Sebanyak 85 Rumah di Sukabumi Rusak Akibat Bencana

Rumah warga yang rusak di Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat akibat getaran gempa Banten dengan magnitudo 6,9 pada Jumat, (2/8/2019). -Foto: Ant

SUKABUMI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mencatat, selama kurun waktu Januari hingga Juni 2019, jumlah rumah rusak akibat bencana di daerah tersebut mencapai 85 unit.

“Jumlah rumah yang rusak tersebut, tersebar di 23 kecamatan dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi,” kata Kepala Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, Minggu (25/8/2019).

Rumah rusak tersebut terdiri dari, rumah rusak berat sebanyak 23 unit, 56 unit rusak sedang dan enam rusak ringan. Sementara ada 93 rumah terancam. Sementara untuk kejadian bencana, tercatat ada, tujuh kejadian kebakaran, longsor 56 kejadian, banjir lima kejadian, angin puting beliung lima kejadian, dan pergerakan tanah satu kejadian. Bencana yang terjadi di kabupaten terluas di Pulau Jawa dan Bali itu, tidak hanya merusak rumah, tetapi juga fasilitas umum dan sosial lain.

Diantaranya, ada lima jembatan rusak sedang. Kemudian saluran air sebanyak tiga unit rusak berat, dan 13 saluran air rusak sedang, enam unit tempat ibadah rusak sedang, enam sekolah rusak sedang dan juga merusak jalan di sembilan titik serta 17 titik sawah atau lahan pertanian.

Jumlah kerusakan tersebut, baru direkapitulasi dalam tujuh bulan terakhir. Dipastikan, jumlahnya akan bertambah karena di Agustus 2019 ini telah terjadi gempa bumi berkekuatan 6,9 magnitudo. Gempa yang berpusat di Provinsi Banten tersebut, mengakibatkan ratusan rumah di Kabupaten Sukabumi rusak.

“Meskipun demikian, bencana yang terjadi ini tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa, hanya dua warga saja yang terluka, itu-pun luka ringan. Namun, akibat bencana ini, kerugiannya mencapai Rp4 miliar lebih,” tambahnya.

Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah di Indonesia yang paling rawan terjadi bencana. Pada musim kemarau ini bencana didominasi kebakaran dan kekeringan yang jumlahnya meningkat sejak empat bulan terakhir atau mulai April.

Mengantisipasi terjadinya bencana,  khususnya di musim kemarau ini, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran baik rumah, hutan maupun lahan. “Dan yang terpenting untuk selalu mengawasi dan memeriksa kompor dan jaringan listrik yang bisa memicu terjadinya kebakaran,” pungkas Daeng Sutisna. (Ant)

Lihat juga...