hut

Segala Sesuatu yang Menghilang

CERPEN YETTI AKA

GORIS tidak pernah berpikir kalau suatu hari akan menjadi orang yang gemar mengamati segala sesuatu yang menghilang. Dulu ia menganggap sesuatu yang hilang itu biasa saja.

Sebatang pohon yang sudah hidup puluhan tahun di pinggir jalan, tumbang, lalu lama-lama hilang tak berbekas, tanpa ada satu orang pun yang benar-benar memperhatikannya. Sepasang sepatu masa kecil, tahu-tahu tak ada lagi di dalam rak atau tempat penyimpanan—begitu pula barang-barang sejenisnya.

Binatang peliharaan mati, seekor demi seekor. Orang-orang pergi ke tempat lain, sebagian besar tidak pernah kembali. Bangunan yang pernah ada, diruntuhkan, lalu muncul gedung-gedung baru.

Tak ada yang rasanya aneh. Tak ada yang membuatnya mesti meluangkan waktu khusus untuk memikirkan semua itu.

Sampai pada satu sore, Goris sudah berumur tujuh belas tahun ketika itu, ia keluar rumah untuk pergi latihan drama di sekolah. Di gang depan rumahnya, sekelompok bocah perempuan asyik bermain lompat tali.

Salah seorang dari mereka anak tetangganya. Gadis kecil itu sering bertandang ke rumah Goris. Membaca buku-buku atau belajar menggambar. Bermain catur atau berkebun.

Di kebun, ia suka melihat kupu-kupu. Ia memang tergila-gila pada serangga itu. Bahkan ia sering meletakkan serombongan kupu-kupu di rambutnya—tentunya itu kupu-kupu mainan.

Dan di sore itu, si gadis kecil sama sekali tidak melihat ke arah Goris yang sengaja memperhatikannya. Ia asyik melompati tali yang diayunkan dua orang temannya. Selama setengah menit Goris memandanginya sambil tersenyum-senyum.

Gadis kecil itu melompati tali yang diayunkan, melayang dengan serombongan kupu-kupu di kepalanya.
Goris tidak mengira, itu kali terakhir melihatnya.

Gadis kecil itu hilang. Hilang begitu saja. Ia tidak pulang ke rumahnya pada sore itu. Ia tak pernah pulang berhari-hari setelahnya. Goris tidak tahu apa yang gadis kecil itu lakukan seusai bermain lompat tali.

Apa ia pergi ke rawa dan tenggelam di sana? Di rawa itu banyak kupu-kupu. Mana tahu ia mencari serangga itu ke sana. Namun, kata teman-temannya, gadis kecil itu tidak ke mana-mana. Mereka sangat yakin melihat gadis kecil itu pulang ke rumah.

Mereka bahkan menyaksikan sendiri ia membuka pintu rumah dan menutupnya, tak ada yang melihatnya keluar lagi dari sana.

Kepergian yang sungguh tidak disangka-sangka itu, membuat Goris berhari-hari memandang ke tempat gadis kecil itu main lompat tali. Goris memutar ulang—sampai berkali-kali—adegan gadis kecil itu melompat di udara dengan serombongan kupu-kupu di kepalanya.

Seolah-olah ia masih bermain bersama teman-temannya. Seolah-olah Goris masih memandangnya tanpa gadis kecil itu pernah tahu.

Setelah kepergian anak tetangga itulah, Goris mulai senang mengamati segala sesuatu yang menghilang. Sekecil apa pun itu.
***
LIMA belas tahun sesudah kejadian itu, di usia yang ke-32 tahun, Goris telah mengamati banyak sekali kehilangan. Ia kehilangan seluruh teman SMA setelah mereka lulus dan ia kuliah di kota lain.

Selama berbulan-bulan ia mencatat dengan cermat siapa yang paling pertama tak lagi saling berkabar dengannya dan siapa yang menyusul kemudian dan kemudian lagi. Hingga tak tersisa satu pun, tapi ia puas karena mengikuti semua proses alamiah itu dengan baik.

Hingga mereka hanya tertinggal dalam ingatannya saja; jari kakaknya terpotong saat membuat kerajinan kayu, dan waktu itu Goris sedang libur semester. Ia menemukan potongan jari kelingking kakaknya itu di antara perkakas kerjanya.

Ia menawarkan ide untuk mengawetkan kalau kakaknya bersedia, tapi kakaknya malah tidak mau bicara selama seharian dengannya. Ia pikir itu cara kakaknya menyikapi kehilangan salah satu bagian terpenting dari tubuhnya.

Seolah-olah ia marah kepada Goris, padahal sebenarnya ia kecewa dengan dirinya sendiri yang mungkin kurang hati-hati, yang mungkin selama ini tak pernah terpikir betapa pentingnya sebuah jari.

Lalu Goris menyarankan kepada kakaknya supaya dia beristirahat saja dulu sambil menunggu luka itu sembuh. Sementara Goris mengubur bagian ujung kelingking kakaknya itu di dekat pohon mawar, agar di saat berbunga satu per satu kelopak yang layu jatuh di atas kuburan ujung jari dengan kuku yang memiliki sisa kutek biru itu.

Saat Goris memasuki semester enam ia bertanya kepada ibunya di telepon dengan pertanyaan sama setiap mendapat kabar duka.

“Bagaimana rasanya tak melihat mereka lagi?”

