sebelumnya, BI Bali sudah memiliki dua binaan, yaitu selain peternakan sapi, BI Bali juga memiliki kelompok binaan petani cabai.

Menurut mantan Kepala BI DKI, cabai menjadi komoditas utama yang sampai saat ini masih dipasok dari Jawa Timur. Karenanya, BI Bali hadir untuk melakukan pendampingan serta pembinaan bagi petani cabai di Karangasem sebagai binaan prioritas.

“Saya datang ke sini, bagus sekali. Ini unik buat wisman asing dan domestik masih orisinil, jadi community based tourism, jadi semua menikmati. Bisa jadi binaan BI sebagai desa wisata,” tandas Trisno Nugroho.

Lihat juga...