hut

Sejarah NKRI Melekat di Pulau Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat, Tanjungpinang, peninggalan sejarah Kerajaan Melayu Riau masa Sultan Mahmud pada 1803 dan direnovasi pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada 1832 Masehi - Foto Dok CDN

TANJUNGPINANG – Sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dalam perspektif kesejarahan melekat dengan Pulau Penyengat.

“Kenapa? Alasannya sudah jelas, cikal bakal Bahasa Indonesia dari Pulau Penyengat,” tandas, Kapolres Tanjungpinang, Kepulauan Riau, AKBP Ucok Lasdin Silalahi, Sabtu (24/8/2019).

Ucok menjelaskan, sejarah merupakan aspek strategis yang harus dipertahankan. Apalagi, bila sejarah itu berhubungan dengan nilai-nilai nasionalisme. Dalam pendekatan sejarah, Pulau Penyengat memiliki peran penting dalam upaya menyatukan Indonesia, yang sebelum merdeka terdiri dari kerajaan-kerajaan.

Bahkan cikal bakal Bahasa Indonesia di Pulau Penyengat, lahir sebelum Indonesia merdeka, yakni ketika dikumandangkannya Sumpah Pemuda oleh Budi Utomo pada tahun 1928. Sumpah Pemuda menyepakati tiga hal fundamental, salah satunya menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Kala itu disepakati Bahasa Indonesia menggunakan bahasa melayu, tetapi berbeda aksen dengan Malaysia dan Singapura. Bahasa melayu yang dimaksud berasal dari bahasa melayu yang digunakan masyarakat Pulau Penyengat, dan Kota Tanjungpinang pada umumnya.

Raja Ali Haji, penulis Kitab Pedoman Bahasa Melayu, memiliki peran penting dalam lahirnya Bahasa Indonesia. Kitab ini yang pada akhirnya menjadi landasan ilmiah, untuk ditetapkan sebagai Bahasa Indonesia pada Kongres Pemuda 1928. Penulis, buku Masa Lampau bahasa Indonesia, Sebuah Bunga Rampai, Harimurti Kridalaksana mengatakan, Bahasa Indonesia merupakan salah satu ragam dari bahasa melayu. Bahasa melayu populer, karena digunakan sebagai bahasa di pemerintahan administrasi kolonial.

Perubahan menjadi bahasa Indonesia diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Raja Ali Haji yang dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2004. Raja Ali Haji bukan hanya menciptakan kitab Bahasa Melayu, melainkan juga terkenal lewat karya sastranya Gurindam Dua Belas.

“Dari jumlah penduduk, luas kawasan, memang rasanya tidak mungkin bahasa daerah dari Pulau Penyengat ini dijadikan sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia. Tetapi para pendiri bangsa memiliki pertimbangan lain, yang lebih strategis sehingga pulau yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang sedikit dijadikan tempat lahirnya Bahasa Indonesia,” ucapnya.

Pulau Penyengat dalam sejarah Kerajaan Riau, Lingga dan Pahang seharusnya tidak hanya dikenang dan dikenal, melainkan seharusnya dihormati, sebagai kawasan yang memiliki nilai strategis dalam mempersatukan Indonesia.

Nilai sejarah yang perlu dibangkitkan yakni, Pulau Penyengat sebagai kawasan pemersatu Indonesia, yang perlu digaungkan secara massif dan terus-menerus. “Ini adalah modal untuk membangun Pulau Penyengat sebagai kawasan yang maju dari berbagai aspek kehidupan, tidak hanya pariwisata,” ujarnya.

Pulau Penyengat berada di seberang Gedung Daerah, Kota Tanjungpinang. Masyarakat dan wisatawan dapat mengunjungi Pulau Penyengat dengan menggunakan perahu dari Pelabuhan Kuning, Kota Tanjungpinang, dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit. “Semangat nasionalisme harus digelorakan di pulau indah ini,” katanya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!