Ibunya bilang mereka orang-orang yang baik dan tak disangka pergi terlalu cepat. Goris jadi teringat salah seorang dari mereka pernah memberinya sebuah pensil berkepala boneka jerami. Seorang lagi, meski tidak terlalu dekat, pernah membantu mengobati luka di lutut saat Goris jatuh.

Karena itu ia kembali bertanya kepada ibunya, “Bagaimana rasanya tak melihat mereka lagi?” dan ibunya tak pernah menjawab pertanyaan itu dengan tepat.

Tentu masih banyak kehilangan lain, baik yang terjadi di kota asalnya maupun di kota tempat ia kuliah dan akhirnya menetap. Semuanya ia cermati sebaik-baiknya, nyaris tanpa terlewatkan satu pun, sejauh dalam jangkauannya.
***
MALAM ini, Goris duduk di bagian kursi paling pinggir di sebuah gerbong. Ia diam-diam mengamati orang-orang yang satu per satu turun dari kereta di tiap stasiun perhentian.

Tiap melihat ada yang turun, baik berombongan maupun sendirian, Goris seolah dibawa ke dalam kenangan tentang banyak kehilangan yang terjadi dalam hidupnya.

Terutama sekali pada sebuah sore saat ia melihat gadis kecil bermain lompat tali untuk terakhir kali. Setelah itu mereka tak pernah bertemu lagi. Seperti biasa, perasaan haru memenuhi dada Goris.

Dengan cepat rasa kehilangan menguasainya dan ia bergumam begitu saja, “Oh, Tanalia.” Dan matanya dengan mudah mengeluarkan air mata.

Pengumuman tanda kereta akan segera tiba di stasiun perhentian berikutnya kembali terdengar dan mengejutkan Goris yang tengah berduka.

Ia lekas mengeringkan air di sudut mata dengan jemarinya, menegakkan punggung, dan bersiap melepas kepergian orang-orang yang akan turun dari dalam gerbong seperti yang ia lakukan selama ini.

Ia menarik napas panjang. Ia memejam sesaat, lalu membuka matanya lebar-lebar. Pandangannya fokus pada pintu kereta. Dua orang turun, satu orang, dua orang lagi, satu orang lagi…

Dan Goris yang hampir mengalihkan matanya karena ia berpikir tak ada lagi penumpang yang akan turun, mendadak terpaku, sekian detik kemudian ikut turun sebelum pintu kereta kembali menutup.

“Tanalia,” gumam Goris masih takjub memandangi serombongan kupu-kupu di kepala seorang perempuan yang berjalan terburu sejak turun dari pintu kereta.
***
“TANALIA,” gumam Goris sekali lagi. Perempuan itu berjalan di antara orang-orang yang umumnya baru pulang dari tempat kerja. Orang-orang berwajah lelah dan bau debu kota di malam hari.

Orang-orang yang akan menghilang entah ke mana, tapi Goris enggan memikirkannya untuk kali ini.

“Kau mengikutiku?” Perempuan itu tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang, memergoki Goris dengan mata mudah menangisnya.

“Tana-lia?” balas Goris tergelagap.

“Bukan,” kata perempuan itu. “Kau salah orang.”

“Kau punya banyak kupu-kupu,” kata Goris menunjuk ke kepala perempuan itu.

“Berhenti menggangguku. Kau salah orang,” kata perempuan itu, lalu cepat-cepat menjauhi Goris.
Goris terpaku memandangi kepala perempuan itu. Serombongan kupu-kupu warna-warni masih bertengger di sana. Semua sayapnya merentang lebar.

“Tanalia,” bisik Goris sendu. Gadis kecil bermain lompat tali terbayang-bayang di mata Goris yang basah. Ia bersiap kembali ke stasiun, meneruskan perjalanannya, tapi mendadak perempuan itu berbalik dan berkata, “Tanalia itu siapa?”
***
SETELAH hari itu, Goris menghilang. Tak ada yang tahu kabarnya lagi. Ia seperti tanaman kaktus yang membusuk, sampai yang tersisa hanya duri-durinya.

Atau gambar sebuah produk kesehatan yang tiba-tiba tak terlihat lagi di papan reklame di perempatan jalan, dan yang tertinggal hanya nomor telepon yang bisa dihubungi bila seseorang ingin memasang iklan di sana.

Begitulah Goris pada akhirnya.

Malam sebelum Goris menghilang, ia berdiri memandang hamparan atap yang kebanyakan berwarna cokelat dan bertanya, berapa jarak sesungguhnya antara ada dan tiba-tiba tidak ada?

Lalu ia berpikir sungguh-sungguh tentang warna atap, rumah-rumah yang bersesakan, gedung tinggi di kejauhan, mobil-mobil di jalan raya sebagai bagian dari caranya bertahan dari rasa kosong dan cemas.

Sebagai cara ia mengobati banyak kesakitan yang selama ini diterimanya dengan sebaik-baiknya tanpa pernah menunjukkan betapa ia sering berteriak dalam kesendiriannya.

Seberapa panjang malam-malam insomnia yang dilaluinya, seberapa banyak ia teringat kepada si gadis kecil penggila kupu-kupu, dan lain-lainnya.

Ia kembali bertanya: apakah di dunia ini akan ada orang yang mengingatku bila aku tak ada? Kemudian, serombongan kupu-kupu terbang ke arah Goris. Seperti sebuah parade.  Seperti prosesi penjemputan. ***

Yetti AKA, sastrawan yang tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Novel terbarunya, Basirah (2018).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!