Sekolah Inklusi di Banyumas Capai 592

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Sejak dideklarasikan sebagai kabupaten inklusi tahun 2016 lalu, jumlah sekolah di Kabupaten Banyumas yang melayani pendidikan inklusi terus meningkat. Jika awalnya hanya ada sekitar 10 sekolah, sekarang ini jumlah sekolah inklusi sudah mencapai 592.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas, Irawati mengatakan, seluruh sekolah negeri yang dari sisi tenaga pengajar serta fasilitas sekolah memadai, diwajibkan untuk melayani pendidikan inklusi. Sehingga sekolah inklusi tidak lagi didominasi oleh sekolah swasta saja.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banyumas, Irawati, saat dijumpai Cendana News. Sabtu (31/8/2019) – Foto: Hermiana E. Effendi

“Sekarang sudah ada 592 sekolah dari tingkatan PAUD, SD/MI hingga SMP/MTs yang melayani pendidikan inklusi. Metode belajarnya, anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) berbaur dan belajar dengan siswa biasa,” terangnya, Sabtu (31/8/2019).

Lebih lanjut Irawati merinci, untuk tingkatan sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ada 30 yang melayani pendidikan inklusi, kemudian untuk tataran Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) menduduki peringkat terbanyak, yaitu ada 515 sekolah yang melayani pendidikan inklusi.

Untuk tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) ada 47 sekolah inklusi. Sekolah-sekolah tersebut diwajibkan untuk menerima anak berkebutuhan khusus dan tidak diperbolehkan untuk menolak siswa ABK.

Hanya saja, mengingat masih banyak keterbatasan pada sekolah negeri tersebut, pihak sekolah disarankan untuk berkoordinasi dengan orang tua siswa ABK. Misalnya, terkait tenaga pendamping siswa ABK, jika tenaga pengajar di sekolah terbatas, maka orang tua diminta untuk mendampingi sendiri atau menyediakan pendamping sendiri.

Namun, bagi siswa ABK yang sudah bisa mandiri, maka bisa mengikuti proses belajar sebagaimana siswa lainnya. Dan tidak diperlukan tenaga pendamping.

Meskipun jumlah sekolah inklusi sudah meningkat, namun angka putus sekolah ABK masih tetap ada. Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Kecamatan Gumelar menjadi wilayah terbanyak dimana ABK putus sekolah.

Selama tahun 2019 ini, ada tiga siswa ABK yang duduk di SD/MI di Kecamatan Gumelar yang putus sekolah. Jumlah tersebut paling besar dibanding kecamatan lain, seperti Baturaden, Ajibarang, Tambak, Wangon dan lainnya yang terdapat siswa ABK.

“Kita juga berupaya melalui UPK di wilayah untuk memasukkan ABK yang putus sekolah ke sekolah-sekolah inklusi di wilayahnya,” jelas Irawati.

Sementara itu, Plh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, H Ibnu Asaddudin mengatakan, madrasah yang sudah memiliki Surat Keputusan (SK) Dirjen sebagai madrasah inklusi ada tiga sekolah.

Yaitu MTs Al-Hidayah Purwokerto Utara, MI Salafiyah Kebarongan Kemranjen dan MTs/ MA NU 1 Sumpiuh. Dari pendataan Kankemenag Banyumas tahun 2017, ABK yang menempuh pendidikan di madrasah inklusi sebanyak 66 anak dan yang terbanyak berada di wilayah Kecamatan Sumbang.

Lihat juga...